Senin, 11 Mei 2015

Boyolali : Validasi Data Kemiskinan Baru 35 Persen

Upaya verifikasi dan validasi data kemiskinan terus dilakukan agar penyaluran berbagai program bantuan sosial dari pemerintah lebih tepat sasaran. Namun hingga jelang batas akhir proses pendataan yang direncanakan akhir bulan ini, 'progres' pendataan masih lambat.
Hasil gambar untuk Miskin boyolali
Koordinator Tenaga Sosial Kesejahteraan Kecamatan (TSKS) Kementrian Sosial untuk Wilayah Boyolali, Taufik Agus Nugroho, Selasa (5/5) menerangkan, hingga saat ini validasi data kemiskinan yang sudah masuk baru sekitar 35 persen. Kecamatan yang datanya sudah lengkap diantaranya Karanggede dan Selo. 
Sementara Kecamatan Musuk, Klego, Mojosongo, dan Nogosari masing-masing kurang satu desa. Sedang sisanya rata-rata baru mendapatkan data di satu hingga lima desa. "Data sementara sudah masuk ke Provinsi," terang Taufik.

Taufik menambahkan, kendala yang kerap ditemui yakni banyak warga yang masih menggunakan Kartu Keluarga (KK) lama dan belum beralih menggunakan KK Oracle, yakni KK yang data kependudukannya sudah terintegrasi dengan pusat. Namun untuk mengejar target validasi sebelum batas akhir akhir bulan ini, pihaknya sudah meminta bantuan para perangkat desa dan kecamatan untuk sesegera mungkin melakukan validasi warga miskin yang nanti akan menjadi database untuk berbagai program pemerintah, seperti Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI-JKN) dan Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS).   


"Yang KK-nya lama nanti bisa menggunakan surat keterangan desa untuk kepentingan validasi. Kita akan kejar target sebelum batas akhir," terang Taufik. 

Ia meminta kepada perangkat desa untuk aktif dalam upaya update data kemiskinan ini. Sebab bila sampai batas akhir sebelum data diajukan ke Kemensos untuk proses verifikasi, tapi pihak desa tak mengirim pembaruan data, maka data kemiskinan untuk berbagai program bantuan sosial pemerintah akan menggunakan data lama. 

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Boyolali, Purwanto mengakui, ia banyak mendapat komplain terkait penyaluran program sosial yang dianggap tak tepat sasaran akibat menggunakan data lama. Ia pun mengimbau pihak-pihak terkait agar segera mengirimkan pembaruan data sebelum nanti data tersebut diajukan ke Kemensos.

"Sementara ini banyak komplain karena menggunakan data lama, makanya sekarang sedang kita benarkan. Batas akhir sudah disampaikan. Kalau tak mengirim data dan besok program bantuan sosial masih menggunakan data lama ya jangan komplain," tandas Purwanto.

Krhttp://krjogja.com/read/259157/validasi-data-kemiskinan-baru-35-persen.kr

Boyolali : Validasi Data Kemiskinan Baru 35 Persen

Upaya verifikasi dan validasi data kemiskinan terus dilakukan agar penyaluran berbagai program bantuan sosial dari pemerintah lebih tepat sasaran. Namun hingga jelang batas akhir proses pendataan yang direncanakan akhir bulan ini, 'progres' pendataan masih lambat.
Hasil gambar untuk Miskin boyolali
Koordinator Tenaga Sosial Kesejahteraan Kecamatan (TSKS) Kementrian Sosial untuk Wilayah Boyolali, Taufik Agus Nugroho, Selasa (5/5) menerangkan, hingga saat ini validasi data kemiskinan yang sudah masuk baru sekitar 35 persen. Kecamatan yang datanya sudah lengkap diantaranya Karanggede dan Selo. 
Sementara Kecamatan Musuk, Klego, Mojosongo, dan Nogosari masing-masing kurang satu desa. Sedang sisanya rata-rata baru mendapatkan data di satu hingga lima desa. "Data sementara sudah masuk ke Provinsi," terang Taufik.

Taufik menambahkan, kendala yang kerap ditemui yakni banyak warga yang masih menggunakan Kartu Keluarga (KK) lama dan belum beralih menggunakan KK Oracle, yakni KK yang data kependudukannya sudah terintegrasi dengan pusat. Namun untuk mengejar target validasi sebelum batas akhir akhir bulan ini, pihaknya sudah meminta bantuan para perangkat desa dan kecamatan untuk sesegera mungkin melakukan validasi warga miskin yang nanti akan menjadi database untuk berbagai program pemerintah, seperti Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI-JKN) dan Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS).   


"Yang KK-nya lama nanti bisa menggunakan surat keterangan desa untuk kepentingan validasi. Kita akan kejar target sebelum batas akhir," terang Taufik. 

Ia meminta kepada perangkat desa untuk aktif dalam upaya update data kemiskinan ini. Sebab bila sampai batas akhir sebelum data diajukan ke Kemensos untuk proses verifikasi, tapi pihak desa tak mengirim pembaruan data, maka data kemiskinan untuk berbagai program bantuan sosial pemerintah akan menggunakan data lama. 

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Boyolali, Purwanto mengakui, ia banyak mendapat komplain terkait penyaluran program sosial yang dianggap tak tepat sasaran akibat menggunakan data lama. Ia pun mengimbau pihak-pihak terkait agar segera mengirimkan pembaruan data sebelum nanti data tersebut diajukan ke Kemensos.

"Sementara ini banyak komplain karena menggunakan data lama, makanya sekarang sedang kita benarkan. Batas akhir sudah disampaikan. Kalau tak mengirim data dan besok program bantuan sosial masih menggunakan data lama ya jangan komplain," tandas Purwanto.

Krhttp://krjogja.com/read/259157/validasi-data-kemiskinan-baru-35-persen.kr

Kalimat Singkat yang Bisa Memperbarui Iman



Al Imanu yazidu wa yanqush. Demikian salah satu judul bab dalam Shahih Muslim. Bahwa iman itu naik dan turun.
Karena sifatnya fluktuatif, iman perlu diperbarui sesering mungkin. Agar ia kembali stabil. Agar ia kembali kokoh. Kuat dan kokohnya iman akan membuat seorang muslim diliputi kedamaian. Kuat dan kokohnya iman akan membuatnya memiliki daya imunitas terhadap godaan duniawi yang kian hari kian berat. Godaan duniawi cukup efektif membuat banyak orang kehilangan idealismenya; menggadaikan keyakinan demi mendapatkan harta dan kekayaan. Larut dalam budaya permisif yang menjerumuskan. Hingga tak lagi peduli antara halal dan haram.

Bagaimana cara memperbarui iman? Salah satu caranya ditunjukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Cara ini tergolong sederhana karena hanya berisi kalimat singkat yang mudah dihafal. Bahkan tak perlu lagi dihafal karena setiap muslim telah biasa melafalkannya.
Kalimat yang dimaksud adalah kalimat tahlil. La ilaha illallah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

جَدِّدُوا إِيْمَانَكُمْ. قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Perbarui iman kalian” Lalu ditanyakan, “Ya Rasulullah, bagaimana caranya memperbarui iman kami?” Beliau pun menjawab, “Perbanyaklah ucapan Laa ilaha illah.” (HR. Ahmad dan Hakim dalam ‘Al Mustadrak ‘ala Shahihain)
Ternyata terapinya sangat mudah; memperbanyak mengucap kalimat tahlil. La ilaha illallah. Meskipun mudah, nyatanya tidak banyak yang bisa mengamalkannya. Mungkin karena tidak mengetahui keutamaannya. Atau dunia terlalu menyibukkan kita. Hingga kita tak sempat berdzikir dan memperbanyak mengucap kalimat tahlil.
Mungkin ada yang bertanya, mengapa ada orang yang telah banyak mengucap kalimat tahlil tetapi tidak terlihat bekas keimanan yang membara dalam kehidupannya? Bisa jadi orang yang demikian hanya mengucapkan tahlil tanpa menyelami maknanya. Hanya membaca di bibir saja. Sehingga ia menyatakan la ilaha illallah tetapi tidak beribadah kepada Allah. Ia mengatakan la ilaha illallah tetapi tidak berdoa hanya kepada Allah. Ia menyebut la ilaha illallah tetapi tidak bergantung hanya kepada Allah.

Marak, Pencurian Motor Disawah, Petani Resah


timlo.net/nanin

Aksi pencurian kendaraan yang terparkir di pinggir sawah kembali marak di wilayah Kecamatan Simo, Boyolali. Hal ini sangat meresahkan kalangan petani. Pasalnya pelaku juga menyasar motor yang terparkir dengan kondisi dikunci stang. Para pelaku ini memanfaatkan petani yang sedang beraktifitas di sawah.
”Saya pernah kehilangan sepeda motor saat bekerja di sawah setahun lalu. Sudah dilaporkan ke pihak berwajib, tetapi hingga kini belum ditemukan. Belum lama ini ada pelaku berhasil kita gagalkan saat hendak mengambil motor petani yang terparkir dipinggir sawah,” ujar Parno (45) petani asal Dukuh Candi, Desa Gunung, Kecamatan Simo, Minggu (10/5).

Dijelaskan, selama ini petani terpaksa memarkir motornya dipinggir areal persawahan yang berada di pinggir jalan. Pasalnya, jelas tidak mungkin membawa motor ke dekat sawah karena medan persawahan yang tidak bisa dilalui motor. Kejadian ini membuat petani enggan membawa motornya saat pergi ke sawah.
Kapolres Boyolali, AKBP Budi Sartono, melalui Kapolsek Simo, AKP Margono didampingi Kanitreskrim, Aiptu Lanjar menjelaskan, aparat Polsek Simo sudah mengantisipasi maraknya pencurian sepeda motor di tepi sawah. Pihaknya juga sudah menurunkan tim untuk melakukan patroli ke desa-desa tiap subuh.
“Kalau bisa diparkir didekat lokasi tempat bekerja, biar bisa terus diawasi,” ujar Kapolsek.

Damardjati, Yogyakarta dan Gelar Khalifatullah



Oleh: Priyo Jatmiko

Pak (Alm.) Damardjati Supadjar, saat itu masih dekan fakultas filsafat UGM, dalam satu ceramah tarawih di masjid Al Hasanah (masjid di bilangan kampus UGM – seberang Mirota Kampus dan perpustakaan UGM- yang suka menu gado-gado; kadang menghadirkan filsuf macam Pak Damardjati Supajar, kadang menghadirkan ustadz semacam ustadz Ja’far Umar Thalib), pernah berkata begini:
“Kata-kata ‘Hamengku Buwono, Sulthan, dan Khalifatullah itu satu kesatuan. Orang yang mau hamengku buwono (“memangku” atau melindungi alam semesta) harus punya sulthan (kekuatan), tapi visinya harus khalifatullah (melaksanakan kehendak Tuhan), kalau tidak ia hanya akan menjadi manusia yang yufsiduna fil ardh(kerjaannya merusak alam semesta) dan yasfikud dima (hobi menumpahkan darah).”

Pak Damardjati ini dikenal sebagai penasehat Sri Sultan dan pernah dibawa Sri Sultan menjelaskan arti gelar panjangnya itu ke masyarakat adat Minangkabau. Maka, kira-kira bagaimana pendapat beliau jika masih hidup atas sabda Sri Sultan tersebut ya?
Yang jelas, sabda Sri Sultan adalah lambang kemenangan modernisasi (untuk tidak menyebutnya sebagai sekulerisasi) atas tradisi dan relijiusitas sekaligus. Bahwa ia adalah lambang, tanda, maka orang-orang membaca segala makna di belakangnya, jadi tidak cukup penjelasan literalistik seperti bahwa dulu Abu Bakar pun menolak gelar khalifatullah dan hanya menyebut dirinya khalifatur rasul (dengan mengambil konteks makna kha-la-fa sebagai pengganti di belakang, bukan wakil), sebab itu penjelasan ala puritanistik (yang ironisnya memang falsafahnya sejalan dengan modernistik), penjelasan yang lepas dari konteks tradisi (dan ideologi).
Bukankah kemenangan modernisasi atas tradisi Jogja sudah berlangsung lama, misalnya yang terlihat dari semakin banyaknya mall-mall terutama pasca Gempa Jogja  2006 yang tidak mencirikan kota yang berhati ramah? Pada akhirnya sabda sebagai lambang memang hanya penanda atas sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin sudah lama berjalan. Mereka yang terlalu bersemangat mungkin mengatakan bahwa apalah maknanya gelar khalifatullah, ada atau tidaknya tidak berpengaruh, toh selama ini keberadaan pondok pesantren di Jogja tidak diperhatikan, agama hanya hadir sebagai simbol di acara-acara adat Sura (yang bagi banyak pihak juga tidak otentik islami), dan pernyataan-pernyataan orang terdekat Ngarso Dalem yang dirasa orang sebagai kurang ramah pada Islam.
Sebagai justifikasi atas sabdanya tersebut, Sri Sultan mengatakan bahwa itu adalah wahyu dari Tuhan. Masyarakat sekuler-modern di dunia ketiga, seperti kita ini memang begitu orangnya, mulai dari Arab Saudi dengan modernisasi Masjidil Haram sampai Mesir dengan diktatorisme militernya, baik pro atau kontra, Tuhan tidak pernah absen namanya. Dia hanya absen substansinya.
Apakah alam batin rakyat Jogja ikut goncang, sebab mereka selalu menerima satu versi solidarisme kebenaran, bahwa Jogja dan ke-Jogja-an adalah sesuatu yang istimewa untuk dibela, tapi kini sosok Sri Sultan sebagai lambang ke-Jogja-an, menghancurkan simbol ke-Jogja-an yang lain: keislaman yang berkelindan sejarah dengan keadatan. Hikmah dari alam batin yang goncang adalah: mungkin ini saatnya bagi orang Jogja, atau orang yang sok merasa Njogja padahal bukan kelahiran Jogja (seperti saya ini), berhenti berpikir bahwa dunianya adalah pusat dunia (Indonesia) yang penting.
Sebab nantinya mungkin berita kontroversi tentang sabda raja ini akan pudar dengan sendirinya, tidak beda dengan dunia dalam berita lainnya: entah itu dunianya Budi Waseso, Budi Gunawan, dan polisi-polisi berbudi lainnya, maupun dunianya artis yang jadi PSK dengan bayaran short time 80 juta, sampai dunianya sepakbola dimana PSSI asyik dengan dirinya sendiri versus Menpora yang tidak hidup di alam nyata. Dunia dalam berita, apalagi di Indonesia, mungkin adalah kefanaan yang paling fana, dari sekian banyak fananya dunia.
Jogja mungkin tiada beda.

Damardjati, Yogyakarta dan Gelar Khalifatullah


Damardjati dan Gelar Khalifatullah 

Oleh: Priyo Jatmiko
Pak (Alm.) Damardjati Supadjar, saat itu masih dekan fakultas filsafat UGM, dalam satu ceramah tarawih di masjid Al Hasanah (masjid di bilangan kampus UGM – seberang Mirota Kampus dan perpustakaan UGM- yang suka menu gado-gado; kadang menghadirkan filsuf macam Pak Damardjati Supajar, kadang menghadirkan ustadz semacam ustadz Ja’far Umar Thalib), pernah berkata begini:
“Kata-kata ‘Hamengku Buwono, Sulthan, dan Khalifatullah itu satu kesatuan. Orang yang mau hamengku buwono (“memangku” atau melindungi alam semesta) harus punya sulthan (kekuatan), tapi visinya harus khalifatullah (melaksanakan kehendak Tuhan), kalau tidak ia hanya akan menjadi manusia yang yufsiduna fil ardh(kerjaannya merusak alam semesta) dan yasfikud dima (hobi menumpahkan darah).”

Pak Damardjati ini dikenal sebagai penasehat Sri Sultan dan pernah dibawa Sri Sultan menjelaskan arti gelar panjangnya itu ke masyarakat adat Minangkabau. Maka, kira-kira bagaimana pendapat beliau jika masih hidup atas sabda Sri Sultan tersebut ya?
Yang jelas, sabda Sri Sultan adalah lambang kemenangan modernisasi (untuk tidak menyebutnya sebagai sekulerisasi) atas tradisi dan relijiusitas sekaligus. Bahwa ia adalah lambang, tanda, maka orang-orang membaca segala makna di belakangnya, jadi tidak cukup penjelasan literalistik seperti bahwa dulu Abu Bakar pun menolak gelar khalifatullah dan hanya menyebut dirinya khalifatur rasul (dengan mengambil konteks makna kha-la-fa sebagai pengganti di belakang, bukan wakil), sebab itu penjelasan ala puritanistik (yang ironisnya memang falsafahnya sejalan dengan modernistik), penjelasan yang lepas dari konteks tradisi (dan ideologi).
Bukankah kemenangan modernisasi atas tradisi Jogja sudah berlangsung lama, misalnya yang terlihat dari semakin banyaknya mall-mall terutama pasca Gempa Jogja  2006 yang tidak mencirikan kota yang berhati ramah? Pada akhirnya sabda sebagai lambang memang hanya penanda atas sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin sudah lama berjalan. Mereka yang terlalu bersemangat mungkin mengatakan bahwa apalah maknanya gelar khalifatullah, ada atau tidaknya tidak berpengaruh, toh selama ini keberadaan pondok pesantren di Jogja tidak diperhatikan, agama hanya hadir sebagai simbol di acara-acara adat Sura (yang bagi banyak pihak juga tidak otentik islami), dan pernyataan-pernyataan orang terdekat Ngarso Dalem yang dirasa orang sebagai kurang ramah pada Islam.
Sebagai justifikasi atas sabdanya tersebut, Sri Sultan mengatakan bahwa itu adalah wahyu dari Tuhan. Masyarakat sekuler-modern di dunia ketiga, seperti kita ini memang begitu orangnya, mulai dari Arab Saudi dengan modernisasi Masjidil Haram sampai Mesir dengan diktatorisme militernya, baik pro atau kontra, Tuhan tidak pernah absen namanya. Dia hanya absen substansinya.
Apakah alam batin rakyat Jogja ikut goncang, sebab mereka selalu menerima satu versi solidarisme kebenaran, bahwa Jogja dan ke-Jogja-an adalah sesuatu yang istimewa untuk dibela, tapi kini sosok Sri Sultan sebagai lambang ke-Jogja-an, menghancurkan simbol ke-Jogja-an yang lain: keislaman yang berkelindan sejarah dengan keadatan. Hikmah dari alam batin yang goncang adalah: mungkin ini saatnya bagi orang Jogja, atau orang yang sok merasa Njogja padahal bukan kelahiran Jogja (seperti saya ini), berhenti berpikir bahwa dunianya adalah pusat dunia (Indonesia) yang penting.
Sebab nantinya mungkin berita kontroversi tentang sabda raja ini akan pudar dengan sendirinya, tidak beda dengan dunia dalam berita lainnya: entah itu dunianya Budi Waseso, Budi Gunawan, dan polisi-polisi berbudi lainnya, maupun dunianya artis yang jadi PSK dengan bayaran short time 80 juta, sampai dunianya sepakbola dimana PSSI asyik dengan dirinya sendiri versus Menpora yang tidak hidup di alam nyata. Dunia dalam berita, apalagi di Indonesia, mungkin adalah kefanaan yang paling fana, dari sekian banyak fananya dunia.
Jogja mungkin tiada beda.

Dugaan Penyimpangan Dana Hibah Rp 31,94 Miliar Diselidiki


dok.timlo.net/nanin

Kejaksaan Negeri Boyolali mulai melakukan penyelidikan dugaan penyimpangan dana hibah 2014 sebesar Rp 31,94 miliar. Dana hibah ini diduga tidak menyasar ke kelompok atau masyarakat. Sementara dalam laporan Dokumen Pelaksanaan Anggaran, beberapa nama warga tercantum tapi setelah dilakukan pengecekan ternyata bantuan tidak sampai.
“Dugaanya seperti itu, setelah kita lakukan pengecekan ke masyarakat ternyata mereka mengaku tidak menerima dana tersebut,” ungkap Kasi Pidsus Kejari, Agus Robani, Jumat (8/5).
Diakui, dugaan penyimpangan penyaluran dana hibah ini berasal dari pengaduan sejumlah masyarakat ke kejari. Kejaksaan sendiri sudah membentuk tim dan melakukan pengecekan ke nama-nama masyarakat atau kelompok yang namanya tercantum dalam dokumen pelaksanaan anggaran.

Seperti disampaikan warga RT 001/RW 011, Dukuh Kabonan, Desa Jenengan, Sawit, Joko Sriyono (46), dalam DPA, RT 001 tercantum sebagai penerima dana hibah untuk ternak kambing senilai Rp 3 juta. Namun ternyata, yang
bersangkutan tidak mendapatkan bantuan tersebut.
“Saya pernah klarifikasi ke Pak RT tetapi RT juga tidak tahu. Bantuan itu yang mengusulkan siapa dan diterima siapa kami juga tidak tahu,” kata Joko.
Sementara itu, Kamis (7/5), kepala desa se-Kecamatan Banyudono memenuhi panggilan Kejari Boyolali untuk dimintai klarifikasi mengenai dana hibah tahun 2014. Selain seluruh kepala desa, Camat Banyudono Rita Puspita
Sari juga hadir dalam agenda klarifikasi tersebut. Klarifikasi dilakukan sejak pagi sekitar pukul 09.00 WIB hingga sore.
“Sementara Banyudono dulu, kecamatan lain menyusul,” imbuhnya.

Dugaan Penyimpangan Dana Hibah Rp 31,94 Miliar Diselidiki


dok.timlo.net/nanin

Kejaksaan Negeri Boyolali mulai melakukan penyelidikan dugaan penyimpangan dana hibah 2014 sebesar Rp 31,94 miliar. Dana hibah ini diduga tidak menyasar ke kelompok atau masyarakat. Sementara dalam laporan Dokumen Pelaksanaan Anggaran, beberapa nama warga tercantum tapi setelah dilakukan pengecekan ternyata bantuan tidak sampai.
“Dugaanya seperti itu, setelah kita lakukan pengecekan ke masyarakat ternyata mereka mengaku tidak menerima dana tersebut,” ungkap Kasi Pidsus Kejari, Agus Robani, Jumat (8/5).
Diakui, dugaan penyimpangan penyaluran dana hibah ini berasal dari pengaduan sejumlah masyarakat ke kejari. Kejaksaan sendiri sudah membentuk tim dan melakukan pengecekan ke nama-nama masyarakat atau kelompok yang namanya tercantum dalam dokumen pelaksanaan anggaran.

Seperti disampaikan warga RT 001/RW 011, Dukuh Kabonan, Desa Jenengan, Sawit, Joko Sriyono (46), dalam DPA, RT 001 tercantum sebagai penerima dana hibah untuk ternak kambing senilai Rp 3 juta. Namun ternyata, yang
bersangkutan tidak mendapatkan bantuan tersebut.
“Saya pernah klarifikasi ke Pak RT tetapi RT juga tidak tahu. Bantuan itu yang mengusulkan siapa dan diterima siapa kami juga tidak tahu,” kata Joko.
Sementara itu, Kamis (7/5), kepala desa se-Kecamatan Banyudono memenuhi panggilan Kejari Boyolali untuk dimintai klarifikasi mengenai dana hibah tahun 2014. Selain seluruh kepala desa, Camat Banyudono Rita Puspita
Sari juga hadir dalam agenda klarifikasi tersebut. Klarifikasi dilakukan sejak pagi sekitar pukul 09.00 WIB hingga sore.
“Sementara Banyudono dulu, kecamatan lain menyusul,” imbuhnya.

Mengapa Surat At Taubah tidak diawali dengan Bismillah?

Seorang muslim pernah bertanya kepada Syaikh DR Yusuf Qardhawi mengapa di awal surat At Taubah tidak dicantumkan bismillah? Sedangkan 113 surat lainnya selalu didahului dengan bismillah.

Pertanyaan tersebut dijawab Syaikh DR Yusuf Qardhawi sebagai berikut:

Ada sejumlah pendapat di kalangan ulama tentang tidak dicantumkannya basmalah dalam Surat At Taubah. Adapun pendapat yang paling kuat adalah pendapat Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau menjelaskan, “Bismillahirrahmanirrahiim adalah suatu kedamaian, sedangkan surat At Taubah diturunkan tanpa kedamaian.”

Maksudnya, surat At Taubah diturunkan dengan menyatakan pemutusan ikatan dan perjanjian antara kaum muslimin dan kaum musyrikin kecuali beberapa perjanjian yang menyebutkan batas waktu tertentu. Itupun dengan syarat tidak dikhianati dan tidak dirusak oleh kaum musyrikin.

Ketika itu kaum musyrikin berulah merusak perjanjian damai dengan bekerja sama dengan kaum Yahudi, sehingga tidak ada lagi ikatan perjanjian dan jaminan dari kaum muslimin bagi mereka. Tidak ada lagi peraturan yang harus diberlakukan kepada kaum musyrikin. Tidak ada lagi tanggung jawab moral bagi umat Islam untuk menjamin perdamaian dengan mereka. Islam membuat perhitungan dengan mereka karena mereka mengkhianati kaum muslimin.


بَرَاءَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).” (QS. At Taubah: 1)

Basmalah yang mendahului 113 surat dalam Al Qur’an senantiasa disertai dua sifat Allah; ar rahman dan ar rahim. Kalimat ini merupakan jaminan kedamaian dan ketenteraman bagi setiap orang. Ar Rahman adalah sifat pengasih Allah yang memberikan nikmat di dunia kepada seluruh manusia tanpa memandang agama. Ar Rahim adalah sifat Allah yang memberikan kasih sayang di akhirat nanti khusus bagi kaum muslimin. Keduanya bernuansa kedamaian. Sedangkan surat At Taubah lebih banyak memerintahkan umat Islam agar memerangi kaum musyirikin yang telah melanggar perjanjian dan mengkhianati umat Islam.

Wallahu a’lam bish shawab. [Ibnu K/bersamadakwah]

*Disarikan dari fatwa Syaikh DR Yusuf Qardhawi dalam Fatawa Mu’ashirah (Fatwa-Fatwa Kontemporer)

Mengapa Surat At Taubah tidak diawali dengan Bismillah?

Seorang muslim pernah bertanya kepada Syaikh DR Yusuf Qardhawi mengapa di awal surat At Taubah tidak dicantumkan bismillah? Sedangkan 113 surat lainnya selalu didahului dengan bismillah.

Pertanyaan tersebut dijawab Syaikh DR Yusuf Qardhawi sebagai berikut:

Ada sejumlah pendapat di kalangan ulama tentang tidak dicantumkannya basmalah dalam Surat At Taubah. Adapun pendapat yang paling kuat adalah pendapat Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau menjelaskan, “Bismillahirrahmanirrahiim adalah suatu kedamaian, sedangkan surat At Taubah diturunkan tanpa kedamaian.”

Maksudnya, surat At Taubah diturunkan dengan menyatakan pemutusan ikatan dan perjanjian antara kaum muslimin dan kaum musyrikin kecuali beberapa perjanjian yang menyebutkan batas waktu tertentu. Itupun dengan syarat tidak dikhianati dan tidak dirusak oleh kaum musyrikin.

Ketika itu kaum musyrikin berulah merusak perjanjian damai dengan bekerja sama dengan kaum Yahudi, sehingga tidak ada lagi ikatan perjanjian dan jaminan dari kaum muslimin bagi mereka. Tidak ada lagi peraturan yang harus diberlakukan kepada kaum musyrikin. Tidak ada lagi tanggung jawab moral bagi umat Islam untuk menjamin perdamaian dengan mereka. Islam membuat perhitungan dengan mereka karena mereka mengkhianati kaum muslimin.


بَرَاءَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).” (QS. At Taubah: 1)

Basmalah yang mendahului 113 surat dalam Al Qur’an senantiasa disertai dua sifat Allah; ar rahman dan ar rahim. Kalimat ini merupakan jaminan kedamaian dan ketenteraman bagi setiap orang. Ar Rahman adalah sifat pengasih Allah yang memberikan nikmat di dunia kepada seluruh manusia tanpa memandang agama. Ar Rahim adalah sifat Allah yang memberikan kasih sayang di akhirat nanti khusus bagi kaum muslimin. Keduanya bernuansa kedamaian. Sedangkan surat At Taubah lebih banyak memerintahkan umat Islam agar memerangi kaum musyirikin yang telah melanggar perjanjian dan mengkhianati umat Islam.

Wallahu a’lam bish shawab. [Ibnu K/bersamadakwah]

*Disarikan dari fatwa Syaikh DR Yusuf Qardhawi dalam Fatawa Mu’ashirah (Fatwa-Fatwa Kontemporer)

Mau Tau?? Ini Lhoo Bahaya Onani Bagi Kejiwaan



BANYAk referensi medis menyebutkan bahwa sekarang ini masturbasi menjadi salah satu aktivitas para bujangan lelaki khususnya. Dalam Islam, sudah jelas hukum soal kegiatan yang satu ini. Namun, medis juga memberikan penilian tersendiri soal dampaknya secara mental. Apa saja?


1. Perasaan bersalah setelah masturbasi / onani.
2. Pada beberapa kasus, banyak anak muda yang kecelakaan ketika beraktifitas / bekerja akibat tidak fokus / konsentrasi.
3. Jadi sering melamun.
4. Berpotensi terserang penyakit psikologi yang bernama ‘Bipolar Disorder’ (Gangguan Bipolar), jika terserang penyakit ini akan sulit disembuhkan, obatnya adalah kekuatan iman. Hasil dari penyakit ini jika makin parah akan menjadi sex maniac / maniak seks .
5. Jika sudah terbiasa masturbasi / onani, maka ketika ditahan untuk tidak melakukannya, sang sperma akan keluar dengan sendirinya (ini kasus paling kronis). Karena ini adalah hasil dari perintah otak yang tidak dapat ‘menahannya’.

6. Mudah marah, pelampiasannya adalah masturbasi.
Namun, medis juga memberikan cara pencegahannya sejak dini.
1. Rajin beribadah / mendekatkan diri ke agama dan hal-hal yang dianjurkan agama.
2. Lakukan kegiatan positif seperti main game / gaming, baca buku, nonton TV / Bioskop / DVD, Browsing dsj.
3. Hindari pikiran, ucapan, dan perbuatan yang berjenis pornografi / pornoaksi.
4. Cari pergaulan/teman yang positif / membangun diri kita.
5. Jangan nonton / download / lihat hal-hal yang menjurus ke arah pornografi / pornoaksi dalam bentuk apapun.
6. Jika punya ‘koleksi’ di komputer, rak, dan tempat-tempat ‘rahasia’ lain. Binasakan semuanya sedini mungkin.
7. Seringlah membaca Al-Quran. Jangan mendengar lagu-lagu. Apalagi lagu dugem. Bisa memunculkan pikiran negatif.
8. Kendalikan dirimu sendiri. Jika teman/relasi/keluarga mengajak beraktivitas / jalan-jalan, usahakan ikut berpartisipasi, jika anda sering berada di rumah / kamar sendirian, makin besar potensi untuk masturbasi / onani.
9. Jangan melamun

Bahaya Onani Bagi Kejiwaan


wajah lelaki menyesal sedih

BANYAk referensi medis menyebutkan bahwa sekarang ini masturbasi menjadi salah satu aktivitas para bujangan lelaki khususnya. Dalam Islam, sudah jelas hukum soal kegiatan yang satu ini. Namun, medis juga memberikan penilian tersendiri soal dampaknya secara mental. Apa saja?
1. Perasaan bersalah setelah masturbasi / onani.
2. Pada beberapa kasus, banyak anak muda yang kecelakaan ketika beraktifitas / bekerja akibat tidak fokus / konsentrasi.
3. Jadi sering melamun.
4. Berpotensi terserang penyakit psikologi yang bernama ‘Bipolar Disorder’ (Gangguan Bipolar), jika terserang penyakit ini akan sulit disembuhkan, obatnya adalah kekuatan iman. Hasil dari penyakit ini jika makin parah akan menjadi sex maniac / maniak seks .
5. Jika sudah terbiasa masturbasi / onani, maka ketika ditahan untuk tidak melakukannya, sang sperma akan keluar dengan sendirinya (ini kasus paling kronis). Karena ini adalah hasil dari perintah otak yang tidak dapat ‘menahannya’.

6. Mudah marah, pelampiasannya adalah masturbasi.
Namun, medis juga memberikan cara pencegahannya sejak dini.
1. Rajin beribadah / mendekatkan diri ke agama dan hal-hal yang dianjurkan agama.
2. Lakukan kegiatan positif seperti main game / gaming, baca buku, nonton TV / Bioskop / DVD, Browsing dsj.
3. Hindari pikiran, ucapan, dan perbuatan yang berjenis pornografi / pornoaksi.
4. Cari pergaulan/teman yang positif / membangun diri kita.
5. Jangan nonton / download / lihat hal-hal yang menjurus ke arah pornografi / pornoaksi dalam bentuk apapun.
6. Jika punya ‘koleksi’ di komputer, rak, dan tempat-tempat ‘rahasia’ lain. Binasakan semuanya sedini mungkin.
7. Seringlah membaca Al-Quran. Jangan mendengar lagu-lagu. Apalagi lagu dugem. Bisa memunculkan pikiran negatif.
8. Kendalikan dirimu sendiri. Jika teman/relasi/keluarga mengajak beraktivitas / jalan-jalan, usahakan ikut berpartisipasi, jika anda sering berada di rumah / kamar sendirian, makin besar potensi untuk masturbasi / onani.
9. Jangan melamun

Boyolali : Lomba Burung Se-Indonesia, Perebutkan Hadiah Rp 151 Juta


timlo.net/nanin

Ribuan pecinta burung dari berbagai daerah di Indonesia, tumpah ruah di alun-alun kabupaten Boyolali, Minggu (10/5). Pihak penyelenggara tidak menyangka, perlombaan yang baru pertama kalinya digelar di Kota Susu, peminatnya membludak. Sementara total hadiahnya mencapai Rp 151 Juta.
”Peserta lomba berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Yogjakarta. Beberapa kelas yang dilombakan yakni cucak hijau, murai batu, love bird, anis merah, cucak jenggot, kacer, pleci, dan lain sebagainya. Beberapa juga ada yang dari luar jawa, luar biasa sekali ini pesertannya,” ujar Joko Susilo panitia lomba.
Sementara untuk juri, pihak panitia mendatangkan juri tingkat nasional seperti dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DIY, dan Jakarta. Ada 12 juri dan dua koordiantor lapangan (korlap) yang nantinya memimpin pertandingan burung ini.
Disisi lain, Bupati Boyolali Seno Samodro mengatakan, lomba burung juga dalam rangka memperkenalkan Boyolali ke tingkat nasional. Selain itu, juga untuk memperkenalkan kantor terpadu Kemiri ke masyarakat luas. Dijelaskan keberadaan kantor terpadu kemiri di Boyolali ini banyak mengundang ketertarikan Kabupaten Kota lainnya.
“Hadiahnya terbesar dari event-event lomba burung yang pernah ada,” klaim Bupati.
Salah seorang peserta, Triswanto (37), warga Ampel mengatakan, dirinya sudah banyak mengikuti event seperti ini. Event burung di Boyolali termasuk besar, hal ini dilihat dari animo masyarakat luar yang datang kemarin. Pihaknya berharap lomba burung ini bisa rutin dilakukan setiap tahunnya.

Mengenaskan : Ratusan Muslim Rohingya Kelaparan Setelah Terdampar di Indonesia

Hampir sebanyak 600 pengungsi Rohingya dari Burma telah diselamatkan dari dua perahu kayu yang terdampar di pantai Aceh Utara, Indonesia. Dan mereka ditemukan dalam keadaan kelaparan.

"Secara umum mereka menderita kelaparan dan banyak dari mereka berbadan kurus," kata Kapolres Aceh Utara, Achamdi dilansir dari laman the Guardian, Senin (11/5).

Adapun perahu yang ditemukan penuh sesak dengan membawa puluhan anak-anak diantara pengungsi. Perahu yang mereka tumpangi ditarik oleh nelayan setelah kehabisan bahan bakar.


"Menurut informasi yang kami miliki sejauh ini, orang-orang di kapal berasal dari Burma. Mereka adalah muslim dari masyarakat Rohingya," kata juru bicara tim SAR Aceh, Mohammed Arif Mutaqin.

Rombongan tersebut bertolak dari Thailand semenjak tujuh hari yang lalu. Berdasarkan informasi dari pihak yang berwenang, beberapa diantara mereka telah meninggal selama dalam perjalanan.

Gengsi Artis di Prostitusi

Oleh: Ma’mun Affany, Penulis Novel 29 Juz Harga Wanita, Penulis Bina Qalam Indonesia, @affany1986
burung
THOMAS Aquinas mengibaratkan pelacuran sebagai sebuah “selokan” dalam istana. Sebagus-bagusnya istana tanpa selokan untuk membuang kotoran, kemegahan tersebut akan hilang. Hal ini kemudian menjadi sumber dalih untuk mempertahankan lahan pelacuran. Seolah dari penyataan ini lahan tersebut harus ada bagaimanapun caranya.
Berabad-abad lalu pelacuran di muka bumi ini memang sudah dikenal. Meretrice yang hina dipaksa memakai wig dalam masyarakat bawah Romawi adalah contoh dari eksistensi pekerja seks komersial (PSK) sejak dahulu kala. Selain itu ada gadis-gadis candi (temple maidens) yang memberikan kegadisannya dalam upacara masyarakat purba juga menjadi salah satu bukti adanya pelacuran di zaman itu. (Mudji Sutrisno dkk: 2005)
Pelacuran sendiri lebih sering disebut dengan prostitusi yang berakar dari bahasa Latin pro-stituere atau pro-stauree. Artinya membiarkan diri berbuat zina. Dalam Kamus Bahasa Indonesia prostitusi dimaknai dengan pertukaran hubungan sosial dengan uang. Jangan heran jika uang memang menjadi alasan paling mendasar dalam dunia esek-esek tersebut.

Di zaman serba digital, jalan pelacuran lebih canggih, cukup melalui layar-layar handphone, pelakunya tidak hanya pelacur yang sudah mapan, remaja usia belasan mencicipi, atau anak-anak SMA yang seharusnya sedang belajar manis di sekolah juga ngikut. Mereka nyemplung, lagi-lagi bermotif uang. Bahkan artis yang sudah bergelimang harta.
Rasanya tidak ada yang menafikan bahwa kehidupan artis tidak kekurangan meskipun mungkin juga tidak berlebihan. Namun demikian ingin hidup mewah adalah persoalan tuntutan gengsi yang sebenarnya tidak semua orang bisa mengikuti. Hedonisme sudah menjadi ideologi baru hingga uang saja tidak cukup, namun harus mewah.
Senada dengan ini Khofifah menyatakan, “Saya melihat prostitusi online banyak terjadi karena lifestyle (gaya hidup)” (sindonews.com). Mereka rela untuk mengorbankan apapun demi gengsi dan jatidiri daripada dihina teman tidak kece, tidak wow karena tidak beraksesoris mahal.
Ternyata motif ekonomi tidak selamanya hadir karena kepepet, tapi juga dengan alasan mengikuti trend. Tuntutan gaya hidup artis tinggi, rutin ke salon, mobil mewah, jalan-jalan ke luar negeri, alih-alih ngempet untuk membeli, bekerja keras, justru melacur jadi jalur alternatif. Sebuah ironi, gaya yang tak seberapa berharga, harus ditebus dengan menjual diri.
Pertimbangan ini seharusnya juga digunakan sebagai alasan untuk tidak melegalkan prostitusi dimanapun dengan cara apapun. Pemasukan pajak dari bisnis ini tidak seharusnya ditukar dengan rusaknya moral remaja melewati pelegalan pelacuran. Sangat naif jika jadi pertimbangan sebuah bangsa yang berlandaskan kemanusiaan yang adil dan beradab.
Prostitusi jangan dilihat sebatas sebagai tempat buang hajat layaknya Thomas Aquinas, jangan. Apalagi sudah dianggap lumrah. Lokalisasi harus dilihat sebagai virus yang akan menjalar dan membawa wabah bagi orang yang datang, orang yang sudah pulang atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Dalam virus ini tidak hanya terkandung candu pemuasan seksual terlarang, tapi juga minuman keras, dan obat-obatan haram.
Dalam falsafah jawa kandungan virus tersebut adalah tiga di antara lima perusak utama moral yang dikenal dengan istilah mo-limo (ma-lima). Madat artinya pecandu narkoba, madon artinya suka main perempuan, minum yang artinya suka dengan minum-minuman keras. Jika virus ini menyebar, sudah dapat dipastikan moral dari sebuah peradaban hancur berserakan.
Lokalisasi Dolly di Surabaya telah menumbuhkan anak berusia 8 tahun yang sudah ketagihan asusila karena hampir setiap hari melihat adegan seksual, juga melahirkan anak berusia 14 tahun yang dipaksa germo menjadi penjaja cinta dan narkoba karena diancam agar ibunya tidak ditendang dari wisma (tempo.co). Bu Risma sebagai walikota menyadari kebobrokan ini, kini Dolly hanya menjadi kenangan sejarah kelam kota pahlawan.
Rasanya tidak ada yang menghendaki bagian terkecil dari keluarga untuk berzina, sehingga Rasulullah SAW. menyadarkan seorang pemuda yang meminta izin untuk berzina dengan balik bertanya, “Apakah engkau suka ibumu berzina?” dalam kasus ini bisa diilustrasikan dengan pertanyaan, “Apakah kamu rela jika ibumu jadi pelacur?” hati nurani kita pasti menjawab tidak.

Minggu, 10 Mei 2015

Gunung Merapi Sering Keluarkan Asap Solfatar

Gunung Merapi sering mengembuskan asap solfatara. Bahkan setiap saat asap keluar dari puncak gunung meskipun tidak tebal. 

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Subandriyo mengatakan, karena Merapi adalah gunung aktif, keluarnya asap itu merupakan hal yang rutin.

Gunung Merapi Sering Keluarkan Asap Solfatara
"Kalau asapnya putih tebal, akibat dari hujan," kata Subandriyo, Sabtu, 9 Mei 2015.

Adanya asap solfatara itu tidak mempengaruhi aktivitas masyarakat di sekitar. Namun, karena di wilayah rawan bencana, masyarakat diminta hati-hati dan selalu waspada meskipun status gunung masih normal.

Menurut Subandrio, kondisi Merapi seperti ini tidak karena pengaruh gempa bumi di beberapa tempat di Indonesia seperti di Sumatera Utara, pada Jumat, 8 Mei 2015. 


Pascaerupsi besar 2010, Merapi belum menampakkan aktivitas yang mengarah ke letusan. Padahal banyak orang menganggap gunung itu meletus setiap empat tahun atau siklus empat tahunan. 

Subandriyo mengatakan tidak ada siklus empat tahunan erupsi Merapi. Namun memang ada perulangan erupsi tetapi waktunya tidak pasti.

Jika dikatakan siklus, maka berhubungan dengan kejadian yang teratur. Sedangkan waktu erupsi gunung itu tidak teratur dan tidak tentu waktunya.

Keluarnya asap solfatara juga terdeteksi terjadi pada Jumat sore. Asap putih tebal muncul dari rekaman ladang solfatara. Juga pada pada 6 Mei, dan 7 Mei asapnya mencapai ketinggian seratus meter. 

Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Heri Suprapto, mengatakan, asap solfatara ini memang terlihat dari wilayahnya. Warga sekitar tidak terlalu terganggu dan tetap beraktivitas seperti biasa.

"Kami sebagai warga selalu siap jika ada tanda-tanda erupsi," kata Subandrio.

Tempo