Senin, 18 Januari 2016

Sampah TPA Winong, Boyolali Akan dijadikan Sumber Energi

Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Sumberdaya Mineral (DPU ESDM) Boyolali berencana memanfaatkan sampah di Tempat pembuangan akhir (TPA) Winong untuk dikonversi menjadi energi menggunakan sistem sanitary landfill. 

Kabid Cipta Karya DPU ESDM Boyolali, Arif Gunarto, Senin (18/1) memaparkan, pihaknya berencana menerapkan konsep waste to energy, yakni dari sampah yang tak berguna dan hanya menjadi sumber pencemaran lingkungan untuk dimanfaatkan sebagai sumber penghasil energi dengan sistem sanitary landfill untuk memproduksi gas metana dari sampah. Cara pengelolaan sampah tersebut dinilai cukup tepat untuk mengurangi dampak negatif penumpukan sampah di TPA.

"TPA yang hanya menimbun sampah saja tanpa dimanfaatkan kurang memberikan dampak positif ke masyarakat dan lingkungan," terangnya.

Berdasar dari penelitian awal, dengan volume sampah yang masuk ke TPA seluas 3,7 hektare tersebut mencapai sedikitnya sebanyak 100 meter kubik per hari, perkiraan produksi gas metana yang dihasilkan dengan sistem sanitary landfill dari pemanfaatan sampah cukup tinggi untuk dikonversi menjadi sumber energi, semisal energi listrik. 

"Kami telah berkoordinasi dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Boyolali untuk merealisasikan produksi gas metana yang berasal dari sampah," ujarnya. 
Sebagai tahap awal realisasi rencana tersebut, pihaknya akan menyiapkan instalasi secara bertahap untuk rencana konversi energi tersebut, semisal penyediaan alat pencacah atau pemilah sampah. Para pemulung di TPA juga telah dilatih untuk memilah-milah berbagai jenis sampah, semisal sampah organik dan an-organik serta jenis sampah apa saja yang bisa didaur ulang.

Selain rancana pemanfaatan sampah di TPA Winong, pihaknya juga akan meningkatkan fungsi TPA Karanggede yang luasanya mencapai 5.000 meter persegi agar mampu menampung sampah utamanya dari wilayah Boyolali utara, seperti wilayah sekitar Kecamatan Klego, Andong, Wonosegoro, dan Kemusu. 


Kr

Kamis, 14 Januari 2016

Dakwah Adalah Cinta yang Bergelora

Oleh Ustadz Al Yusni

Peristiwa ini terjadi pada 1941. Di kota Qina di wilayah Sha’id, diselenggarakan acara penyambutan kedatangan Hasan Al Banna yang baru saja dipindahkan Dewan Tinggi Militer ke sana.

Para pemuda pramuka yang menyelenggarakan acara tersebut sangat terkejut saat Hasan Al Banna, sambil bersalaman dengan hangat, menyebut nama-nama mereka dengan tepat; seperti orang yang telah kenal sebelumnya.

Mungkin jika yang bertemu dengan Hasan Al Banna itu orang-orang yang percaya mitos seperti layaknya kejawen, mereka akan menganggap Hasan Al Banna memiliki ilmu laduni. Tapi ini para pemuda Mesir yang rasional dan telah tersentuh pembinaan Islam. Sebagian dari mereka pun kemudian bertanya bagaimana Hasan Al Banna tahu nama-nama mereka.

Taukah Kamu Klo Dakwah Adalah Cinta yang Bergelora ?

Oleh Ustadz Al Yusni

Peristiwa ini terjadi pada 1941. Di kota Qina di wilayah Sha’id, diselenggarakan acara penyambutan kedatangan Hasan Al Banna yang baru saja dipindahkan Dewan Tinggi Militer ke sana.

Para pemuda pramuka yang menyelenggarakan acara tersebut sangat terkejut saat Hasan Al Banna, sambil bersalaman dengan hangat, menyebut nama-nama mereka dengan tepat; seperti orang yang telah kenal sebelumnya.

Mungkin jika yang bertemu dengan Hasan Al Banna itu orang-orang yang percaya mitos seperti layaknya kejawen, mereka akan menganggap Hasan Al Banna memiliki ilmu laduni. Tapi ini para pemuda Mesir yang rasional dan telah tersentuh pembinaan Islam. Sebagian dari mereka pun kemudian bertanya bagaimana Hasan Al Banna tahu nama-nama mereka.
“Ketika saya menandatangani kartu anggota pramuka,” kata Hasan Al Banna mengungkap rahasianya, “saya menghafal nama yang tertera dan raut wajahnya.”


Subhaanallah… ada dua hal yang luar biasa di sini.

Pertama, kesungguhan Hasan Al Banna dalam dakwah hingga menghafal nama dan raut wajah dalam kartu anggota pramuka.

Kedua, kejeniusan Hasan Al Banna dalam menghafalkan nama yang hanya butuh waktu sekilas saja.

Dua hal luar biasa, namun cukup satu penjelasannya; karena bagi Hasan Al Banna, dakwah adalah cinta.

Ketika dakwah dimaknai sebagai cinta, maka segala potensi dan kemampuan akan dikerahkan untuk keberhasilannya. Ketika dakwah diartikan sebagai cinta, maka segala langkah dan upaya akan ditempuh untuk kemenangannya

OTT Politisi PDIP Damayanti Wisnu Putranti, KPK: Ada Komitmen Fee Senilai 404 Dolar Singapura



Jakarta. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Raharjo mengungkapkan adanya komitmen fee sejumlah 404 dolar Singapura dari Direktur Utama PT Windu Tunggal Utama Abdul Khoir untuk anggota Komisi V DPR RI Damayanti Wisnu Putranti.

Komitmen tersebut, lanjut Agus, akan diterima Damayanti bisa anggota DPR yang juga kader PDIP itu bersama anggota Komisi V lainnya berhasil menggiring anggaran proyek di Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (KemenPUPR) yang sedang dibahas di Parlemen.

Demam Berdarah Merebak di Boyolali

Sejak masuk Tahun 2016, setiap hari hampir selalu ada anak penderita demam berdarah dengue (DBD) yang masuk bangsal anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandan Arang, Boyolali. Keterlambatan identifikasi fase penyakit DBD menjadi salah satu penyebab jatuhnya korban meninggal dunia serangan DBD.

Dokter anak RSUD Boyolali, Nur Alifah, Kamis (14/1) menjelaskan, sejak awal bulan Januari hingga Rabu (13/1) kemarin, tercatat sebanyak 12 anak penderita DBD dirawat di bangsal anak RSUD. ‎Sementara untuk jumlah anak penderita DBD yang meninggal dalam periode yang sama sebanyak 2 anak. Jumlah penderita serta korban meninggal tahun ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu dalam periode yang sama.

Namun dari 12 anak yang saat ini dirawat, saat ini semuanya dalam kondisi kesehatan mereka sudah baik. Fase kritis mereka telah terlewati. "Saban hari selalu ada anak yang masuk ke RSUD karena DBD," terang Alifah.

Dipaparkannya, anak penderita DBD ‎yang masuk ke RSUD kebanyakan sudah dalam kondisi menderita fase berat atau kritis yang pertolongan medisnya cukup sulit disebabkan keterlambatan dalam mengidentifikasi fase awal anak yang terserang DBD. Sementara rentang usia yang paling rawan menderita DBD hingga fase kritis adalah anak di usia 3 sampai 5 tahun. Selain keterlambatan identifikasi, daya tahan tubuh balita juga masih lemah. Sebab tak semua infeksi virus dengue menyebabkan DB yang berat. Dua faktor tersebut diperkirakan menjadi penyebab adanya dua kasus balita yangmeninggal akibat DBD beberapa waktu lalu.


"Rumah sakit biasanya menerima penderita DBD yang kondisinya sudah fase kritis dan unpredictable. Mungkin hal itu disebabkan kekurangtahuan dalam mengidentifikasi penyakit DBD dalam fase awal," tambahnya.

Alifah berujar, anak-anak penderita DBD yang dirawat di RSUD kebanyakan berasal dari wilayah Boyolali utara seperti Kecamatan Kemusu, Karanggede, Nogosari, dan Simo.

Demam Berdarah Merebak di Boyolali

Sejak masuk Tahun 2016, setiap hari hampir selalu ada anak penderita demam berdarah dengue (DBD) yang masuk bangsal anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandan Arang, Boyolali. Keterlambatan identifikasi fase penyakit DBD menjadi salah satu penyebab jatuhnya korban meninggal dunia serangan DBD.

Dokter anak RSUD Boyolali, Nur Alifah, Kamis (14/1) menjelaskan, sejak awal bulan Januari hingga Rabu (13/1) kemarin, tercatat sebanyak 12 anak penderita DBD dirawat di bangsal anak RSUD. ‎Sementara untuk jumlah anak penderita DBD yang meninggal dalam periode yang sama sebanyak 2 anak. Jumlah penderita serta korban meninggal tahun ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu dalam periode yang sama.

Namun dari 12 anak yang saat ini dirawat, saat ini semuanya dalam kondisi kesehatan mereka sudah baik. Fase kritis mereka telah terlewati. "Saban hari selalu ada anak yang masuk ke RSUD karena DBD," terang Alifah.

Dipaparkannya, anak penderita DBD ‎yang masuk ke RSUD kebanyakan sudah dalam kondisi menderita fase berat atau kritis yang pertolongan medisnya cukup sulit disebabkan keterlambatan dalam mengidentifikasi fase awal anak yang terserang DBD. Sementara rentang usia yang paling rawan menderita DBD hingga fase kritis adalah anak di usia 3 sampai 5 tahun. Selain keterlambatan identifikasi, daya tahan tubuh balita juga masih lemah. Sebab tak semua infeksi virus dengue menyebabkan DB yang berat. Dua faktor tersebut diperkirakan menjadi penyebab adanya dua kasus balita yangmeninggal akibat DBD beberapa waktu lalu.


"Rumah sakit biasanya menerima penderita DBD yang kondisinya sudah fase kritis dan unpredictable. Mungkin hal itu disebabkan kekurangtahuan dalam mengidentifikasi penyakit DBD dalam fase awal," tambahnya.

Alifah berujar, anak-anak penderita DBD yang dirawat di RSUD kebanyakan berasal dari wilayah Boyolali utara seperti Kecamatan Kemusu, Karanggede, Nogosari, dan Simo.

Kabid Pengendalian Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Ahmad Muzayin sebelumnya mengatakan, merebaknya virus dengue yang dibawa nyamuk diperkirakan akan berlangsung hingga Maret mendatang sesuai dengan kondisi cuaca. Untuk mencegah bertambahnya korban jatuh akibat DBD, masyarakat diimbau mengenali fase serangan  DBD yang prosesnya seperti pelana kuda. jangan sampai penderita baru mendapat perawatan medis saat sudah masuk fase kritis.


Kr

Abdul Kharis: Kinerja Menristekdikti Memprihatinkan

Wakil Ketua Komisi X DPR DR. Abdul Kharis Almasyhari membuat catatan khusus terkait dengan Kinerja Akhir tahun 2015 bagi Kementerian Riset ,Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), hampir sebagian besar masih mengecewakan.

Wakil Ketua Komisi X asal Solo ini mengaku kecewa dengan serapan anggaran Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Pasalnya, hingga 30 November 2015 anggaran baru terserap 61,95 persen, sedangkan target sampai akhir tahun sekitar 85,52 persen yang tentunya jauh dari program Presiden Jokowi yang menargetkan diatas 90%. Penyerapan anggaran secara maksimal untuk tahun anggaran 2015, dirasa masih terlalu jauh.
Selain itu Menristekdikti di tahun anggaran 2016, dalam laporan yang dipaparkan , tidak terlihat adanya alokasi pos anggaran, sehingga, sulit untuk mengukur target setiap pos anggaran.

“Jika kita bicara anggaran 2016, semua pos penempatan anggaran, harus jelas. Ini terus terang saja, kita kecewa dan prihatin, dalam lampiran laporan yang disampaikan Kemenristekdikti itu, sama sekali kita tidak bisa mengukur setiap pos anggaran. Apa yang dituju, maupun kebijakan yang akan diambil, kita tidak tahu,” Tegas Kharis.

Soal Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) pun tak luput dari sorotan Kharis. Ia berharap, untuk tahun mendatang, UKT jangan seluruhnya dibebankan kepada mahasiswa dan orang tua. Pasalnya, di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, maka akan cukup memberatkan.

“Untuk itu, Komisi X meminta penjelasan dari setiap pos pemanfaatan anggaran ini agar tepat guna, tepat sasaran, efektif, dan efisien,” harap politisi asal dapil Jateng V itu.

Koalisi Arab Berhasil Kuasai 80% Wilayah Yaman dari Pemberontak Syiah

Kerajaan Arab Saudi melalui Pangeran Muhammad bin Salman mengungkapkan bahwa Koalisi Militer pimpinan Arab Saudi telah berhasil menguasai 80% wilayah Yaman dari pemberontak Syiah Houthi dan dan sekutunya dari loyalis mantan diktator Abdullah Shaleh.
Tidak ada yang bisa memprediksi akhir suatu peperangan, entah itu jenderal tertinggi maupun terbawah. Tapi saya bisa katakan bahwa sepuluh bulan lalu setengah kota Aden tidak dikontrol oleh pemerintah (maksudnya berhasil dicaplok Houthi), tapi sekarang lebih dari 80% wilayah Yaman berada di bawah kontrol pemerintah yang sah” ujar Muhammad bin Salman sebagaimana dilansir oleh Al-Arabiya dan dikutip middleeastupdate.net senin (11/1/2016).

Muhammad bin Salman juga mengungkapkan keberhasilan koalisi Arab yang telah menghancurkan kemampuan udara, kemampuan pertahanan udara dan 90% arsenal rudal kelompok pemberontak Syiah Houti Yaman.
Mengakhiri konsferensi persnya, Muhammad bin Salman mengungkapkan bahwa kondisi yang semakin terpojok membuat pemberontak Syiah Houti sering melakukan serangan rudal secara membabi buta ke permukiman warga sipil Yaman

Melon Kinanti Hasil Uji Coba di Mojosongo, Hasil Riset Dosen Pertanian UNS

Beberapa bulan terakhir ini, dosen Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr Ir Eddy Triharyanto MP melakukan riset terhadap varietas buah Melon, dan menghasilkan varietas baru yakni varietas Melon Kinanti.

“Lokasi riset di Desa Brajan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali,” jelas Eddy saat bertemuTimlo.net, di Kampus UNS, Solo, Sabtu (9/1).
Melalui riset varietas Melon Kinanti, Eddy ingin membuktikan bahwa hasil riset tidak kalah dengan negara lain, sekaligus memperkenalkan varietas baru sebagai hasil teknologi racikan genetika kepada masyarakat.

Eddy mengatakan, riset ini untuk memenuhi selera konsumen melon di Indonesia, sekaligus mengajak masyarakat petani melon, untuk mencoba varietas Kinanti ini.

Baru : Melon Kinanti diuji cobakan di Mojosongo, Hasil Riset Dosen Pertanian UNS

Beberapa bulan terakhir ini, dosen Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr Ir Eddy Triharyanto MP melakukan riset terhadap varietas buah Melon, dan menghasilkan varietas baru yakni varietas Melon Kinanti.
“Lokasi riset di Desa Brajan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali,” jelas Eddy saat bertemuTimlo.net, di Kampus UNS, Solo, Sabtu (9/1).
Melalui riset varietas Melon Kinanti, Eddy ingin membuktikan bahwa hasil riset tidak kalah dengan negara lain, sekaligus memperkenalkan varietas baru sebagai hasil teknologi racikan genetika kepada masyarakat.
Eddy mengatakan, riset ini untuk memenuhi selera konsumen melon di Indonesia, sekaligus mengajak masyarakat petani melon, untuk mencoba varietas Kinanti ini.

Menurut dosen FP UNS tersebut, Melon varietas Kinanti berbentuk buah lonjong, dengan warna kulit buah muda hijau muda dan kulit buah tua berwarna kuning tua. Warna daging buah orange, tekstur daging buah renyah, dan rasanya daging buah manis serta tidak beraroma.
Berdasarkan hasil riset, kata Eddy, umur mulai berbunga 23 – 30 hari setelah tanam dan umur mulai panen selama 65 – 70 hari setelah tanam. “Hasil buah per hektar sebanyak 33 – 37 ton,” jelasnya.

Fenomena Kalender Tanam Berantakan

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengakui kemungkinan terjadinya anomali cuaca tahun ini. Kondisi itu diperkirakan akan mengacaukan kalender tanam petani. 


"Dengan adanya anomali iklim seperti El Nino dan La Nina, semuanya berantakan. Yang seperti ini akan kita susun kembali bagaimana adaptasinya," ujar Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, Selasa (12/1). Ia menegaskan, sementara ini pemerintah akan terus memantau perubahan iklim global pada 2016 dan fenomena cuaca El Nino dan La Nina. 

Pasca Bom Jakarta, Soloraya Siaga Penuh

Pasca ledakan bom di  depan Gedung Sarinah Jakarta, wilayah Soloraya langsung siaga. Seluruh obyek vital mendapat penjagaan ketat. Salah satunya kediaman Presiden Jokowi di Sumber, Banjarsari, Solo. Status siaga diberlakukan menyusul wilayah Soloraya merupakan barometer keamanan.
Komandan Korem 074/ Warastratama Surakarta, Kolonel Arh Toto Nugroho
“Satu menit setelah ledakan bom dan baku tembak teroris di Jakarta, langsung saya instruksikan Siaga 1,” kata Komandan Korem 074/ Warastratama Surakarta, Kolonel Arh Toto Nugroho, ditemui di Boyolali, Kamis (14/1).
Saat ini pihaknya sudah menerjunkan intelkam untuk melakukan pengawasan di wilayah Soloraya. Meski diakui belum ada instruksi langsung dari atas namun siaga sejak dini diberlakukan untuk keamanan warga. Menyusul pernah adanya tiga orang yang dicurigai sebagai teroris saat Natal dan Tahun Baru. Dua orang berhasil diamankan, sedang satu orang kabur ke arah timur menggunakan bahan peledak.

Durian Merica Boyolali, Mempunyai Rasa Pedas dan Pahit

Sejumlah petani durian mengeluhkan turunnya hasil panen, menyusul banyaknya bunga dan bakal buah yang rontok akibat hujan. Meski begitu, kualitas durian lebih bagus dibandingkan panen tahun kemarin.
“Biasanya satu pohon bisa menghasilkan 100 buah, tapi sekarang hanya 40 sampai 50 buah saja,” kata petani Durian asal Mojosongo, Mulyono, Rabu (6/1).
Menurut Mulyono, saat kemarau kemarin, bunga dan bakal buah sangat banyak. Namun begitu memasuki musim penghujan, buah durian banyak yang rontok dan membusuk. Sebagian petani banyak yang menyelamatkan buah durian dengan cara mengikat mengunakan tali plastik agar tidak rontok.
“Ya harapan kita yang belum matang, bisa bertahan hingga matang,” tambahnya.

Satu Lagi Potensi Boyolali Durian Merica Boyolali, Ada Rasa Pedas dan Pahit

Sejumlah petani durian mengeluhkan turunnya hasil panen, menyusul banyaknya bunga dan bakal buah yang rontok akibat hujan. Meski begitu, kualitas durian lebih bagus dibandingkan panen tahun kemarin.
“Biasanya satu pohon bisa menghasilkan 100 buah, tapi sekarang hanya 40 sampai 50 buah saja,” kata petani Durian asal Mojosongo, Mulyono, Rabu (6/1).
Menurut Mulyono, saat kemarau kemarin, bunga dan bakal buah sangat banyak. Namun begitu memasuki musim penghujan, buah durian banyak yang rontok dan membusuk. Sebagian petani banyak yang menyelamatkan buah durian dengan cara mengikat mengunakan tali plastik agar tidak rontok.

“Ya harapan kita yang belum matang, bisa bertahan hingga matang,” tambahnya.
Sementara itu, meski belum memasuki masa panen, sejumlah pedagang durian mulai bermunculan di wilayah Kota Boyolali. Salah satunya Sardiyono, mengaku dalam sehari bisa menjual 50 hingga 100 buah durian. Hanya saja, karena stok di petani langka, harga durian masih mahal. Untuk ukuran kecil, dibandrol Rp 20 ribu sedangkan untuk ukuran besar dijual Rp 100 ribu.
“Harganya masih mahal, tapi banyak yang beli, karena rasanya masih manis,” ujar Sardiyono, ditemui di lapaknya selatan Tugu Jam.
Diakui, durian yang dijual seperti jenis Simus, Merica dan Ketan, paling laris. Selain legit, durian asli Boyolali, mempunyai rasa khas. Seperti misalnya, durian jenis merica, ada rasa pahit dan pedas. Pembeli sendiri selain lokal Boyolali, banyak juga yang berasal dari luar kota, seperti Soloraya, Salatiga dan Magelang.
“Kalau yang merica, baru ada panen tahun ini,” tandasnya.

Selasa, 29 Desember 2015

Kondisi Sosial-Spritual Umat Islam Sebelum Pembebasan Al-Aqsha Era Shalahuddin

Telah kau kobarkan kepedihan terhadap nasib Baitul Maqdis, Itulah yang membuat gejolak rindumu padanya kian menjadi. Dialah rumah yang jika engkau bebaskan –dan Allah pasti melakukannya- Niscaya tidak ada satupun pintu Syam yang masih terkunci setelah itu”. (Nasihat Imaduddin Khatib kepada Shalahuddin Al-Ayyubi)
Yerusalem dalam cengkraman Pasukan Salib, 1174 Masehi.
Wafatnya Nuruddin Zanki membahakkan Bangsa Frank. Semalam suntuk mereka merayakan kematian sang Sultan yang selama hidupnya menyusahkan gerak mereka menjajah wilayah Arab. Di Yerusalem mereka berpesta, tak lupa mereka undang duta-duta raja Syiah Ubaidiyah Mesir untuk memperingati kemenangan besar mereka.
Sayang, Nuruddin sang Ksatria wafat sebelum mengantar mimbarnya ke mihrab Al-Aqsha nan terberkahi. Setelah wafatnya beliau di Damaskus, wilayah umat Islam terbelah cacah, setiap gubernur mengklaim kekuasaan, dan rentang wilayah Muslimin tercabik-cabik perpecahan. Bangsa Frank tak mau kehilangan kesempatan itu, dengan sigap mereka datangi kota-kota penting untuk merobohkannya.
“Ketika Nuruddin Zanki wafat”, tulis para Sejarawan mengabadikan peristiwa, “Para Musuh leluasa membuat onar. Bangsa Frank bertekad merobohkan kedigdayaan kota Damaskus dan merebutnya dari Umat Islam. Penguasa Muslim di sanapun lengah, sehingga setelah kalah dalam pertempuran, Umat Islam Damaskus mesti membayar pajak tinggi untuk Pasukan Salib. Ketika kabar itu sampai ke Shalahuddin, ia menasehati Umat Islam untuk bersabar sejenak dengan membayar pajak, dan mengabarkan kemenangan akan segera datang”.

Senin, 28 Desember 2015

Dari Kematian, Kita Lihat Akhir Kehidupan Seseorang

“Setiap hamba akan dibangkitkan sebagaimana keadaannya ketika wafat.” (HR. Muslim)
Menyambut gerbang kematian, sebagai takdir kehidupan dengan persiapan amal bakti yang mengiringi cara kematian itu sendiri. Apa yang terjadi saat ini, itulah yang akan dituai saat nanti mati. Hidup, kini menjadi jalan setapak yang panjang atau pendeknya tetap akan berujung di liang lahat. Bukan sekadar apa yang terjadi saat nafas masih berhembus, namun apa yang terjadi saat nafas itu berhenti. Jasad terbujur kaku dan tak ada hal lain yang terjadi kecuali bisu. Hanya amal baik yang akan menjadi sahabat karib yang membersamai hingga hari berbangkit. Namun jika bukanlah ia yang ada, niscaya hanya kepedihan dan penyesalan yang akan terasa.
Pernahkah kita saksikan seorang ahli ibadah yang meninggal dengan cara terindah? Atau pula sesosok ahli dosa yang berakhir mati dengan penuh derita? Itulah batas di mana antara celaan dan pujian terhalang sekat kokoh yang bernama kematian. Ruang henti akhir itu, sungguh tak menyisakan waktu meski sekejap saja untuk berubah. Kecuali, dengan segala amal yang terjadi sesaat saja sebelum ajal itu memanggil. Sebuah pertanggungjawaban tentang sejauh apa hidup itu digunakan untuk taat pada rabbNya dan kekuatan iman yang diuji dengan jutaan halau serta rintangan dunia.
Keikhlasan adalah cerminan sejuk yang memantul pada hati hamba yang hanya mengharap keridhaanNya. Sedang di luar itu, ada percik noda yang mesti dihilangkan dan dibasuh dengan sejuta kesungguhan untuk memangku taubat. Karna jika saja noda itu tetap melekat, niscaya dalam dada ia akan membesar hingga membuat jiwa tak sadar. Berjalan dengan cara yang tak benar serta menuju titian terjal dan sasar. Bertitel khilaf dan dengan tingkah laku jauh dari salaf. Namun, khilaf itu akan menjadi indah jika tetiba saja tersadar oleh pengakuan salah. Tapi jika khilaf itu tak berubah, sungguh hanya ujung kelam yang akan menerjang.
Al-Ghazali Rahimahumullah Ta’ala. Tersebutlah kisahnya mendekap kitab hadits tershahih setelah alquran, manakala jiwanya terlepas dari raga untuk selama-lamanya. Seorang ‘alim, faqih, cerdas nan rendah hati, cinta ilmu pengetahuan dan tak segan berbagi ilmu dan pengalaman. Kematiannya memberi sirat tanda tentang arti sebuah husnul khotimah. Menyongsong akhir hayatnya dengan cara yang paling indah.
Maka semulia apa pun hati ataupun kedudukan yang terancang dan tercitra di hadapan manusia, harapan akan pertolongan pada keistiqomahan ta’at dan iman haruslah senantiasa ditujukan pada Allah ‘Azza wa Jalla. Dialah yang menggenggam setiap jiwa dan Dialah yang menentukan segalanya. Allahu Robbi, sebanyak doa baik pada hari ini dan istighfar penuh mohon ampunan yang tercurah, moga terijabah dan menjadi bekal terindah di akhir kehidupan nanti.Namun sekejap saja, 

Boyolali Kembangkan Yumina Bumina untuk maksimalkan lahan

Untuk mencukupi pangan keluarga, sekarang ini bisa dilakukan di rumah meski dengan lahan yang sempit. Disnakkan Boyolali mulai mengenalkan sistem tumpang sari baru yang diberi nama “Yumina dan Bumina”. Sistim ini perpaduan antara kolam ikan dengan sayuran dan buah-buahan.
“Ada 11 kolam percontohan yang mulai kita kenalkan, ini kerjasama dengan Balai Penelitian Budidaya Ikan Tawar Bogor,” kata Kabid Perikanan, Naryanto, Senin (21/12).

Dijelaskan, metode Yumina Bumina sendiri, pengolahan limbah ikan tawar, dalam hal ini digunakan ikan lele, yang kemudian air kolam disalurkan ke pot-pot sayuran dan bunga melalui pipa. Air bekas kolam lele setelah dilakukan penelitian ternyata mengandung nutrisi yang bisa menjadi pupuk organik. Selain itu, dengan proses di atas air kolam akan tetap jernih, sehingga bisa memicu pertumbuhan ikan.
“Sistemnya mudah, kita hanya gunakan pompa penyedot air untuk kemudian disalurkan ke pot-pot,nutrisi yang terbawa akan tertinggal di pot dan sisa air akan kembali ke kolam,” sambung Naryanto.
Di sisi lain, peneliti dari Balai Penelitian Budidaya Ikan Tawar Bogor, Adam Saputra, mengungkapkan pihaknya sudah lama melakukan penelitian. Pengembangan Yumina Bumina sangat mudah diterapkan, menyusul tidak membutuhkan lahan yang luas. Sedangkan untuk media tanam, disarankan menggunakan akar pakis.
“Bisa juga menggunakan sabut kelapa, namun kita lebih sarankan menggunakan akar pakis,” ujar Adam.

Maksimalkan lahan , di Boyolali Kembangkan Perikanan Yumina Bumina

Untuk mencukupi pangan keluarga, sekarang ini bisa dilakukan di rumah meski dengan lahan yang sempit. Disnakkan Boyolali mulai mengenalkan sistem tumpang sari baru yang diberi nama “Yumina dan Bumina”. Sistim ini perpaduan antara kolam ikan dengan sayuran dan buah-buahan.
“Ada 11 kolam percontohan yang mulai kita kenalkan, ini kerjasama dengan Balai Penelitian Budidaya Ikan Tawar Bogor,” kata Kabid Perikanan, Naryanto, Senin (21/12).

Dijelaskan, metode Yumina Bumina sendiri, pengolahan limbah ikan tawar, dalam hal ini digunakan ikan lele, yang kemudian air kolam disalurkan ke pot-pot sayuran dan bunga melalui pipa. Air bekas kolam lele setelah dilakukan penelitian ternyata mengandung nutrisi yang bisa menjadi pupuk organik. Selain itu, dengan proses di atas air kolam akan tetap jernih, sehingga bisa memicu pertumbuhan ikan.
“Sistemnya mudah, kita hanya gunakan pompa penyedot air untuk kemudian disalurkan ke pot-pot,nutrisi yang terbawa akan tertinggal di pot dan sisa air akan kembali ke kolam,” sambung Naryanto.

Pilkada Boyolali Juara 2 Tertinggi dalam pelanggaran se-Jawa Tengah

Jumlah pelanggaran Pilkada di Boyolali tertinggi ke dua se-Jawa Tengah. Sementara untuk jumlah pelanggaran etik, yakni pelanggaran yang dilakukan oleh penyelenggara Pilkada, Boyolali malah menempati peringkat tertinggi.

Usai Rapat Pleno Penetapan Seno Samodro - Said Hidayat sebagai paslon terpilih Pilkada Boyolali 2015, Selasa (22/12/2015), Ketua Panwaslu Boyolali Narko Nugroho mengungkapkan, selama masa kampanye hingga rekapitulasi penghitungan suara, jumlah kasus pelanggaran Pilkada di Boyolali mencapai 67 kasus, baik pelanggaran administrasi, etik, dan pidana. Jumlah kasus tersebut mencatatkan Boyolali sebagai peringkat kedua jumlah pelanggaran Pilkada se-Jawa Tengah di bawah Kota Semarang.

"Jumlah kasus tersebut dihitung dari jumlah rekomendasi yang dikeluarkan, baik dari Panwascam atau Panwaslu," kata Narko.

Sementara untuk pelanggaran etik atau pelanggaran yang melibatkan penyelenggara Pilkada, meski tak menyebut jumlah pasti,  Narko mengatakan untuk jumlah jenis pelanggaran tersebut Boyolali menempati urutan tertinggi se-jawa Tengah. Dari jumlah keseluruhan kasus, sebanyak 11 kasus masuk ke Sentra Gakkumdu‎. Tiga kasus diantarannya sampai di pengadilan dengan jumlah terdakwa sebanyak 3 orang.  ‎Sementara khusus saat hari H pencoblosan, pihaknya juga mencatat ada sebanyak 28 jenis pelanggaran.

Dari 35 Kab/kota se Jateng Boyolali peringkat ke 9 dalam Penularan HIV/Aids

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali masuk peringkat kesembilan penularan HIV/AIDS tertinggi di Provinsi Jateng. Pekerjaan sopir masuk risiko tinggi paling rawan tertular penyakit mematikan tersebut.
Sekretaris Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Boyolali, Basuki, mengatakan tahun ini peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) secara nasional diketuai Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Sementara di tingkat daerah diketuai Dishubkominfo.
“Peringatan HAS di Boyolali melibatkan Organda [Organisasi Angkatan Darat] dan sopir angkutan kota dan angkudes,” ujar Basuki saat membuka acara peringatan HAS di Terminal Sunggingan, Selasa (22/12/2015).
Basuki mengatakan pekerjaan sebagai sopir masuk peringkat tujuh risiko tinggi terlular penyakit HIV/AIDS. Peringkat pertama sudah pasti paling berisiko tertular adalah pekerja seks komersial (PSK).
“Berdasarkan teori ada tiga kategori yang mempunyai risiko tinggi penyakit mematikan itu yakni 3 M [Men, Mobile, dan Money]. Laki-laki paling paling mendominasi tertular penyakit itu,” kata Basuki.
Basuki mengatakan dari data KPA Provinsi Jateng dari 35 kabupaten/kota di Jateng, Boyolali masuk peringkat sembilan tertinggi kasus HIV/AIDS dengan jumlah 81 kasus. Perinciannya 44 kasus HIV dan 37 AIDS data Januari-September 2015. Pekerja sopir paling banyak mendominasi tertularnya penyakit mematikan itu.
“Kami sudah berusaha keras meminta agar pengusaha bus, angkudes, dan angkutan kota memberi pemahaman kepada sopirnya agar tidak sembarangan ‘jajan’ di pinggir jalan,” kata dia.
Sementara itu, Sekretaris KPA Boyolali, Titik Sumartini, mengatakan jumlah penderita HIV/AIDS di Boyolali mulai 2005-2015 sebanyak 270 kasus. Dari jumlah itu sebanyak 74 orang meninggal dunia.
“Kami selalu berusaha menekan angka kasus HIV/AID di Boyolali dengan menggelar sosialisasi dari tingkat kota hingga desa,” ujar Titik.
KPA Boyolali, kata dia, tidak membuat tempat khusus untuk menampung semua penderita HIV/AIDS karena dikhawatirkan justru akan menimbulkan stigma negatif di masyarakat. Ia mengaku sampai sejauh ini masyarakat Boyolali dalam pemahami kasus HIV/AIDS sudah sangat baik sehingga tidak sampai ada kasus penderita HIV/AIDS dikucilkan oleh masyarakat seperti yang terjadi di Solo.
“Sebanyak puluhan sopir mengikuti tes HIV dan VCT [Voluntary Counseling Test] hasilnya untuk sementara negatif,” ujar Titik.

Solopos

Selfie deket Sapi Ndekem Boyolali, Helm di curi

Komplek perkantoran terpadu Setda Boyolali kembali menjadi incaran pelaku tindak kriminal. Pelaku mengincar motor dan helm pengunjung yang sedang asyik berselfie di depan Gedung Lembu Suro atau Sapi Dhekem.
Sriyanti (25) warga Rejosari, Desa Cabean Kunti, Cepogo, Boyolali bersama dua adiknya mendatangi Pospam Pengamanan Natal dan Tahun Baru di Komplek Alun-alun, Boyolali. Kepada petugas, Sri mengaku telah kehilangan helm. Helm tersebut ditaruh di motor yang diparkir di halaman gedung Setda, atau barat gedung Sapi Dhekem.
“Tidak menyangka ada yang mengambil, saya kira aman, maka terus saya tinggal selfie di gedung sapi,” kata Sriyanti, Senin (28/12).
Kapolsek Mojosongo AKP Suwanto, mengakui lingkungan komplek Setda saat ini menjadi ruang publik. Namun untuk keamanan, diakui masih sangat kurang. Polsek sendiri tidak mungkin melakukan patroli di Komplek Setda selama 24 jam.

“Kita tetap lakukan patroli, namun kan wilayah Mojosongo sangat luas,” ujar Suwanto.
Untuk itu, pihaknya mengimbau kepada pengunjung agar lebih waspada dan tidak meninggalkan motor begitu saja. Pengunjung juga diminta untuk mengawasi barang bawaan mereka.
“Intinya tetap harus menjaga keamanan masing-masing, kejahatan bisa mengintai dimanapun kita berada,” tandasnya.
Selain pencurian helm, menurut informasi yang berkembang, belum  lama ini salah seorang pengunjung juga kehilangan motornya saat ditinggal selfie. Motor diparkir di pinggir jalan dan menurut informasi diangkut mobil bak terbuka yang dikira petugas.

Jumat, 13 November 2015

Jalan Sehat Keluarga Ceria dan Hiburan Rakyat Semarakkan MUSDA 4 PKS Boyolali

Boyolali (13/11) - Hadiah senilai total lebih dari 10 juta rupiah telah disediakan panitia Jalan Sehat Keluarga Ceria yang akan diselenggarakan hari Ahad yang akan datang (15/11). Hadiah utama berupa 2 sepeda gunung, 2 mesin cuci, 3 DVD player, 4 Kompor gas, dan 5 kipas angin, dan puluhan hadiah hiburan lainnya siap dibagikan kepada peserta Jalan sehat yang beruntung.

Event ini adalah acara pendamping MUSDA 4 PKS Boyolali yang akan diselenggarakan pada hari yang sama. 
Start dan finish di gedung markaz DPD PKS Boyolali, acara Jalan sehat ini akan dimulai pada pukul 06.00 wib dan pemberangkatan akan dibuka langsung oleh Ketua DPD PKS Boyolali, H. Syaifudin, S.Si.

Selain Jalan Sehat Keluarga Ceria, rangkaian acara pendamping MUSDA 4 PKS Boyolali pada Ahad pagi besok adalah panggung hiburan/ nasyid, cek kesehatan gratis, games keluarga ceria, lomba mewarnai Paud dan TK, pemberian Santunan/beasiswa, dll.

Semua acara ini GRATIS! Jadi, jangan ragu ajak sahabat, saudara, dan keluarga untuk hadir dan menyemarakkan acaranya ya!

Badan sehat, hati ceria dan gembira, pulang membawa hadiah keren dan menarik! Mantap kan?! (MDH)
sumber : PKSBOY

Minggu, 18 Oktober 2015

Kun Anta - Humood Alkhudher | (Automat!on Cover)



Inilah lagu populer yang dinyanyikan khumood Al khudair, yang dinyanyikan oleh Automation, artinya sangat bagus

Senin, 28 September 2015

OPINI: Menindas PNS “Kendil” oleh Bramastia

Mobilisasi birokrasi menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Boyolali sangat masif terjadi. Para pegawai negeri sipil (PNS) yang menjadi abdi negara hampir tidak kuasa menolak, tatkala intervensi politik menindas dirinya. Ketakutan PNS Boyolali yang berlebihan ini justru dimanfaatkan kekuatan politik tertentu untuk menuju puncak kekuasaan. PNS Boyolali bagaikan kerbau dicocok hidungnya dan tidak kuasa berbuat apapun.

Ini adalah fakta politisi Boyolali yang tidak memberi contoh baik, tetapi justru turut mengarahkan, mengendalikan sekaligus mengelola PNS dengan cara salah. Penguasa Boyolali justru memanfaatkan birokrasi dan menjadikan sebagai bemper aman demi melanggengkan kuasanya. Akibatnya, PNS menjadi bola sepak yang bukan lagi mengabdi kepada Negara, tetapi mengabdi pada kekuasaan yang mau memberikan jabatan kepada dirinya.

Terjadinya relasi kekuasaan dalam birokrasi menunjukkan konsentrasi dalam rangka mempertahankan posisi elite melalui manipulasi dan rekayasa terselubung. Elite birokrasi tanpa disengaja terus-menerus mereproduksi kesenjangan sosial antara bawahan dan struktur kepemimpinan. Proses reproduksi kesenjangan sosial ini dilakukan PNS Boyolali untuk melanggengkan kekuasaan tanpa menghiraukan sisi martabat dan harga diri sebagai birokrasi.


PNS Lemah

Mengapa demikian? Ternyata PNS Boyolali banyak yang tidak paham regulasi atas posisi dirinya sebagai abdi Negara. Akibat ketidakpahaman regulasi, PNS Boyolali mudah dibodohi penguasa. Para PNS Boyolali mudah di-design menjadi “robot” kekuasaan tanpa memperhitungkan aspek netralitas dan profesionalisme sebagai abdi Negara. Akibat budaya “malas” PNS Boyolali untuk belajar aturan, membuat dirinya mudah dijadikan barang mainan kekuasaan.

Kedua, kecilnya “nyali” para PNS Boyolali. Menurut penulis, mayoritas PNS di Boyolali boleh dibilang bernyali kecil dan kerdil. Bayangkan saja, PNS dimutasi tidak sesuai dengan bidang ilmu dan keahlian hanya diam saja. Hampir tidak ada protes atau tindakan perlawanan hukum sebagai wujud ketidakadilan penguasa kepada birokrasi. Ciutnya nyali PNS Boyolali justru dimanfaatkan para penguasa untuk bisa berbuat semena-mena. Barangkali, penguasa Boyolali tertawa melihat PNS Boyolali kehilangan nyali.

Ketiga, minimnya solidaritas sesama PNS di Boyolali. Kalau mau jujur, para PNS Boyolali saat ini sangat egois. PNS Boyolali tidak pernah menengok ke kanan dan ke kiri untuk melihat teman sejawatnya. PNS Boyolali mayoritas hanya mencari cara selamat untuk dirinya masing-masing dan hampir minim solidaritas sesama birokrasi. Akibatnya, PNS mudah dipecah belah kekuasaan yang memanfaatkan birokrasi sebagai alat kekuasaan semata.

Keempat, PNS Boyolali banyak yang ambisi jabatan. Besarnya syahwat birokrasi untuk mendapatkan jabatan struktural, telah membuat PNS di Boyolali lupa diri. Para PNS Boyolali lupa tentang hakikatnya sebagai abdi negara, tetapi kini sudah terjerumus dalam lubang kekuasaan. Ambisi besar untuk mendapatkan kekuasaan, mengakibatkan PNS Boyolali berlomba-lomba menggadaikan harkat dan martabat sebagai aparatur negara.

Kelima, lemahnya organisasi Korpri Boyolali. Organisasi birokrasi yang bernama Korps Pegawai Negeri (Korpri) tidak mampu memainkan perannya di Boyolali. Korpri Boyolali tidak bisa diharapkan menjadi tempat berlindung bagi PNS yang menjadi korban kekuasaan arogan. Lebih menyedihkan lagi, Korpri Boyolali kini mati suri karena digantikan paguyuban PNS pendukung penguasa yang tidak jelas bentuknya.

PNS Kendil

Menurut penulis, fenomena birokrasi Boyolali layak disebut birokrasi ”Kendil”. Makna birokrasi ”kendil” artinya sama dengan PNS yang hanya memikirkan perut atau hanya kepentingan pribadinya. Keterbatasan pengetahuan, akses dan jaringan birokrasi Boyolali mencetak PNS kendil yang melahirkan watak kapitalis birokrat. Watak PNS ini selalu menggunakan kekuasaan untuk mendapatkan sumber daya demi kepentingan pribadinya.

Kelemahan PNS kendil Boyolali tampak dimanfaatkan pihak sang penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Tanpa disadarinya, penguasa paham beberapa titik lemah PNS kendil Boyolali dan kemudian diperalatnya untuk melakukan apapun. Titik lemah utama karena PNS kendil ini takut tidak mendapatkan jabatan dalam pemerintahan.

Tingginya syahwat PNS kendil yang ingin menjabat di pemerintah, membuat penguasa mudah memainkan perintahnya. Apapun yang diperintahkan penguasa, pasti dilakukan para PNS kendil Boyolali karena pasti diiming-imingi jabatan.

Kedua, PNS kendil Boyolali takut kalau di mutasi ke tempat kerja yang jauh. Rasa tidak percaya diri PNS kendil Boyolali dimanfaatkan penguasa agar tunduk atas perintahnya. Kalau PNS kendil Boyolali tidak mau tunduk, maka akan dimutasi penguasa ke tempat yang jauh. Hanya dengan ancaman saja, PNS kendil Boyolali tidak berkutik dan langsung tunduk dengan kekuasaan. Padahal, semakin takut justru membuat penguasa semakin kencang menekan, menindas dan mengancam para PNS kendil Boyolali.

Ketiga, PNS kendil Boyolali ini hanya mengabdi kepada kekuasaan. Mengingat PNS Boyolali sudah tunduk dan takluk dengan kekuasaan, maka tanpa disadari sang penguasa semakin arogan. PNS kendil Boyolali hanya dijadikan ajang bulan-bulanan dan tempat pemerasan. Birokrasi Boyolali kini sudah kehilangan harga diri sebagai abdi negara, tetapi berubah menjadi abdinya penguasa. Pada titik ini, PNS kendil Boyolali sangat mudah untuk dijadikan mesin politik meraup suara.

Kalau mau sadar diri, ketidakberdayaan PNS kendil Boyolali hanya dimanfaatkan untuk melakukan mobilisasi birokrasi. Alangkah rendahnya harkat dan martabat PNS kendil Boyolali tatkala mau di suruh berkumpul, iuran dan menjadi alat politik kekuasaan. Akibat rendahnya harga diri PNS kendil Boyolali ini, tanpa disadari justru penguasa mengeksploitasi hingga habis-habisan. Lebih mengerikan lagi, kedepan dan lambat laun PNS kendil Boyolali ini pasti akan mendapatkan ancaman dan penidasan apabila sedikit ada kesalahan.

Rakyat Boyolali harus maklum, bahwa PNS kendil Boyolali ini nyalinya tidak sebesar PNS kota Tegal yang berani melawan kekuasaan yang zalim. Pada saat Walikota Tegal menerbitkan SK non-job ke para PNS tanpa ada dasar, mereka  tegas berani menolak. Bahkan, para PNS kota Tegal berani menduduki pendapa Balaikota dengan memasang spanduk penolakan pemerintahan dengan pemimpin zalim dan arogan.

Apalagi kalau dibandingkan PNS Kabupaten Temanggung yang begitu berani dan lantang berorasi untuk menurunkan Bupati arogan. Para PNS Temanggung pada waktu itu berani membuat posko perjuangan untuk melawan arogansi Bupatinya. Hebatnya lagi, PNS Temanggung saat itu tidak bersedia menerima iming-iming jabatan baru karena pertimbangan hati nurani. Para PNS Temanggung sadar diri bahwa prosedur mutasi yang tidak benar akan semakin memperkeruh suasana dan menjatuhkan harga diri sebagai abdi negara.

Akibat ketidakjelasan sikap birokrasi ini, wajar bila PNS kendil Boyolali menjadi arena bulan-bulanan kekuasaan. Kalau PNS kendil Boyolali mudah untuk di suruh iuran, maka diperas saja sekalian. Kalau PNS kendil Boyolali mudah dipolitisasi, maka harus digerakkan. Demikian juga kalau PNS kendil Boyolali sudah nyaman di bawah ancaman, lebih baik di tindas sekalian. Bukankah nyaman begitu PNS kendil Boyolali?.