Kamis, 07 Agustus 2014

Etika Melihat Sesama Lelaki



Seorang lelaki tidak diperbolehkan melihat anggota tubuh lelaki lain yang terdapat antara pusar sampai lutut, baik lelaki yang dilihat itu adalah kerabat maupun orang lain, baik muslim maupun kafir. Adapun selain anggota tubuh tersebut, seperti : perut, punggung, dada, dan lain-lain, maka hukumnya boleh selama tidak menimbulkan fitnah (aman)
Dasar pengharamannya adalah hadist riwayat Muslim dari Nabi Saw :
“Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya dan jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lain.”
Ahmad dan Ashhabus Sunan meriwayatkan :“Peliharalah auratmu, kecuali terhadap istrimu atau budak yang kamu miliki,”

Hakim meriwayatkan dari Nabi Saw :“apa yang ada di antara pusar dan lutut adalah aurat.”
Hakim Meriwayatkan pula bahwa :“ Nabi Saw. Melihat seorang yang paha-nya terbuka. Kemudian beliau mengarahkan dan memberi petunjuk, seraya bersabda, “Tutuplah pahamu, karena paha itu adalah aurat.”
Dan dalam sebuah riwayat dari Tirmidzi dikatakan :“Paha itu adalah aurat.”
Setelah menyimak nash-nash di atas, akhirnya penulis sampai pada suatu kesimpulan, bahwa seorang laki-laki tidak boleh membuka bagian tubuhnya antara pusar sampai lutut, Baik ketika olah raga, maupun di dalam kamar mandi, meskipun syahwat dirasa aman. Kemudian, Apabila ia diperintah oleh seseorang untuk membuka auratnya, jangan menaatinya, dengan dasar hadist berikut :“Tidak ada ketaatan terhadap makhluk di dalam maksiat kepada Al-Khaliq (Allah).”
Sedangkan pendapat yang disandarkan kepada mahzab Maliki menyatakan, bahwa aurat itu hanya ada dua: Kemaluan dan dubur. Selain dua aurat itu boleh untuk dibuka. Anggapan ini tidak benar, bahkan termasuk kesalahan dan kesesatan.
Menurut mahzab Maliki, aurat itu terbagi dua: pertama, aurat ketika melakukan shalat. Kedua, aurat dalam kaitannya dengan melihat. Aurat ketika melakukan shalat  terbagi kepada dua bagian: pertama aurat mughallazhah (berat), yaitu dua aurat (kemaluan dan dubur). Kedua, aurat mukhaffafah (ringan), yaitu bagian tubuh antara pusar dan lutut. Jika aurat mughalazhah terbuka  pada waktu shalat maka mutlak shalat iti harus diulangi. Sedangkan jika aurat mukhaffafah yang tampak dalam shalat, maka diulangi di dalam waktu shalat itu saja. Jika waktu sudah habis, maka tidak perlu lagi diulang.
Sedangkan aurat di dalam memandang, haram hukumnya untuk ditampakkan, baik itu aurat mughalazdah maupun aurat mukhaffafah.
Aurat laki-laki dengan laki-laki lainnya adalah apa yang ada antara pusar dan lutut.
Aurat wanita dengan wanita lainnya, jika keduanya adalah muslimah, adalah bagian tubuh yang ada antara pusar dan lutut.
Aurat wanita muslimah dengan orang kafir adalah seluruh tubuhnya, selain wajah dan dua telapak tangan (menurut satu pendapat), dan seluruh badannya (menurut pendapat lain)
Aurat wanita dengan muhrimnya adalah seluruh tubuhnya selain wajah, kedua tangan, kepala, leher, dan kedua telapak kakinya. Selain itu adalah aurat yang tidak halal untuk dilihat.
Dari nash fikih Maliki tersebut dapat diketahui, imam-imam yang empat telah sepakat, bahwa aurat laki-laki dengan laki-laki adalah antar pusar dan lutut. Atas dasar ini, maka haram melihat anggota tubuh yang terdapat antara keduanya, dan selain anggota tubuh tersebut adalah halal.

Rabu, 06 Agustus 2014

Disbudpar Boyolali Menggelar Lomba Foto Objek Wisata

BOYOLALI—Lomba foto ini siapa tahu Anda tertarik mengikutinya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Boyolali menggelar lomba foto mulai Senin (4/8/2014) sampai 1 Oktober mendatang.
Lomba foto tersebut bertemakan objek wisata yang ada di Boyolali. Kepala Disbudpar Boyolali, Mulyono Santoso, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk mempromosikan kebudayaan dan pariwisata di Kota Susu.

Selain itu diharapkan dengan adanya lomba foto ini dapat memupuk potensi fotografer yang ada.
“Diharapkan dapat menemukan potensi fotografer yang handal dan profesional yang sekaligus bisa mempromosikan dan meningkatkan kujungan wisata di Boyolali,” ujarnya.

 
Sementara penjurian akan dilakukan pada tanggal 7 Oktober mendatang yang dilakukan oleh fotografer professional dan praktisi pariwisata.
Sedangkan pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada 14 Oktober. Untuk pemenang I akan mendapatkan hadiah uang pembinaan sebesar Rp1.500.000, Juara II sebesar Rp1.250.000, Juara III sebesar Rp750.000 dan Juara IV sebesar Rp. 500.000.

Budaya : Sapi di Boyolali Ikut Lebaran


Masyarakat setempat menamakan tradisi turun-temurun tersebut sebagai Lebaran Sapi. Waktunya bertepatan pada H+7 lebaran atau bagi masyarakat Jawa menamakannya dengan Syawalan. Di hari itu, sebelum digembalakan, ratusan sapi yang mayoritas adalah sapi perah tersebut juga mencicipi makanan khas Syawalan, Kupat. Selain sapi, hewan ternak lain seperti kambing juga ikut ambil bagian dalam perayaan. Dalam sehari tersebut, jalan di dukuh di kaki Merapi tersebut sejenak penuh dengan karnaval ternak.

Hadi Sutarno, tokoh masyarakat setempat mengungkapkan, muasal tradisi ini sudah berlangsung sejak dukuh Mlambong ada. Berdasarkan kearifan lokal warga setempat, tradisi tersebut adalah wujud syukur atas keberadaan sapi yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Maklum saja, dukuh setempat dikenal sebagai penghasil susu. Sedang Boyolali sendiri menempatkan sapi dan susu sebagai ikon wilayah.

Masih terkait tradisi tersebut, lanjutnya, di masyarakat setempat ada kepercayaan, pada hari ke tujuh lebaran, Nabi Sulaiman akan memeriksa sapi-sapi yang ada. Sehingga masyarakat mesti mempersiapkan sapinya dengan baik.

Tapi terlepas dari cerita tersebut, tradisi lebaran sapi ini dipertahankan masyarakat sebagai bentuk nguri-uri budaya leluhur. "Dari sapi dan hewan ternak lain, kami bisa menyambung hidup. Jadi tradisi ini bisa disebut sebagai penghargaan kami kepada peran sapi yang vital di kehidupan masyarakat sini," terang Suwarnu.

Aji (36) warga Manahan, Solo, yang khusus datang untuk menyaksikan perayaan tersebut mengatakan, tradisi Lebaran Sapi ini merupakan hal langka, dimana dalam sehari, pemilik ternak mengutamakan hewan ternaknya daripada dirinya sendiri. "Kearifan lokal seperti ini yang mesti dijaga agar tidak punah," tandasnya

Sapi ternyata punya hari istimewa. Di Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali, sapi dimanjakan dalam sehari, Senin (4/8). Mereka dimandikan, diberi pakan istimewa, diberi wangi-wangian, dijemur, dan akhirnya diarak keliling dukuh.

Kr

Korupsi di Boyolali: gara-gara 100 % kan Proyek jadi Tersangka

BOYOLALI–Kejaksaan Negeri (Kejari) Boyolali menetapkan lima tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi proyek rehabilitasi Bendung Penggung, Desa Karangjati, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali.

Satu tersangka di antaranya adalah kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Boyolali, Haryono Samsuatmojo, yang juga mantan kepala Dinas Pekerjaan Umum, Pertambangan, Perhubungan, dan Kebersihan (DPUPPK) Boyolali. Tiga tersangka lainnya, juga merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab setempat, yaitu Yuniarto Eko Pramono yang saat ini menjabat Kasi Pembangunan dan Prasarana Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUESDM) Boyolali, serta Bagus Harto Wiyono dan Suhadi. Sementara satu tersangka lainnya, yakni Sunardi, pensiunan PNS Boyolali. Lima tersangka itu kini ditahan di Rutan Boyolali, setelah sebelummnya diperiksa dalam proses penyidikan di kantor Kejari setempat, Kamis (17/7/2014).

Dalam pelaksanaan proyek rehabilitasi Bendung Penggung tersebut, Haryono yang saat itu menjabat sebagai kepala DPUPPK Boyolali, merupakan kuasa pengguna anggaran proyek. Sementara Yuniarto, selaku pembantu pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPPTK). Sedangkan Sunardi, saat itu sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) dan pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK). Sementara Bagus saat itu sebagai ketua panitia penilai hasil pekerjaan pertama, dan Suhadi selaku koordinator pengawas lapangan.

Kepala Kejari (Kajari) Boyolali, Andi Murji Machfud, didampingi Kasi Pidana Khusus (Pidsus), Haris Suherlan, mengemukakan saat pemeriksaan kemarin, masing-masing tersangka diperiksa dengan pertanyaan sekitar 20 hingga 30 item seputar pelaksanaan proyek tersebut. Penetapan tersangka terhadap kelima orang itu, lanjut Haris, berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan dalam beberapa waktu terakhir ini.

“Kelima tersangka tersebut membuat dokumen pencairan [anggaran] 100 persen, namun pada pelaksanaannya, pekerjaan hanya selesai 80 persen, sehingga pekerjaan belum selesai,” ungkap Haris.
Ditambahkan dia, kelima tersangka dikenakan Pasal 2 Ayat 1 Jo Pasal 18 Undang-undang (UU) No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).
Haris menjelaskan alasan ditahannya kelima tersangka di Rutan Boyolali mulai Kamis tersebut, karena dikhawatirkan mereka akan melarikan diri.

solopos

Bahaya Kultus Individu

Aus Hidayat Nur Komitmen sejati seorang muslim adalah membersihkan hati dan jiwanya dari berbagai noda kemusyrikan. Seorang muslim meyakini tiada kekuatan kecuali kekuatan Allah, dia tidak akan bersandar lagi kepada kekuatan benda-benda seperti keris kamenyeng, ruwatan, atau kekuatan spiritual dari paranormal atau dukun. Dia tidak akan memelihara jin meskipun mengaku jin muslim, karena semua itu tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Dirinya juga bersih dari mengagung-agungkan jabatan dan kedudukan dan menggantinya dengan mengagungkan serta memuliakan Allah. Komitmen sejati seorang muslim adalah menyambut seruan Allah untuk melaksanakan syariat-Nya di muka bumi. Dengan meyakini Allah sebagai Raja yang memimpin Alam semesta ini sehingga segala puji itu hanyalah bagi Allah semata.

Manusia adalah makhluk Allah yang khas. Masing-masing memiliki keistimewaan. Karena itu Al-Quran mengingkari manusia yang menghilangkan kepribadiannya dan menjadi pembebek (pengikut) orang lain dalam kekeliruannya. Biasanya manusia sangat terpengaruh untuk mengikuti para pemimpin, pejabat dan penguasa dengan berlebih-lebihan sehingga mereka mengkultuskannya. Adapula yang menyucikan para tokoh pujaannya sehingga ia menjadikan orang itu sebagai tuhan-tuhan yang ia patuhi dalam setiap yang ia putuskan.


Di masa lalu, Fir’aun – yang mengaku dirinya sebagai tuhan – dipuja-puja oleh pengikutnya sehingga dianggap tak pernah bersalah. Demikian juga Hitler dan Musolini yang merupakan diktator yang diagungkan kehebatannya. Di negeri kita Presiden Soekarno punya pengikut fanatik yang banyak. Pada masa kejayaannya Soeharto punya pengikut yang menganggapnya manusia yang lain dari yang lain sehingga mereka memberi gelar “Bapak Pembangunan”. Sekarang ini juga muncul para pemuja yang menganggap bahwa tindakan pemimpinnya selalu benar. Bahkan meskipun aneh dan menyimpang tetap saja dianggap perbuatan wali (orang suci). Dibela habis-habisan meskipun jelas-jelas salah dan kebenaran pun dijungkirbalikkan.

Sungguh keliru pandangan seperti itu. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam saja tidak boleh diagungkan melampaui batas yang ditentukan. Beliau menyatakan dirinya sebagai manusia biasa sebagaimana kita. Penghormatan kepada beliau pun sebatas sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.
Perbuatan kultus kepada pemimpin merupakan sikap yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Sebab Islam tidak pernah mengajarkan mengagungkan manusia melebihi kadar yang dibolehkan. Pada hari kiamat nanti orang-orang yang mengkultuskan para pembesar ini akan menyesal dan menyadari kesalahan mereka, “Dan mereka berkata, “Ya Tuhan Kami, sesungguhnya Kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan yang benar”.” (QS. Al-Ahzab: 67).

Di antara manusia yang Allah takdirkan menjadi penguasa memang ada jenis manusia yang membawa kepada kemunkaran dan kezhaliman. Setiap muslim wajib mewaspadainya dan mereka berkewajiban melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa yang zhalim. Tidak boleh membiarkan kesalahannya merembet kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Meluruskan yang bengkok dan memperbaiki yang salah adalah kewajiban setiap muslim. Bukan menjadi pembebek-pembebek orang-orang yang menegakkan kebathilan itu meskipun kebanyakan orang telah menjadi pengikutnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,  “Janganlah seseorang di antara kamu menjadi ima’ah”. Seorang sahabat bertanya, “Apakah ima’ah itu ya Rasulullah?” “Ima’ah itu adalah orang yang berkata, ‘Saya mengikuti bagaimana masyarakat saja, jika masyarakat baik, maka saya akan menjadi baik, namun jika masyarakat buruk, saya pun akan bersikap buruk’”, jawab Rasulullah. Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Tetapi perkuatlah jiwa kalian, jika masyarakat baik ikutilah kebaikan mereka, dan jika masyarakat buruk maka jauhilah keburukan mereka”. (HR. Turmudzi)

Masyarakat ima’ah (pembebek) itu terjerumus mengikuti pemimpin yang mengajak pada kesesatan. Allah memperingatkan,  “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi. Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka’.” (QS. Ibrahim: 28-30). Yang dimaksud menukar nikmat Allah dengan kekafiran adalah menukar kepemimpinan yang Allah berikan dengan menolak melaksanakan syariat Allah di muka bumi. Kekuasaan hanyalah amanat dari Allah dan para penguasa harus menjalankannya sesuai dengan kehendak Allah. Para penguasa yang mempertahankan kelemahannya dengan segala cara dan tipu daya tergolong membawa rakyatnya pada kekufuran dan akan menanggung akibatnya di Hari Akhirat nanti.

Bila penguasa tidak berjalan di atas syariat yang benar maka kebenaran dan kebatilan akan menjadi jungkir balik. Bila penguasa tidak memiliki tanggung jawab terhadap amanat yang dipikulnya maka dia akan membiarkan kondisi masyarakat porak poranda. Dia tidak menjalankan fungsinya menimbulkan ketenteraman di tengah masyarakat. Dia membiarkan rakyatnya saling bertikai bahkan mungkin saling bunuh.

Sebagai hamba Allah, manusia tentu punya kelebihan dan kekurangan. Demikian juga para pemimpin di suatu negeri. Kelebihannya itu bukan untuk disucikan dan diagungkan manusia lain, sedangkan kekurangannya pun bukan untuk dihina manusia lain. Kelebihan manusia selayaknya didayagunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, dipadukan dengan kelebihan manusia lain agar semakin kokoh dan kuat.

Sementara itu kekurangan setiap manusia harus diakui dan jangan sampai dianggap kelebihan sehingga terjebak pada sikap membenarkan yang salah. Kekurangan manusia dapat ditutupi dengan bekerja sama dengan manusia lain. Manusia dituntut bekerja sama, bahu membahu, dan saling tolong menolong untuk memunculkan kebajikan takwa. Manusia dilarang bekerja sama dalam dosa dan permusuhan. Firman Allah Ta’ala, “Bekerjasamalah kalian dalam kebajikan dan taqwa dan janganlah kalian bekerja sama dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maaidah: 2)

Dalam pandangan Islam, setiap orang dapat disebut baik sepanjang pribadinya membawa kebajikan dan ketakwaan. Artinya, dalam hubungan horizontalnya di tengah manusia dia bermanfaat dan menjadi sumber berbagai kebaikan bagi orang lain. Orang merasakan kehadirannya sebagai manusia yang penuh keberkahan. Sedangkan dalam hubungan vertikalnya, dia dapat meningkatkan ketakwaan dirinya dan ketakwaan orang lain kepada Allah. Manusia yang hidupnya menyusahkan orang lain atau menjauhkan manusia dari jalan Allah adalah manusia yang buruk.

Bila suatu masyarakat bersepakat bahwa seorang pemimpin itu hidupnya menyulitkan orang lain, hampir dapat dipastikan bahwa orang tersebut memang jelek. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,  “Ada tiga orang yang dibenci Allah (salah satu di antaranya) seseorang yang memimpin suatu masyarakat sedangkan mereka membenci pemimpin itu”. (Al Hadits).
Memuliakan manusia ada batasnya. Kita wajib memberikan hak manusia untuk dihargai sesuai dengan dhawabith (patok-patok berpikir) yang ditentukan ajaran Islam menghormati manusia lain tidak boleh sampai menyanjung atau memujanya. Setiap orang berhak memperoleh penghargaan sesuai dengan tuntutan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, “Man lam yasykurinaas lam yasykurillah” (Barang siapa yang tidak pandai mensyukuri kebaikan manusia berarti belum disebut bersyukur kepada Allah). Tetapi penghargaan itu tidak boleh sesuatu yang menjerumuskan kita pada kemungkaran dalam aqidah.

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Hubbuka fissyai yu’ma wa yu’sham” (Kecintaanmu kepada sesuatu itu dapat membutakan dan menulikan kamu). Menyukai sesuatu tidaklah dilarang sepanjang tidak melanggar kaidah-kaidah yang telah ditentukan dalam ajaran Islam.
Ada dua kaidah yang harus dipegang teguh: Pertama, menyukai orang tertentu tidak boleh sampai jatuh kepada kultus yang dilarang. Kedua, mencintai harus karena Allah. Artinya, seseorang itu disukai kalau memang disukai Allah dan seseorang itu dibenci jikalau dibenci Allah. Jadi bukan ukuran masyarakat banyak yang menjadi standar. Orang yang mencintai orang lain secara buta tuli sangat berbahaya karena menimbulkan kultus individu dan kemurkaan Allah.

Di antara akibat buruk dari kultus individu adalah,
1. Membawa pada kemusyrikan, sedang syirik merupakan dosa besar yang tidak diampuni Allah sampai pelakunya benar-benar bertaubat.

2. Menyeret pelakunya pada kekafiran yaitu bila orang yang menjadi tokoh pujaannya mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

3. Mudah dibodohi orang lain karena pertimbangan akalnya sudah hilang diganti oleh pertimbangan emosi dan kedangkalan berpikir.

4. Tidak mampu melihat kebenaran pada pendapat orang lain, bagaikan orang yang buta matanya, hati orang yang sedang kultus pun buta dari melihat kebenaran. Dia selalu menyalahkan orang lain.

5. Mudah menyesal dan putus asa sebab tatkala yang dipujanya mengalami kebangkrutan dia pun akan frustrasi dan bangkrut pula.

6. Menimbulkan berbagai pertentangan, kebencian, dan permusuhan dalam masyarakat karena pembelaan orang yang kultus terhadap pujaannya menimbulkan pertentangan.

Manusia, khususnya bangsa Indonesia, sering kali tidak mampu mengambil pelajaran dari masa lalu. Betapa banyaknya orang-orang yang tadinya dipuja-puji pada akhir kehidupannya dicaci maki. Mengapa kesalahan-kesalahan masa lalu selalu terulang kembali? Ini disebabkan karena mereka tidak mau menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dalam memilih pemimpin. Karena mereka melupakan bimbingan Kitabullah dalam melaksanakan kehidupan.

Saduran dari Khutbah Idul Adha 1412 H

oleh Ust Aus Hidayat Nur

Sumber: dakwatuna

Daftar Tempat Wisata di Boyolali

Kampoeng Air
5 Km dari pusat kota Boyolali dan berada di lereng pegunungan, tepatnya di desa Watu Genuk, Kragilan Mojosongo Boyolali. Area ini menjulur sekitar 1000 m persegi di atas sebuah sungai di selatannya, jadi bisa di artikan tempat ini berada di bawah jembatan dan jalan. Meskipun tempatnya asri bertolak belakang dengan ke adaan setelah hujan, air yang semula jernih ke hijau2an berubah menjadi coklat seperti lautan milo. Mungkin karena efek pembangunan yang belum selesai.


Umbul Tlatar Boyolali
Tempat wisata di Boyolali mandi alam dan Umbul Umbul Asem Tlatar Pengilon di Dusun, Desa Kebonbimo, 7 km dari Boyolali, ada panggung terbuka, restoran terapung, dan memancing.

Reservoir Cengklik Boyolali
Tempat wisata di Boyolali di Desa Ngargorejo dan Sobokerto, Ngemplak Kabupaten, sekitar 20 km dari kota dengan luas genangan 300 ha Boyolali, yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda.

Wana Kedung Ombo Boyolali
Tempat wisata di Boyolali Wonoharjo Desa, Kemusu, sekitar 50 km dari kota Boyolali memberikan alasan berkemah, Holidays Forest, Fishing, Mengambang Makan, dan Perjalanan Udara.


Makam Ki Ageng Kebo Kenanga Boyolali
Tempat wisata di Dusun Pengging Boyolali, Jembungan, Kecamatan Banyudono yang merupakan makam Ki Ageng Kebo Kenanga, yang masih keturunan raja-raja Majapahit.

Makam Ki Ageng Singoprono Boyolali
Tempat wisata di desa Boyolali Nglembu, Kecamatan Sambi, sekitar 15 km dari kota Boyolali, dengan ratusan langkah ke makam Ki Ageng Singoprono yang berada di puncak Gunung Tugel.

Makam Raja Handayaningrat Boyolali
Tempat wisata di Boyolali Malang terletak di Dusun, Kampung Dukuh, Kecamatan Banyudono, yang juga adalah keturunan raja-raja Majapahit.

Makam Raden Ngabehi Yosodipuro Boyolali
Tempat wisata di Boyolali Pengging, Kecamatan Banyudono, yang berada di dekat Masjid Cipto Mulyo Pengging, yang hidup penyair Surakarta di PB II, III dan IV.

Masjid Cipto Mulyo Pengging Boyolali
Tempat wisata di Boyolali di lokasi wisata air Pengging yang merupakan peninggalan Raja Pakubuwono X, gaya arsitektur khas masjid dengan ornamen kayu.

Rumah Pracimoharjo Boyolali
Tempat wisata di Boyolali di Desa Paras, Cepogo Kabupaten, sekitar 6 km dari Boyolali kota, yang merupakan petilasan Sri Susuhunan doa Paku Buwono X Surakarta.

Petilasan Ki Kebo Kanigoro Boyolali
Tempat wisata di Boyolali di Dusun Pojok, Desa Samiran, Kecamatan Selo, yang merupakan tempat di mana petilasan Ki Kebo Kanigoro, putra Ki Ageng Pengging Sepuh.

Selo Boyolali
Tempat wisata di Kabupaten Boyolali Selo, sekitar Gunung Merapi dan Merbabu, setiap malam 1 Suro ada acara Sedekah Mt. Selo adalah pos pendakian Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Tirto Marto Pengging Boyolali
Tempat wisata di Boyolali di Desa Dukuh, Banyudono, 12 km dari kota Boyolali, sebelumnya hanya digunakan Raja dan keluarga Kraton Surakarta. Ada Ngabeyan Umbul Umbul dan dan Umbul Dudo pengantin.

Petilasan Ki Ageng Pantaran Boyolali
Tempat wisata di Boyolali Candisari Desa, Ampel, 17 km dari Boyolali, didirkan Ki Ageng Pantaran (Syekh Maulana Maghribi Ibrahim) yang menemukan mata air di perut Merbabu bernama Grojokan Sipendok