Kamis, 28 Agustus 2014

Keajaiban oleh Salim A Fillah


Iman itu terkadang menggelisahkan.

Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur. (QS Saba’: 13).

Boyolali diawal 2014 ini Surplus Padi

Surplus beras di Boyolali mengalami peningkatan tiap tahun. Pengendalian hama dan pendayagunaan sarana pertanian menjadi kunci dalam meningkatkan produksi padi.


Kepala Badan Ketahanan Pangan Boyolali, Juwaris, Rabu (27/8) menjelaskan, produksi padi petani masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras masyarakat, yang tiap bulannya mencapai rata-rata 75 ribu ton. Bahkan berdasarkan evaluasi bulanan sampai dengan bulan Juni lalu, Boyolali surplus beras sebanyak 72.263 ton. Produksi padi di Boyolali cukup produktif, sebab petani di Boyolali mampu melakukan tiga kali masa tanam dalam setahun. 

"Dari januari sampai Oktober, tiap bulannya petani selalu melakukan panen. Surplus teringgi terjadi pada bulan Juni lalu, yakni sebanyak 25 ribu ton," terang Juwaris. 
 
Sementara untuk evaluasi tahunan, surplus beras di Boyolali mengalami peningkatan. Tercatat surplus produksi beras mengalami peningkatan, dari hanya sebesar 24 ribu ton pada tahun 2011 menjadi 55 ribu ton pada pada 2013 lalu. Sedang pada tahun 2014 ini, diperkirakan Boyolali mampu surplus beras sebanyak 60 ribu ton. 

"Jumlah tersebut didapat dari rata-rata produksi padi bulanan dikurangi rata-rata konsumsi per bulan, termasuk di bulan November dan Desember, dimana petani tak melakukan panen padi," jelasnya.

Peningkatan surplus beras tersebut. Imbuhnya, karena keberhasilan dalam sarana produksi, yakni pengendalian hama dan keterbatasan tenaga yang ditutup dengan mesin. 

Meski begitu, Juwaris tak memungkiri masih ada permasalahan, utamanya dalam pola tanam petani. Di wilayah Banyudono misalnya, potensi serangan hama wereng sangat tinggi. Hal itu disebabkan pola tanam antar petak yang berbeda-beda, sehingga wereng selalu punya ekosistem untuk berkembang biak. Sulitnya menerapkan pola tanam serempak disebabkan petani menanam padi di lahan sewa. Sehingga sehabis panen, lahan langsung ditanami kembali tak menunggu yang lain.


Masya Allah, Ada warung khusus dhuafa yang tidak punya uang


Mengutip kabar yang ramai di media sosial sejak Rabu (20/8/2014), ternyata di negara kita sudah ada warung khusus 'wong cilik' fakir miskin dan kaum dhuafa.


Dalam pemberitaan itu, dikatakan bahwa bila kita tidak punya uang untuk makan, silakan mampir ke warung tersebut. Pengunjung boleh mengaajak istri, suami, anak, tetangga, teman, atau siapa saja yang membutuhkan makan, tetapi terkendala uang.


“Silakan, pesan menu apa saja yg kita mau, dan tersedia di situ. Tak akan dimintai bayaran sepeserpun,” ungkap status di halaman Facebook, pada Rabu (20/8).


“Atau jika kita punya uang, apakah itu seribu perak, duaribu perak, silakan.. masukkan uang tsb ke tempat yg sudah disediakan. Semuanya akan dilayani dg sepenuh hati,” tambahnya.



Pengunjung tidak perlu khawatir. Menu masakannya cukup beragam. Ada ayam opor, nasi megono, telur bacem, telur ceplok, sampai daging rendang.



Buka setiap hari, Warung Shodaqoh beroperasi mulai pukul 06.00-09.00 WIB, yang berlokasi di Alun-alun Kota Pekalongan.



Setiap hari, banyak saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai tukang becak, kuli panggul, pengemis, dan sebagainya, makan disana.



Warung tersebut dibuka dan dibiayai oleh seseorang yang mengaku sebagai ‘Hamba Allah’. Tujuannya, untuk membantu orang-orang yang kekurangan. Ia jg ingin mengembalikan fungsi alun-alun sebagai tempat favoritnya rakyat kecil. Dengan begitu, rakyat kecil bisa ikut menikmati makanan murah bahkan gratis di kawasan alun-alun. Maasyaa Allah.



Tentu ini juga sekaligus menyentil orang-orang kaya, para pejabat, atau siapapun, untuk ikut terketuk hatinya membantu orang-orang miskin. Semoga jiwa dermawan pendiri Warung Shodaqoh menginspirasi kita untuk selalu berbagi kepada sesama yang membutuhkan. 

Wonosegoro Terima Raskin Terbanyak di Boyolali

Diukur dari jumlah rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM) penerima bantuan beras untuk keluarga miskin (Raskin), dari 19 kecamatan di Boyolali, Kecamatan Wonosegoro menjadi wilayah yang penduduknya menerima paling banyak, yakni sebanyak  14.250 dari sebanyak 64.166 RTSPM se-Boyolali. Kondisi geografis Wonosegoro yang kering dan gersang, menjadi menjadi sebab populasi warga miskin paling tinggi di Boyolali.
Kasi pertanian Setda Boyolali, Rudianto, Kamis (28/08/2014) mengatakan, sebagian besar wilayah Wonosegoro kurang cocok menjadi lahan pertanian, terlebih selama ini, petani di wilayah tersebut hanya mengandalkan air tadah hujan untuk kebutuhan irigasi. Akibatnya, banyak penduduk di Wonosegoro yang masuk dalam kriteria RTSPM.
Kondisi tersebut berbanding dengan Kecamatan Sawit kondisi geografis Kecamatan Sawit, yang tercatat sebagai wilayah yang penduduknya paling sedikit menerima bantuan raskin. Yakni hanya sebanyak 1.621 RTSPM saja. Sedikitnya RTSPM di kecamatan tersebut karena kondisi lahan oertanian yang subur, serta sistem irigasi yang berjalan baik karena ketersediaan sumber air sepanjang tahun.

“Di Sawit, petani mampu menanam lahan pertanian seperti padi tiga tahun sekali. Sehingga tingkat kesejahteraan di Sawit cukup bagus,” ucap Rudianto.

Sementara terkait distribusi atau penyaluran raskin sampai saat ini, berdasar evaluasi di tingkat Bakorwil, Boyolali termasuk dalam kategori cukup bagus. Belum ada pengaduan dari pihak penerima raskin, baik pengaduan atas kualitas beras atau sistem penyaluran yang buruk.
Diterangkannya, sistem penyaluran raskin kepada RTSPM yakni dengan sistem cash and carrie. Artinya, penerima harus membayar dulu sebesar Rp 1.600 untuk mendapatkan satu kilo beras premium senilai Rp 6.600. Jadi penerima raskin mendapat subsidi per kilo sebanyak Rp 5.000. Sedang untuk tahun ini, jumlah total raskin yang disalurkan kepada penerima sebanyak 962.490 kilogram.
“Penerima raskin dilarang menjual beras yang yang didapatnya. Jika ketahuan, mereka akan dicoret dari daftar RTSPM,” ucap Rusdianto mengakhiri.

Janji Jokowi JK Selama Kampanye 2014

Tak ada bulan madu dalam pemerintahan baru Jokowi - JK. Pasalnya, mata rakyat kini tertuju pada pasangan Presiden - Wakil Presiden yang telah dikukuhkan MK itu.
Semua rakyat mengingat dan merekam dengan baik semua janji Jokowi. Semua janji itu bertebaran di media massa dan mudah diakses. Sehingga mudah bagi semua rakyat untuk mengakses dan menagih janji Jokowi bila Jokowi - JK mengingkari atau tak menepati janji-janji kampanye mereka.

"Setidaknya ada dua janji yang diiklan luas di koran nasional dan ini tercatat di memori publik," ujar peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Ruli Akbar, di Jakarta, Kamis (28/8/2014).

Jokowi harus menepati janji - janji yang telah dibuatnya ketika berkampanye sebagai Presiden. Berikut janji - janji Jokowi - JK :
1. Membuktikan dan merealisasikan janji-janji dalam visi-misi
2. Tidak berada di bawah bayang-bayang Megawati
3. Menyusun kabinet yang ramping dan diisi oleh profesional
4. Penerapan e-Government
5. Pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 7 persen (mengembalikan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen)
6. Tanggal 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional
7. Mendukung kemerdekaan dan mendirikan KBRI di Palestina
8. Membeli kembali Indosat


Janji kampanye khusus di bidang pertanian:
9. Program kepemilikan tanah pertanian untuk 4,5 juta kepala keluarga 
10. Pembangunan/perbaikan irigasi di 3 juta hektare (ha) sawah
11. Pembangunan 25 bendungan
12. Menyediakan 1 juta ha lahan pertanian baru di luar Jawa 
13. Pendirian bank petani 
14. Penguatan Bulog
15. Menyejahterakan kehidupan petani
16. Mengelola persediaan pupuk dan menjaga harga tetap murah


Janji kampanye khusus di bidang kelautan:
17. Membangun pusat pelelangan, penyimpanan dan pengolahan ikan
18. Membangun industri maritim
19. Menyederhanakan regulasi perikanan
20. Mempermudah nelayan mendapatkan Solar sebagai bahan bakar kapal dengan mendirikan SPBU khusus


Janji kampanye khusus di bidang perdagangan:
21. Menurunkan harga sembako
22. Perbaikan 5.000 pasar tradisional
23. Menghentikan impor daging

Janji kampanye khusus di bidang infrastruktur:
24. Menyediakan fasilitas air bersih untuk seluruh rakyat
25. Mewujudkan tol laut Aceh-Papua
26. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, listrik, irigasi, dan pelabuhan


Janji kampanye khusus di bidang energi:
27. Menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM)


Janji kampanye khusus di bidang UKM dan ekonomi kreatif:
28. Bantuan dana Rp 10 juta per tahun untuk UMKM/koperasi
29. Mendorong, memperkuat dan mempromosikan industri kreatif dan digital sebagai salah satu upaya mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.

Janji kampanye khusus di bidang kesra:
30. Meningkatkan kualitas dan kuantitas program raskin
31. Meningkatkan anggaran penanggulangan kemiskinan termasuk memberi subsidi Rp1 juta per bulan untuk keluarga pra sejahtera sepanjang pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen
32. Alokasi Rp 1,4 miliar untuk setiap desa 


Janji kampanye khusus di bidang kesehatan:
33. Layanan kesehatan gratis rawat inap/rawat jalan dengan Kartu Indonesia Sehat
34. Membangun 6.000 puskesmas dengan fasilitas rawat inap 

Janji kampanye khusus di bidang ketenagakerjaan:
35. Memperhatikan permasalahan outsourcing
36. Meningkatkan profesionalisme, menaikkan gaji dan kesejahteraan PNS, TNI dan Polri
37. Menjadikan perangkat desa sebagai pegawai negeri sipil (PNS)
38. Menurunkan pengangguran dengan menciptakan 10 juta lapangan kerja baru selama lima tahun
39. Menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan di sektor pertanian, perikanan, dan manufaktur


Janji kampanye khusus di bidang pertahanan:
40. Meningkatkan 3 kali lipat anggaran pertahanan
41. Drone untuk ketahanan nasional