Tampilkan postingan dengan label Remaja dan Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja dan Edukasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 April 2017

Listrik Padam, Peserta UNBK di Boyolali ini Histeris

Jalannya ujian nasional berbasis komputer (UNBK) untuk SMK di hari kedua, Selasa (4/4/2017), sempat diwarnai kepanikan. Pasalnya, jaringan listrik PLN tiba-tiba padam hingga siang bahkan hampir sore hari. Dari 40 SMK yang melangsungkan UNBK, hanya SMK yang berada di wilayah Kecamatan Wonosegoro, Juwango, dan Kemusu yang tidak mengalami gangguan.
Informasi yang dihimpun Joglosemar, listrik PLN padam sekitar pukul 11.00 WIB, saat ribuan siswa SMK tengah mengerjakan soal. Matinya aliran listrik dikarenakan adanya gangguan di dua gardu induk yang menyebabkan hampir seluruh wilayah Boyolali mati lampu. Padamnya aliran listrik membuat para siswa panik lantaran komputer mereka mati.

Salah satunya yang terjadi di SMKN 1 Boyolali. Salah satu siswa, Iswanto, langsung kaget dan panik karena pada saat itu dirinya baru mengerjakan 15 soal. Menurutnya, rekan-reka satu ruangannya pun sama-sama histeris. “Semua langsung menjerit,” ujar Iswanto yang ikut jadwal ujian gelombang kedua.
Untung saja pihak sekolah sudah menyiapkan genset untuk antisipasi listrik padam. Meski demikian, konsentrasi para siswa terlanjur terganggu. Beruntung, ternyata jawaban soal yang sudah dikerjakan tersimpan sehingga siswa tak harus mengulangi kembali.
Siswa lainnya, Putri Nofitasari, juga mengaku sempat panik karena tidak menyangka komputer yang dihadapnya tiba-tiba mati. Dia takut waktu untuk mengerjakan soal habis lantaran terpotong lamanya listrik padam. “Kan butuh waktu untuk menyalakan komputernya dan harus login lagi,” kata dia.
Sementara itu listrik sempat menyala kembali sekitar pukul 12. 15 WIB. Namun listrik kembali padam sekitar pukul 14.15 WIB. Waka Sarpras dan SDM, SMKN 1 Boyolali, Brahmanto, mengatakan sejak awal pihaknya sudah mengantisipasi pemadaman listrik dengan menyiapkan genset. “Memang ada jeda untuk penggantian sumber daya, tetapi hanya sekitar 5-10 menit saja,” terang dia.
Terpisah, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Boyolali, Kasiswo, mengatakan hampir seluruh sekolah terganggu akibat padamnya listrik saat UNBK berlangsung itu. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlalu mengganggu lantaran hampir seluruh sekolah sudah menyiapkan genset.

Jumat, 17 Februari 2017

Bisa Sengsara sangat seketika Kita Salah Pilih Teman dan Pemimpin

Ada peribahasa Arab yang pantas disimak:
إن الطيورعلى أشكالها تقع
Sesungguhnya burung-burung itu hinggap dan bergerombol pada sesamanya. Pepatah itu digunakan untuk manusia yang serupa dalam prilaku dan keyakinan. Komunis dengan Komunis, Islam dengan Islam. Aliran kiri dengan yang kiri, aliran kanan dengan yang kanan.

Lantas, antek syiah, asing, dan asiong ya dengan mereka yang dianteki. Dan mereka di akherat akan dikumpulkan dengan orang yang dicintainya itu, menurut Hadits.
( الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ ) متفق عليه
“Seseorang bersama orang yang dia cintai” (Muttafaq ‘alaih)
Ust Ahmad Zainuddin dalam tulisannya di dakwahsunnah.com mengutip Kitab Tuhfatul Ahwadzi, ringkasan penjelasannya sebagai berikut:
Di dalam hadits ini terdapat motivasi (untuk berteman dengan orang shalih-pent) dan peringatan keras (untuk tidak berteman dengan orang tidak shalih-pent), di dalam hadits ini terdapat janji yang baik (bagi yang berteman dengan orang shalih-pent) dan ancaman siksa (bagi yang berteman dengan orang tidak shalih-pent)
Kawanku …
· Jangan sampai di hari kiamat kita seperti apa yang disebutkan di dalam ayat di bawah ini akibat Menjadikan Idola Yang Tidak Pantas Untuk Diidolakan, Baik Karena Kekafirannya, Kesyirikannya, Kebid’ahannya Maupun Maksiatnya!!!.
{يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67)} [الأحزاب: 66، 67]
Artinya: “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” QS. Al Ahzab: 66-67.
Setelah kita tahu ayatnya dan haditsnya seperti tersebut, maka perlu berhati-hati. Jangan sampai kita termasuk orang yang mencintai para perusak Islam. Karena kelak di akherat, bila mencintai musuh-musuh Islam maka akan dikumpulkan bersama mereka.
Kecintaan kepada mereka yang menjauhi Allah Ta’ala itu terbentuk akibat salah manusia sendiri. Salah dalam memilih teman, memilih pergaulan, memilih sekolahan untuk belajar, memilih suami/isteri, memilih perkumpulan, entah itu forum, grup, ormas, kelompok ini dan itu. Bahkan ketika yang dipilih sehari-harinya untuk menjadi bahan bacaan, media yang dibaca, dikunjungi, dilihat, didengarkan dan diresapi adalah media yang menjauhi Allah Ta’ala, bahkan memusuhiNya; maka kecintaannya tentu saja kepada manusia-manusia pendosa (walau mungkin tampaknya anggun, sopan, menarik, dan bahkan diusung oleh media-media yang sejatinya menipu manusia namun tak terasa).
Akibat dari salah pilih dalam kehidupan manusia itu sendiri, tahu-tahu teman-temannya, bacaannya, media yang diikutinya, bahkan pemandu hidup yang diikuti fahamnya ternyata hanya menjerumuskan ke arah menjauhi petunjuk Allah Ta’ala. Maka tidak malu-malu sebagian (banyak?) manusia justru sampai menjadi antek-antek kesesatan bahkan pengusungnya.
Padahal, sesuai dengan ayat dan hadits tersebut di atas, manusia-manusia yang kini mengantek ke syiah, komunis, asing, dan asiong ya akan berkumpul lagi kelak di akherat bersama mereka.
Sengsara mencit (puncak sengsara) lah akibatnya di akherat kelak. Karena hidup sekali saja untuk mengantek kepada mereka, bukan menghamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tinggallah penyesalan yang tiada berakhir. Dan di dalam neraka, mereka hanya mengandaikan kehidupan di dunia yang telah dijalani. Andai saja mereka ketika hidup di dunia menggunakan akalnya dan pendengarannya dengan baik untuk mengikuti petunjuk Allah Ta’ala (ayat-ayat dan hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam) maka tidak menjadi penghuni neraka.
{وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (10) فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ } [الملك: 10، 11]
10. Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”
11. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala [Al Mulk,10-11]
Itulah akibat salah pilih dalam pergaulan di dunia ini. Hingga salah pilih dalam memilih teman, pemimpin, jalan hidup dan aneka rangkaiannya. Hingga menjadi penghuni neraka di akherat, dan tiada tebusan yang bisa untuk menebusnya. Penyesalan pun tiada guna. Na’udzubillahi min dzalik. Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.

Kamis, 12 Januari 2017

Ini...Cara Keluarga Kami Memandang Nilai Akademis

“Abi… aku nggak mau remidi,” Miqdad merajuk. Meskipun dapat nilai 100 untuk lima pelajaran, PKN tema 3 hanya dapat nilai 71.
Anak kedua kami ini tak mau masuk sekolah untuk remidi di saat banyak temannya libur.

Segera kami ajak dialog. Saya dan istri berusaha menenangkannya, bahwa remidi itu biasa. Masuknya juga cuma sebentar. Malah asyik bisa bertemu teman-teman di sekolah.

“Miqdad tidak perlu remidi karena nilainya sudah di atas 70,” kabar dari sekolah itu membuatnya tersenyum. Ia pun bebas beraktifitas di rumah sejak Sabtu lalu.
“Abi… hafalanku kurang cepat. Teman-teman sangat cepat,” Nida, anak pertama kami, melaporkan perkembangan tahfizh-nya.
Saya dan istri memahamkan bahwa menghafal tidak harus cepat-cepat. Yang penting berusaha dan berdoa. Allah yang akan memberikan pertolongan-Nya. Padahal hafalan saya juga tidak sebanyak Nida yang sudah 20 juz.
“Juara 1 dari banat, Nida’us Salma kelas 7B,” pengumuman dari atas panggung Ajang Kreasi dan Apresiasi Siswa SMPIT Al Ibrah itu mengejutkan saya. Nida berhasil meraih juara 1 Musabaqah Hifzhil Quran dari banat.
“Kemarin Nida sempat ragu-ragu, alhamdulillah ternyata juara. Hafalan Nida sebenarnya sangat cepat namun kadang kurang fokus,” kata Ustazah menjelaskan saat saya mengambil raport Nida.
***
Alhamdulillah… kami tidak pernah khawatir dengan prestasi akademis anak-anak. Kami pun tidak pernah menuntut mereka menjadi juara kelas di bidang akademik.
Sewaktu sekolah, saya hampir selalu menjadi juara kelas, bahkan sekolah. SD dan SMP selalu ranking satu. Mewakili SD di ajang siswa teladan di tingkat kecamatan dan mewakili SMP di ajang siswa teladan tingkat kabupaten. Juga mendapatkan beberapa beasiswa.
Saat SMA, mungkin mulai menjadi titik balik. Berprestasi di bidang akademis ternyata menyisakan kebingungan. Saya mendapat nilai-nilai bagus dalam teori, namun skill saya rendah.
Ketika di perguruan tinggi, pertanyaan serupa juga membayangi. Apa yang bisa saya lakukan dengan nilai bagus? Alhamdulillah kemudian saya mulai fokus ke skill. Dengan landasan karakter yang timbuh di atas iman, tentu saja.
SMA, saya mulai mendalami agama. Lalu berkembang cukup baik saat kuliah dengan masuk ma’had. Mungkin itu cara Allah menanamkan karakter berbasis iman.
Skill sosial banyak saya dapatkan ketika aktif di sejumlah organisasi di kampus. Sedangkan skill profesi banyak saya dapatkan -di samping yang basic di perkuliahan- melalui membaca, pelatihan dan eksperimen. Alhamdulillah Allah memudahkan belajar cepat.
Belajar dari pengalaman itu, kami tidak pernah menuntut anak-anak menjadi juara akademis. Kami lebih suka anak-anak belajar dengan enjoy. Menikmati setiap proses perkembangan dan pertumbuhan.
Bukan berarti nilai akademis tidak penting. Namun kami menanamkan bahwa nilai akademis bukan segala-galanya. bersamadakwah

Selasa, 10 Januari 2017

Jangan Bedakan Guru Madrasah dan Guru Sekolah Umum

Nasib madrasah di negeri ini memang masih memprihatinkan. Tak hanya soal sarana fisik sekolah, bahkan tunjangan bagi para pendidik di madrasah pun tidak sama bila dibandingkan dengan sekolah umum.
ilustrasi
“Jutaan siswa sekolah tingkat SD-SMA di Indonesia tidak semua tertampung di sekolah umum baik negeri dan swasta. Sebagian dari anak bangsa peserta didik ini ditampung di madrasah, maka kita harus ingat bahwa madrasah adalah bagian dari pengerak sistem pendidikan Indonesia, sehingga mereka tak boleh dibeda-bedakan haknya dalam hal menerima tunjangan.” Kata Ledia Hanifa Amaliah, anggota Komisi VIII DPR RI.
Terkait hal tersebut Ledia menguraikan lebih lanjut, guru madrasah pun berhak atas tunjangan kinerja daerah sebagaimana yang diterima oleh guru di sekolah umum.

“Kalau daerah bisa menganggarkan TKD bagi pendidik disekolah umum, hal yang sama layak diberikan kepada guru madrasah. Mereka sama berjuang bagi pendidikan anak bangsa, memberikan baktinya untuk mendampingi generasi penerus dalam tahun-tahun sekolah. Jangan biarkan ada kesenjangan antar sesama pendidik yang berdampak pada kesenjangan kesejahteraan mereka,” kata aleg FPKS ini pula.
 Secara khusus Ledia menyoroti DKI Jakarta yang bisa memberikan TKD cukup besar bagi para guru sekolah umum, antara 3 hingga 5 jutaan rupiah  yang kabarnya masih akan  ditingkatkan lagi di tahun-tahun mendatang.
“DKI itu punya APBD besar, terbesar bahkan se-Indonesia, tapi nasib guru madrasahnya masih memprihatinkan karena tak tersentuh anggaran TKD. Itu sebabnya salah satu program unggulan Anies-Sandi kan memberikan TKD ini termasuk para guru madrasah.” Kata Ledia menjelaskan program dari cagub cawagub DKI Jakarta yang diusung partainya, PKS.
Ledia mengingatkan bahwa Undang-undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003 menyamakan kedudukan jenjang pendidikan umum, agama, negeri dan swasta.  “Jangan lagi ada ketidakadilan dalam hal menyediakan kesejahteraan bagi para guru. ” pungkasnya.

Selasa, 06 Desember 2016

Sebuah Renungan : Menjadi Raja Sehari

Oleh: Maulana Mustofa
KONON ada sebuah Kerajaan yang sangat aman, rakyatnya makmur dan sentosa. Raja ini selalu memperhatikan dan mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Sang Raja selalu berkeliling negeri untuk melihat langsung kondisi rakyatnya.
Suatu saat, sang Raja mendengar rintihan seorang pemuda yang kelaparan. Si Ibu dengan suara lemah mengatakan kepada anaknya bahwa dia sudah tidak memiliki lagi persediaan makanan. Raja terkejut di negerinya ada rakyatnya yang kelaparan.

Sang Raja berpikir sebentar. Kemudian dia membuat sebuah kesempatan untuk Sang pemuda. Dia memerintahkan prajuritnya. untuk secara diam-diam membawa sang anak ke istana ketika dia tidur, malam itu juga.
Ketika Pemuda itu tidur, secara diam-diam beberapa Prajurit membawa pemuda tanpa sepengatahuan siapapun termasuk pemuda itu sendiri.
Raja ingin memberikan jabatannya sebagai Raja selama sehari untuk si pemuda tersebut.Diaingin tahu apa yang akan dilakuakn si Pemuda.
Pagi harinya ketika terbangun dari tidurnya si anak heran, dimanakah dia berada? Segera beberapa pembantu istana menjelaskan bahwa dia saat ini di istana kerajaan dan diangkat menjadi Raja.
Para Pembantu istana sibuk melayaninya. Sementara itu di tempat terpisah si ibu kebingungan dan cemas karena dia mendapati anaknya hilang dari rumahnya. Di carinya kemana-mana tapi sang anak pujaan hati tetap tak ditemukannya.
Siang harinya sambil menangis dan bercucuran air mata si ibu pergi ke istana Raja untuk meminta bantuan mencari anaknya ke pelosok negeri. Di gerbang istana si ibu tertahan oleh Para Penjaga istana dan tidak diizinkan untuk bertemu dengan Raja.
Namun demikian, seorang Penjaga itu masuk ke dalam dan memberi tahu kepada Sang Raja baru (Pemuda) bahwa di luar istana ada seorang ibu tua lusuh dan kelaparan yang sedang mencari anaknya yang hilang. Sang Raja kemudian memerintahkan untuk mensedekahkan satu karung beras kepada ibu tua miskin tersebut.

Malam harinya Sang Raja baru itu tidur kembali di kamarnya yang megah dan mewah. Tengah malam, Sang Raja yang asli dengan para Pembantunya secara diam-diam kembali memindahkan pemuda yang sedang tidur lelap itu kembali ke rumah ibunya.
Esok pagi si ibu sangat gembira karena telah menemukan kembali anaknya yang hilang kemarin.
Sebaliknya si Pemuda heran kenapa dia ada di sini kembali. Si ibu bercerita bahwa kemarin dia mencarinya kesana-kemari hingga pergi ke istana untuk minta bantuan, dan pulangnya dia diberi oleh Raja sekarung beras. Si Anak segera menyadari bahwa dialah kemarin yang memberi sekarung beras itu.
Kemudian bergegas dia pergi ke istana dan menghadap Raja, dengan lugu dia minta diangkat kembali menjadi raja. Walau cuma sehari. Sang Raja segera menolak dengan mengatakan bahwa kesempatannya menjadi raja sudah habis.
Si Pemuda tetap memohon, sambil menghiba-hiba Pemuda itu minta hanya sejam saja bahkan beberapa menit saja, tetapi Sang Raja tetap menolak.
Sang Pemuda pulang dengan hati penuh penyesalan.Kenapa dia sangat kikir dulu, seandainya dia dermawan maka tidak hanya sekarung beras yang dia kirim tetapi mungkin berton-ton beras yang dia kirim.
Itulah analogi kehidupan kita sekarang. Kelak di akhirat banyak yang menyesal. Mereka tidak pernah beramal untuk akhirat. Mereka tidak pernah mengirim beras (pahala) yang banyak untuk kampung akhirat mereka.
Mereka meminta kesempatan untuk kembali ke dunia, agar bisa beramal sebaik mungkin… Tapi, itu tidak mungkin… karena hidup hanya sekali.
Maka, mari kita optimalkan kehidupan didunia ini yang hanya sekali, Karena kita tidak tau kapan ajal menjemput kita. Bisa saja, hari ini adalah hari terakhir kita…
Orang Kaya Mati… Orang Miskin MatiRaja Raja Mati… Orang biasa matiDunia yang dicari, takkan dibawa mati

Jumat, 25 November 2016

Patut dicontoh, Siswa SD Muhammadiyah PK Banyudono peduli terhadap Rohingya

Siswa-siswi SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono, Boyolali menggalang dana untuk korban bencana kemanusiaan yakni etnis Rohingya di Myanmar, Jumat (25/11/2016).
Aksi yang bertepatan dengan peringatan Hari Guru ke-71 tersebut digelar untuk menumbuhkan kepekaan jiwa sosial siswa-siswi sejak dini.
Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujinono, mengatakan sedikitnya 291 siswa-siswi berperan aktif dalam aksi penggalangan dana kemanusiaan itu. Dana yang terhimpun, lantas disalurkan ke lembaga amil zakat Muhammadiyah.
“Ini bentuk keprihatinan kami dalam menyambut hari guru. Meski dana yang terhimpun tak seberapa, namun pesan yang ingin kami
sampaikan ialah bahwa jiwa kepedulian sosial itu adalah ciri bangsa kita ini,” ujarnya, Jumat.

Sebelum aksi penggalangan dana, terlebih dahulu digelar upacara penganugerahan kepada guru dan karyawan teladan. Para guru yang paling teladan dan terajin menerima anugerah agar bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya dan para murid. slopos

Rabu, 23 November 2016

English Camp 2016 pertama di Boyolali sesak dengan 380 Pelajar

Dahuni Foundation dan Disdikpora Boyolali menggelar English Camp 2016 dengan peserta 380 pelajar SMA/SMK se-Boyolali di di halaman Pendapa Alit Rumah Dinas Bupati selama lima hari, mulai tanggal 21 sd. 25 Nopember 2016.
Kegiatan ini bertujuan mendukung dan memotivasi pelajar untuk sekolah ke luar negeri.
Yayasan yang bergerak di bidang pemberian beasiswa pendidikan luar negeri bagi anak berprestasi dari kalangan tidak mampu itu berbasis di Inggris.
Menurut Bupati, kegiatan ini sejalan dengan program seperti duta seni pelajar ke berbagai negara setiap tahunnya.
Selain itu dapat program beasiswa pendidikan ke Master Birminghams University mulai tahun 2017, menyusul program beasiswa ke Nanjing University.

“Peserta English Camp ini diharapkan bisa ikut summer camp atau mendampingi duta seni yang dikirim ke berbagai negara,”.
Sementara itu, Founder & Director Dahuni Foundation, Riyani Indriyati mengatakan, para pelajar diberikan suasana yang berbeda dan sangat menyenangkan untuk belajar berbahasa Inggris.
Salah satunya yakni dengan mendirikan tenda-tenda sebagai tempat belajar dan menghadirkan sejumlah mentor orang asing, dua di antaranya dari Swedia yang menjadi mahasiswa UGM.

Senin, 07 November 2016

Sebanyak 2256 Siswa Ikuti Kemah Ukhuwah Wilayah VII JSIT Jateng

 Sebanyak 2256 siswa dari 56 Sekolah Islam Terpadu (SIT) se Jawa Tengah mengikuti kemah ukhuwah wilayah ke VII Jateng pada Sabtu (5/11/2016) hingga Selasa (8/11/2016) mendatang di lapangan Tembak Akademi Militer, Salaman, Kabupaten Magelang.
Pembukaan dengan pemukulan gong oleh Prof. Dr. Ir. S. Budi Prayitno, M.Sc
Ketua panitia Kemah Ukhuwah Wilayah VII Jateng, Ahmad Setiadi, sebagaimana di kutip dari Jowonews.com menyatakan bahwa tujuan diadakan kemah wilayah ini salah satunya untuk menyatukan barisan, mewujudkan generasi muda yang gigih, dan bertekad kuat membangun negeri.
“Tujuan diadakannya perkemahan wilayah ke 7 yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, menumbuhkan rasa persaudaraan sejati, menggalang persatuan, dan meningkatkan jiwa patriotisme, serta membina karakter mulia bagi generasi muda agar memiliki peran membangun negeri,” jelasnya.
Senada dengan Ahmad, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jateng, Budi Prayitno dalam amanatnya berharap kepada para peserta untuk meningkatkan kualitas diri, memperkaya wawasan, pengetahuan, dan keterampilan.
“Tambahlah pertemanan dan memperkuat ikatan persaudaraan antar kalian, berkompetisilah secara sehat dan sportif. Pendidikan pramuka menggunakan metode berkompetisi, bukan beradu dalam rangka mengetahui sejauh mana kemampuan diri sesuai syarat kecakapan tingkat keanggotaannya,”paparnya.
Agenda ini sendiri digelar satuan Komunitas Pramuka Sekolah Islam Terpadu (SAKO-Pramuka SIT) Jateng dengan tema “Dari Pramuka SIT (Sekolah Islam Terpadu) untuk Indonesia.”
Upacara pembukaan ini dimeriahkan dengan penampilan drumband SDIT Zaid bin Tsabit Kabupaten Magelang dan atraksi pencak silat Setia Hati Teratai SMAIT Ihsanul Fikri Kabupaten Magelang. Selesai upacara pembukaan tamu undangan diajak berkeliling lokasi bumi perkemahan dengan mengendarai Andong.
Berbagai perlombaan dalam rangkaian ini akan digelar, diantaranya meliputi bidang keagamaan (Hafalan Al Qur’an, Cerdas Cermat Al Qur’an, Cerdas Cermat Sejarah Islam, Kaligrafi), Kepramukaan (Peraturan Baris Berbaris, membuat dragbar dan menara, semaphore, dan penjelajahan), Ketangkasan (memanah), dan Umum (tenda dan kreasi gapura)

Wakil Ketua DPRD Boyolali Tugiman Dukung Pemkab Anggarkan Beasiswa Rp20 Miliar, Namun.....?

Wakil Ketua DPRD Boyolali, Tugiman B. Semita, mendukung rencana Pemkab Boyolali terkait alokasi anggaran beasiswa pendidikan tinggi senilai Rp 20 miliar.
Alokasi anggaran ini tidak bisa dikontradiksikan dengan rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) di Boyolali kaitannya dengan pendidikan dasar.


“Memang, IPM di Boyolali masih sangat rendah, terutama yang berkaitan dengan pendidikan dasar. Namun, masalah rendahnya IPM ini, saya yakin bukan karena masalah anggaran. Pendidikan dasar sudah mendapatkan alokasi anggaran yang luar biasa besar baik dari daerah, provinsi, maupun pusat, tinggal bagaimana Disdikpora memaksimalkan anggaran itu,” kata Tugiman.


Dia sepakat adanya alokasi anggaran untuk pendidikan tinggi karena saat ini sudah memasuki era globalisasi yang memaksa daerah-daerah bersaing ketat. Dukungan APBD untuk merangsang masyarakatnya berpendidikan tinggi tetap diperlukan untuk menghadapi pasar bebas.

Harapannya muncul SDM yang smart, unggul, dan kompetitif. “Memang menurut saya tidak harus kuliah di luar negeri, di dalam negeri di universitas yang bagus kan juga tidak masalah.”

Tugiman mengatakan Disdikpora Boyolali harus mencermati data BPS tentang IPM tersebut. Mestinya data itu menjadi acuan khususnya untuk memperbaiki pengelolaan pendidikan dasar.

Menurut dia, daerah-daerah pinggiran seperti Selo dan Boyolali wilayah utara menyumbang cukup signifikan terhadap rendahnya IPM. “Ini kaitannya dengan kemiskinan, pembangunan infrastruktur yang belum merata, bahkan struktur sosial masyarakat. Banyak sekali kasus pernikahan dini di daerah-daerah tersebut. Baru lulus SD, SMP sudah disuruh menikah, sudah disuruh kerja,” ujar dia. solopos

Rabu, 05 Oktober 2016

Cita-cita Pengembalian Ekosistem, Sungai Di Boyolali Akan Direstorasi

Upaya memulihkan ekosistem dan pengelolaan sungai berbasis mitigasi bencana akan digalakkan di sungai-sungai yang mengalir di wilayah Boyolali dengan gerakan restorasi sungai.

Hal itu terpapar dalam kegiatan Pembentukan dan Pengembangan Komunitas Sungai yang digagas Sekolah Sungai Boyolali dengan dukungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Rabu (28/9). Agung Nugroho, relawan dari Sekolah Sungai menjelaskan, restorasi sungai akan dilakukan antara lain di Kali Gede, Kali Sungsang, serta Kali Pepe yang bermuara di Bengawan Solo dan menjadi salah satu pemicu banjir di sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.

Pengembalian ekosistem sungai di wilayah Boyolali dirasa penting, sebab sungai tersebut menjadi hulu bagi sungai-sungai lain di wilayah dataran yang lebih rendah. Gerakan bisa dimulai dengan hal yang sederhana, semisal penanaman pohon serta tak membuang sampah di sekitar sungai.
"Untuk restorasi ini perlu dibentuk komunitas dan relawan sungai yang akan menjadi motor penggerak program," katanya.
Selain untuk mitigasi bencana, gerakan ini juga akan mendorong pemanfaatan wilayah aliran sungai untuk kegiatan positif, semisal untuk wisata dna penelitian. Menurut Agung, Kali Code di Yogyakarta bisa menjadi contoh dalam penataan sungai dan wilayah sekitarnya, termasuk dalam aspek kebersihan dan sebagainya.
"Di Boyolali sebenarnya banyak sungai yang bisa dimanfaatkan untuk aspek wisata atau kegiatan lainnya, namun belum dimaksimalkan," imbuhnya

Selasa, 20 September 2016

Disdikpora Boyolali bagikan Kuisioner : 34 SMA/SMK Tolak Full Day School

Program full day school yang digagas pemerintah mendapat penolakan puluhan sekolah tingkat SMA di Boyolali. Penolakan itu diketahui setelah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Boyolali menyebar kuesioner kepada 75 SMA/SMK yang ada di Boyolali. 


Hasilnya, dari kuesioner yang berisi tiga pertanyaan sederhana terkait program tersebut, sebanyak 34 SMA/SMK yang menyatakan penolakan. Demikian dibenarkan Sekretaris Disdikpora Boyolali, Darmanto, dikutip dari joglosemar.
“Sebanyak 34 sekolah yang menolak, 18 yang menerima, dan 23 sekolah lainnya menyatakan abstain,” ungkap Darmanto

Selasa, 17 Mei 2016

Hmm... Cakepnya Siti Ashari Pemenang Puteri Muslimah 2016, Ini Profilnya

Ajang pemilihan kecantikan Puteri Muslimah telah memilih Puteri Muslimah Indonesia 2016. Ajang tersebut menobatkan Siti Ashari sebagai pemenang dalam malam penganugerahan yang berlangsung diJakarta Barat, Rabu 11 Mei 2016

Ajang Puteri Muslimah Indonesia bukanlah hal baru bagi Siti Ashari. Pada ajang serupa di tahun 2015 lalu, Siti Ashari sempat berada pada top 3 dan gagal berlaga di Jakarta. Enggak pernah menyangka, karena di tahun lalu pernah coba. Tapi cuma top 3 dan enggak dikirim ke Jakarta,” ungkapnya selepas acara berlangsung.



Perempuan yang akrab disapa Sari ini menggantikan Puteri Muslimah 2015 Nesa Aqila. Sari sudah cukup akrab dengan dunia panggung, bahkan dirinya tengah meniti karir di layar lebar dengan membintangi film berjudul Maha Cinta Laila yang merupakan film lokal Minang dimana seluruh pemainnya berdarah Minang.
Sehari-harinya, Sari yang memiliki tinggi 172 cm ini menekuni bidang desain dan menjadi model majalah.sebagimana dilansir aktualita..
Setelah Menang, perempuan yang akrab disapa Shari itu pun berencana menyisihkan hadiah uang Rp 50 juta yang didapat untuk kegiatan sosial. Disamping ditambung sebagai bekal menuntaskan studinya di Fakultas Kedokteran gigi.
"Insha Allah akan saya tabung. Jadi buat persiapan saya tamat dokter gigi nanti. Nanti saya akan pakai juga buat kegiatan yang baik, sosialisasi. Jadi bukan buat saya sendiri," tegassnya.

Biodata Siti Ashari

Nama Lengkap : Siti Ashari
Tempat/Tanggal Lahir  : Sumatera Barat, 25 April 1993
Prestasi Lainnya :
Finalis Puteri Hijab 2015
Uni Sawahlunto 2015
Puteri Muslimah 2016
Pendidikan :
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas

Minggu, 01 Mei 2016

Antisipasi Konvoi, Pengunguman Kelulusan di Boyolali Disampaikan Lewat Pos

Antisipasi konvoi siswa saat pengunguman kelulusan sekolah hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMA sederajat Sabtu (07/05/2016) besok, metode pengunguman akan dilakukan dengan menggunakan jasa pos. Dengan metode tersebut, hasil pengunguman langsung dikirimkan ke rumah masing-masing siswa.
Menurut Abdul Rahman,Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Boyolali, sebagaimana dikutip dari Kr Jogja “Kan alamat masing-masing siswa sudah jelas, jadi kalau hasil pengunguman dikirimkan langusng ke rumah masing-masing siswa dinilai efektif untuk mencegah konvoi,” Ujarnya

Selain itu, penyerahan hasil kelulusan pada orang tua siswa diharapkan dilangsungkan sore hari karena akan mengurangi kesempatan siswa merayakan kelulusan dengan cara yang negatif. Diketahui dalam UN tingkat SMA sederajat di Boyolali tahun ini diikuti sebanyak 9.989 siswa, terdiri dari 32 SMA, 11 MA, dan 39 SMK. Separuh lebih dari siswa tersebut mengikuti UN berbasis komputer yang dilangsungkan di 17 sekolah, yakni di 6 SMA dan 11 SMK.

Selasa, 19 Januari 2016

Jangan Tertipu dengan Popularitas jika Menjadi Pemimpin

Setiap akhir tahun, sebagian besar kampus mengadakan PEMIRA atau biasa disebut Pekan Pemilihan Raya. Walaupun tiap kampus berbeda namanya. Namun demikian, ini menjadi ajang sejumlah organisasi untuk mempercantik para kader-kadernya. Tujuannya tak lain untuk mencari dukungan berbagai pihak agar mereka para kader terpilih baik menjadi ketua BEM Universitas, Fakultas maupun jurusan.

Bicara PEMIRA, banyak hal yang harus diperhatikan agar ajang ini tidak dimanfaatkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Mereka mengambil kesempatan ini untuk menjual diri agar mendapat dukungan penuh dari mahasiswa. Sehingga, ia bisa melangkah menjadi pemimpin dan tentu akan berkuasa sesuai misinya.

Dalam Islam, tentu sudah diatur bagaimana seseorang untuk maju menjadi pemimpin. Sejatinya, tugas seorang pemimpin amatlah berat dan penuh tanggung jawab. Bukan hanya dunia, namun akhirat pun akan dimintai pertanggung jawaban. Beruntunglah para pemimpin yang amanah terhadap tugasnya. Sungguh Allah Maha Melihat segala sesuatu yang dilakukan hamba-Nya.

Mengemis menjadi pemimpin tentu tidak baik dalam Islam. Dikisahkan dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata suatu ketika Rosulullah SAW bersabda kepadanya : “Wahai Abdurrahman, janganlah meminta jabatan pemimpin, sebab jika diserahinya karena meminta maka semua menjadi tanggung jawabmu, dan sekiranya kamu diserahinya tanpa meminta maka kamu akan dibantu untuk menunaikannya…” (HR. Muslim ). Sungguh pertanggung jawaban itu akan membawamu pada dua hal, yaitu menuju surga atau malah terjerembab dalam neraka. Naudzubillah


Sahabat, menjadi pemimpin bukanlah masalah popularitas dan selalu tampil di depan public. Menjadi pemimpin adalah tugas kita semua. Karena, tiap diri kita adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Mengaktualisasi menjadi pemimpin butuh banyak proses yang dijalani dan belajar terus menerus. Proses menjadi pemimpin dimulai ketika kita mengenal Tuhan kita. Kita penuhi hak dan kewajiban kita sebagai hamba-Nya. Lantas mulai menerapkan perbaikan diri tiap harinya agar terus menjadi lebih baik dan menjadi insan yang bertaqwa. Tentu Rosulullah mengajarkan kita menerapkan 4 hal, yaitu shiddiq, tabligh, amanah serta fatonah. Dengan demikian, pemimpin dalam Islam menjadi rahmatan lil alamin untuk semua makhluk-Nya.

Urgensi memilih pemimpin yang baik agamanya menjadi landasan utama agar tercipta kehidupan madani. Terutama untuk kampus, ini menjadi tombak awal segala bentuk kebijakan yang nantinya akan dirasakan ketika mulai dipimpin. Tentu pemimpin bukan hanya soal janji dan konsep yang cantik, Namun diperlukan aksi nyata untuk mewujudkan. Karena janji tanpa aksi hanya akan tersisa omong kosong. Jika demikian, apalah arti dari kampanye yang telah dibuat olehnya?

Dari sini kita tahu, bahwa sebagai mahasiswa bukan lagi asal memilih dan ikut sana sini. Namun, harus berpikir kritis terhadap calon-calon pemimpinnya. Karena pilihan kita sangat berarti, dan menjadi awal berhasil atau tidaknya para pemimpin Dewan Eksekutif Mahasiswa untuk berjuang dan bukan sekadar janji biasa.

dakwatuna

Jangan Tertipu dengan Popularitas jika Menjadi Pemimpin

Setiap akhir tahun, sebagian besar kampus mengadakan PEMIRA atau biasa disebut Pekan Pemilihan Raya. Walaupun tiap kampus berbeda namanya. Namun demikian, ini menjadi ajang sejumlah organisasi untuk mempercantik para kader-kadernya. Tujuannya tak lain untuk mencari dukungan berbagai pihak agar mereka para kader terpilih baik menjadi ketua BEM Universitas, Fakultas maupun jurusan.


Bicara PEMIRA, banyak hal yang harus diperhatikan agar ajang ini tidak dimanfaatkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Mereka mengambil kesempatan ini untuk menjual diri agar mendapat dukungan penuh dari mahasiswa. Sehingga, ia bisa melangkah menjadi pemimpin dan tentu akan berkuasa sesuai misinya.

Dalam Islam, tentu sudah diatur bagaimana seseorang untuk maju menjadi pemimpin. Sejatinya, tugas seorang pemimpin amatlah berat dan penuh tanggung jawab. Bukan hanya dunia, namun akhirat pun akan dimintai pertanggung jawaban. Beruntunglah para pemimpin yang amanah terhadap tugasnya. Sungguh Allah Maha Melihat segala sesuatu yang dilakukan hamba-Nya.

Mengemis menjadi pemimpin tentu tidak baik dalam Islam. Dikisahkan dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata suatu ketika Rosulullah SAW bersabda kepadanya : “Wahai Abdurrahman, janganlah meminta jabatan pemimpin, sebab jika diserahinya karena meminta maka semua menjadi tanggung jawabmu, dan sekiranya kamu diserahinya tanpa meminta maka kamu akan dibantu untuk menunaikannya…” (HR. Muslim ). Sungguh pertanggung jawaban itu akan membawamu pada dua hal, yaitu menuju surga atau malah terjerembab dalam neraka. Naudzubillah

Minggu, 05 Juli 2015

Bella Almira Jadi Juara Sunsilk Hijab Hunt 2015


Setelah ketiga juri utama, Dian Pelangi, Dewi Sandra, dan Desy Ratnasari berunding untuk menentukan juara Sunsilk Hijab Hunt 2015, kini saatnya pengumuman. Selamat, Bella Almira selaku finalis asal Jakarta berhasil meraih juara pertama Sunsilk Hijab Hunt. Gadis 17 tahun itu berhasil meluluhkan hati ketiga juri serta masyarakat Indonesia karena voting untuknya termasuk yang tertinggi.
Bella berhak membawa pulang paket umrah gratis serta uang senilai Rp 50 juta. Selain itu, ia juga berpeluang untuk menjadi talent Trans7. Ketika pengumuman, Bella langsung sujud syukur dan menangis terharu karena tak menyangka bisa menduduki posisi teratas.

Sementara di peringkat kedua, Ninda Putri Laili juga mendapatkan paket umrah gratis serta uang tunai sebesar Rp 20 juta. Sedangkan di posisi ketiga adalah Devi Handayani yang juga berhak pergi umrah dan membawa pulang uang tunai sebesar Rp 10 juta. Ada pula juara favorit yang ditempati oleh finalis asal Medan, Sabrina Cyndi Azhari Pasaribu.

Hadiah pun diberikan langsung oleh Ibu Anita Tanjung dan ketiga juri yang hadir hari ini. Piala pun diberikan langsung oleh Menteri Perindustrian, Saleh Husin. Mereka berharap para pemenang bisa menginspirasi muslimah muda lainnya untuk terus berkarya.

"Saya harap mereka bisa menjadi contoh yang baik untuk muslimah muda lainnya bahwa dengan hijab kita masih bisa berkarya," papar Desy.

Rabu, 17 Juni 2015

Remaja : Bolehkah Wanita Memakai Pakaian Berwarna Warni?

Sebagian orang menganggap bahwa wanita muslimah hanya boleh memakai pakaian hitam atau gelap saja. Kadang mereka merendahkan para muslimah yang memakai pakaian berwarna selain gelap, betapa pun jilbabnya dan baju kurungnya begitu lebar dan panjang sempurna, dan mereka tetap menjaga diri dan kehormatannya. 

Seolah wanita-wanita ini kurang shalihah dan ‘iffah hanya karena masalah warna pakaiannya. Sikap tersebut adalah ghuluw (berlebihan) dan tidak benar, serta bertentangan dengan fakta sejarah yang dilalui wanita-wanita terbaik umat ini pada masa awal Islam. Muslimah berpakaian warna hitam dan gelap, memang umum dipakai oleh wanita pada masa dulu, dan masa kini disebagian negara, tentunya ini memiliki keutamaan, tetapi mereka tidak terlarang memakai pakaian berwarna selain hitam dan gelap, seperti hijau, kuning, dan bermotif.



Sebelum kami sampaikan dalil-dalil, akan kami sampaikan sebuah ulasan bagus dari seorang ulama, yakni Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah, katanya:

“Sesungguhnya pembuat syariat tidaklah membatasi warna tertentu bagi pakaian laki-laki dan pakaian wanita. Kadar perhiasan yang serasi pada pakaian tunduk pada tradisi kaum muslimin pada setiap negara. Dapat dimaklumi dan disaksikan pasa sekarang ini, dan di semua masa, bahwa hiasan atau warna yang berlaku di antara wanita mukmin pada umumnya dapat diterima oleh ulama mereka di suatu tempat, mungkin terasa aneh bagi kaum muslimin di tempat lain, dan mungkin mereka malah mengingkarinya. Sebagaimana warna dan model berbeda dari satu masa ke masa lain di satu daerah. Benarlah kata Imam Ath Thabari yang mengatakan, “… Sesungguhnya menjaga model zaman termasuk muru’ah (harga diri) selama tidak mengandung dosa dan menyelisihi model serupa dalam rangka mencari ketenaran.” (Fathul Bari, 12/424)

Berikut ini akan kami sampaikan beberapa atsar yang tsaabit (kuat) tentang para shahabiyah yang memakai pakaian dengan beragam warna.

Riwayat pertama: Warna merah

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، أَنَّهُ كَانَ يَدْخُلُ مَعَ عَلْقَمَةَ، وَالْأَسْوَدِ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَيَرَاهُنَّ فِي اللُّحُفِ الْحُمْرِ»، قَالَ: وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ لَا يَرَى بِالْمُعَصْفَرِ بَأْسًا
Berkata kepada kami Abu Bakar, katanya: berkata kepada kami ‘Abbad bin Al ‘Awwam, dari Sa’id, dari Abu Ma’syar, dari Ibrahim (An Nakha’i, pen), bahwa dia bersama ‘Alqamah dan Al Aswad menemui istri-istri Nabi ﷺ: mereka berdua melihat istri-istri nabi memakai mantel berwarna merah. Ibrahim An Nakha’i berpendapat tidak apa-apa pula memakai celupan ‘ushfur (warnanya merah, pen). (Imam Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 24739)

Mujahid berkata:
أَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرَوْنَ بَأْسًا بِالْحُمْرَةِ لِلنِّسَاءِ
Mereka (para sahabat nabi) tidak mempermasalahkan wanita memakai warna merah. (Ibid, No. 24740)

Ibnu Abi Malikah berkata:
رَأَيْتُ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ دِرْعًا، وَمِلْحَفَةً مُصَبَّغَتَيْنِ بِالْعُصْفُرِ
Aku melihat Ummu Salamah (Istri nabi) memakai baju pelindung dan mantel yang keduanya dicelup dengan ‘ushfur (warnanya merah). (Ibid No. 24741)

Al Qasim (cucu Abu Bakar Ash Shiddiq) berkata:
أَنَّ عَائِشَةَ، كَانَتْ تَلْبَسُ الثِّيَابَ الْمُعَصْفَرَةَ، وَهِيَ مُحْرِمَةٌ
Bahwasanya, Aisyah dahulu memakai pakaian hasil celupan ‘ushfur dan saat itu dia sedang ihram. (Ibid, No. 24742. Juga oleh Imam Al Bukhari dalam Shahihnya secara mu’allaq, 2/137. Al Hafizh mengatakan: sanadnya shahih. Fathul Bari, 3/405. Juga Al Qasthalani dalam Irsyad As Sari, 3/111)

Fathimah binti Mundzir berkata:
أَنَّ أَسْمَاءَ كَانَتْ تَلْبَسُ الْمُعَصْفَرَ، وَهِيَ مُحْرِمَةٌ

Bahwa Asma dahulu memakai pakaian yang tercelup ‘ushfur dan dia sedang ihram. (Ibid, No. 24745)
Sa’id bin Jubair bercerita:
أَنَّهُ رَأَى بَعْضَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ مُعَصْفَرَةٌ
Dia melihat sebagian istri Nabiﷺ thawaf di ka’bah sambil memakai pakaian yang tercelup ‘ushfur. (Ibid, No. 24748)

Perlu diketahui, bahwa pakaian jika dicelup oleh pewarna ‘ushfur (sejenis tanaman) maka biasanya dominannya adalah merah. Berkata Al Hafizh Ibnu hajar:
فَإِنَّ غَالِب مَا يُصْبَغ بِالْعُصْفُرِ يَكُون أَحْمَر
Sesungguhnya apa saja yang dicelupkan ke dalam ‘ushfur maka dominasi warnanya adalah menjadi merah. (Fathul Bari, 10/305. Darul Ma’rifah, Beirut). Seperti ini juga dikatakan oleh Imam Asy Syaukani. (Nailul Authar, 2/110)

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan kebolehan memakai warna merah bagi wanita muslimah. Bahkan itu dipakai juga oleh istri-istri Nabi ﷺ seperti Ummu Salamah dan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anhuma, dan ketahui oleh laki-laki yang bukan mahram mereka, bahkan ‘Aisyah dan Asma Radhiallahu ‘Anhuma memakainya ketika di luar rumah yakni ketika ihram.

Riwayat kedua: Warna hijau

Dari ‘Ikrimah:
أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ، فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ القُرَظِيُّ، قَالَتْ عَائِشَةُ: وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ، فَشَكَتْ إِلَيْهَا وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا، فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا، قَالَتْ عَائِشَةُ: مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى المُؤْمِنَاتُ؟ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَا.
Sesungguhnya Rifa’ah menceraikan istrinya, lalu mantan istrinya itu dinikahi oleh Abdurrahman bin Az Zubair Al Qurazhi. ‘Aisyah berkata: “Dia memakai kerudung berwarna hijau,” dia mengadu kepada ‘Aisyah dan terlihat warna hijau pada kulitnya. Ketika datang Rasulullah ﷺ saat itu kaum wanita sedang saling membantu di antara mereka. ‘Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat seperti apa yang dialami para kaum mu’minah, sungguh kulitnya lebih hijau (karena luntur, pen) dibanding pakaian yang dipakainya.” (HR. Bukhari No. 5825)
Kisah shahih ini menunjukkan kebolehan memakai warna hijau, dan ini pun juga diketahui oleh Nabi ﷺ.

Riwayat ketiga: kombinasi hitam dan merah

Sakinah berkata:
دَخَلْتُ مَعَ أَبِي عَلَى عَائِشَةَ فَرَأَيْتُ عَلَيْهَا دِرْعًا أَحْمَرَ، وَخِمَارًا أَسْوَدَ
Aku dan ayahku menjumpai ‘Aisyah, aku melihat ‘Aisyah memakai baju pelindung berwarna merah, dan kerudungnya berwarna hitam. (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf , No. 24748)

Riwayat keempat: motif warna warni

عَنْ أُمِّ خَالِدٍ بِنْتِ خَالِدٍ: أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثِيَابٍ فِيهَا خَمِيصَةٌ سَوْدَاءُ صَغِيرَةٌ، فَقَالَ: «مَنْ تَرَوْنَ أَنْ نَكْسُوَ هَذِهِ» فَسَكَتَ القَوْمُ، قَالَ: «ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ» فَأُتِيَ بِهَا تُحْمَلُ، فَأَخَذَ الخَمِيصَةَ بِيَدِهِ فَأَلْبَسَهَا، وَقَالَ: «أَبْلِي وَأَخْلِقِي» وَكَانَ فِيهَا عَلَمٌ أَخْضَرُ أَوْ أَصْفَرُ
Dari Ummu Khalid binti Khalid: didatangkan ke Nabi ﷺ pakaian yang terdapat motif berwarna hitam kecil-kecil. Nabi bersabda: “Menurut kalian siapa yang pantas memakai pakaian ini?” Mereka terdiam. Beliau bersabda: “Panggilkan kepadaku Ummu Khalid.” Lalu didatangkan Ummu Khalid dan dia dibopong. Lalu Nabi ﷺ mengambil pakaian itu dengan tangannya sendiri dan memakaikan ke Ummu Khalid, lalu bersabda: “Pakailah ini sampai rusak.” Dan, pakaian tesebut juga terdapat corak berwarna hijau dan kuning. (HR. Bukhari No. 5823)

Kisah ini begitu jelas bolehnya muslimah memakai pakaian kombinasi beberapa warna atau bermotif warna warni, di sebutkan beragam warna motif, hitam, hijau, dan kuning. Bahkan Nabi ﷺ sendiri yang memakaikannya kepada Ummu Khalid. Jika ini terlarang pastilah Nabi ﷺ akan mencegahnya tapi justru Beliau yang memakaikannya sendiri. Wallahu A’lam

Berkata Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah Rahimahullah:
Sesungguhnya keserasian dalam perhiasan yang menghiasi pakaian, tidaklah menarik perhatian laki-laki, dan tidak disifati dengan tabarruj, karena tabarruj adalah apabila wanita mempertontonkan kecantikan dan keindahan dirinya sehingga dapat membangkitkan syahwat laki-laki. Ada pun jika pakaian memiliki pakaian yang indah tetapi tidak mencolok, dan dalam model yang indah tapi tidak menarik perhatian, maka model dan warna seperti ini dikenal dan dominan di kalangan muslimah. Semua itu tidak membangkitkan syahwat laki-laki, baik dari niat si wanita maupun dari pengaruh yang disebabkan oleh warna dan model pakaian-pakaian yang beraneka ragam. 

Ini merupakan perkara yang dapat disaksikan di beberapa negara Islam. Satu model dengan banyak warna tampak pada mala’ah Sudan dan pada pakaian wanita di perkampungan Siria. Sedangkan macam-macam warna dengan beragam model, tampak pada pakaian para mahasiswi yang sopan di kampus-kampus Mesir dan Kuwait. Kebanyakan mereka memakai pakaian dengan bermacam warna dan model, tetapi tetap terjaga oleh kesucian dan pemeliharaan diri, sehingga mereka dihormati dan dihargai. (Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 4, Hal. 352. GIP, Jakarta) Wallahu a’lam.