Rabu, 19 Februari 2014

Hujan, Kwalitas Durian Jeblok, Omset Anjlok

Boyolali — Sejumlah pedagang durian mengeluh omset mereka turun drastis menyusul hujan yang tidak kunjung reda. Kondisi ini membuat kwalitas durian turun, kebanyakan durian tahun ini rasanya kurang manis dan berair.
Salah satu pedagang durian, Nuri Surantini (38), warga Dukuh Slembi, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo menuturkan, tahun ini kualitas durian menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tingginya curah hujan menjadi kendala utama bagi citra rasa durian.
“Curah hujan tinggi menyebabkan buah durian jadi berair sehingga kualitasnya menurun, rasanya kurang memuaskan,” tutur Nuri, Selasa (18/2).
Kadar air yang tinggi menyebabkan buah durian tidak terasa manis. Bahkan banyak buah durian yang rasanya hambar atau sepa. Selain itu karena kandungan air tinggi sehingga daya tahan buah tidak terlalu lama. Kondisi ini pun membuat masyarakat yang hobi durian untuk membeli karena takut salah pilih. Apalagi harga durian juga tidak murah. Imbasnya, omzet pedagang pun menyusut drastis dari tahun sebelumnya.
Dok.Timlo.net/ Nanin
Dijelaskan, tahun sebelumnya saat musim durian dirinya mampu menjual hingga 400 buah durian dalam sehari. Namun kali ini, rata-rata penjualan hanya sekitar 100-an buah durian saja per hari. Untuk menyiasati kondisi ini, pihaknya harus memilih durian yang bagus. Durian yang bagus bisa dilihat dari jenis pohonya. Selain itu, dirinya juga menghindari membeli durian yang masih muda.

“Biar tidak mengecewakan pembeli, biasanya saya rasakan dulu, kalau enak saya bilang enak, kalau kurang manis ya saya bilang apa adanya,” ungkap Nuri yang mengaku tidak pernah kehilangan pelanggan.
Yulianto (46), salah satu penggemar durian warga Boyolali mengatakan, durian Boyolali rasanya cukup khas. Sehingga dia lebih suka berburu durian ke Kota Susu.
“Tapi tahun ini kurang manis, mungkin karena sering hujan,” imbuh dia.

Hujan, Kwalitas Durian Jeblok, Omset Anjlok

Boyolali — Sejumlah pedagang durian mengeluh omset mereka turun drastis menyusul hujan yang tidak kunjung reda. Kondisi ini membuat kwalitas durian turun, kebanyakan durian tahun ini rasanya kurang manis dan berair.
Salah satu pedagang durian, Nuri Surantini (38), warga Dukuh Slembi, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo menuturkan, tahun ini kualitas durian menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tingginya curah hujan menjadi kendala utama bagi citra rasa durian.
“Curah hujan tinggi menyebabkan buah durian jadi berair sehingga kualitasnya menurun, rasanya kurang memuaskan,” tutur Nuri, Selasa (18/2).
Kadar air yang tinggi menyebabkan buah durian tidak terasa manis. Bahkan banyak buah durian yang rasanya hambar atau sepa. Selain itu karena kandungan air tinggi sehingga daya tahan buah tidak terlalu lama. Kondisi ini pun membuat masyarakat yang hobi durian untuk membeli karena takut salah pilih. Apalagi harga durian juga tidak murah. Imbasnya, omzet pedagang pun menyusut drastis dari tahun sebelumnya.
Dok.Timlo.net/ Nanin
Dijelaskan, tahun sebelumnya saat musim durian dirinya mampu menjual hingga 400 buah durian dalam sehari. Namun kali ini, rata-rata penjualan hanya sekitar 100-an buah durian saja per hari. Untuk menyiasati kondisi ini, pihaknya harus memilih durian yang bagus. Durian yang bagus bisa dilihat dari jenis pohonya. Selain itu, dirinya juga menghindari membeli durian yang masih muda.

“Biar tidak mengecewakan pembeli, biasanya saya rasakan dulu, kalau enak saya bilang enak, kalau kurang manis ya saya bilang apa adanya,” ungkap Nuri yang mengaku tidak pernah kehilangan pelanggan.
Yulianto (46), salah satu penggemar durian warga Boyolali mengatakan, durian Boyolali rasanya cukup khas. Sehingga dia lebih suka berburu durian ke Kota Susu.
“Tapi tahun ini kurang manis, mungkin karena sering hujan,” imbuh dia.

Selasa, 18 Februari 2014

Gempa Sekitar Gunung Merbabu Rusak Puluhan Rumah

Semarang - Warga Dusun Krajan, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang tinggal di sekitar Gunung Merbabu dikejutkan dengan gempa bumi dan suara dentuman, Senin pagi (17/2/2014). Puluhan rumah warga rusak akibat gempa bumi itu.
Warga setempat Suparman kepada Liputan6.com mengatakan bahwa suara dentuman keras juga terdengar hingga beberapa kilometer dari Gunung Merbabu. Dia mengatakan bahwa juga terlihat kilat dari arah Gunung Merbabu lalu disertai suara ledakan keras.
"Dentuman keras tadi pagi juga terdengar hingga beberapa kilometer dari Merbabu," katanya.
Dampak gempa tersebut 45 rumah warga rusak dan temboknya retak. Bahkan sebuah rumah milik warg Suwarji (51), genteng rumahnya rumahnya rontok, kaca jendela pecah, dan tembok retak.
BPBD Jawa Tengah mengatakan tidak ada korban jiwa akibat gempa itu. BPBD Jawa Tengah beserta SKPD terkait menyatakan melakukan kesiapsiagaan sebagai antisipasi apabila terjadi bencana.

Kepala BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana mengatakan dentuman tersebut bukan berasal dari Gunung Merbabu. Dia mengatakan pihaknya belum mengetahui asal suara dentuman, akan tetapi suara lain tapi bersamaan dengan gempa bumi terjadi. Hal itu disampaikannya setelah langsung berkoordinasi dengan pos pemantau Gunung Merapi dan Merbabu.
"Mungkin suara lain tapi bersamaan dengan getaran," kata Sarwa.
Gunung Merbabu adalah gunung api berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan, Serta Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara.

Dua Rumah Warga Cepogo Tertimpa Longsor

Boyolali — Dua buah rumah milik warga Dukuh Ngargosari Desa Cabean Kunti, Cepogo, rusak berat akibat tertimpa talud yang longsor. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Namun kerugian diperkirakan mencapai belasan rupiah.
Dok.Timlo.net/ NaninGuyuran hujan yang terjadi sejak pukul 10.30 wib diduga menjadi penyebab longsornya talud milik Cokro Rejo (70). Talud yang longsor menimpa dinding rumah kedua tetangganya, Wirotinoyo (70) dan rumah anaknya, Sutomo (38) . Rumah milik Wiro Tinoyo nyaris roboh. Pasalnya, rumah dengan dinding terbuat dari kayu itu mengalami rusak parah. Sementara rumah milik Sutomo, dinding kamar tidur, kamar mandi, dan kandang kambing jebol. Sebagian atap dan genteng rumahnya ikut runtuh.
Sutomo saat ditemui, mengaku hampir seluruh perabot rumah tangganya hancur. Bahkan dua ekor kambing yang berada di kandang belakang sempat terjepit reruntuhan fondasi yang roboh. Beruntung kambing itu selamat. Sementara istri Sutomo, Satemi (27), mengaku masih trauma, saat kejadiaan berada di dalam kamar depan. Tiba-tiba terdengar suara grobyak, setelah ditengok ternyata rumah bagian belakang ambrol semua.

“Tadi suara grobyaknya keras sekali, saya kira petir, sempat mau lari tadi,” ungkap Satemi.
Sementara, Wiro Tinoyo dan istrinya, saat kejadian sedang menyalakan api di dapur karena cuaca dingin. Keduanya tak kalah terkejut dengan suara gemuruh yang tak jauh dari rumahnya. Setelah ditengok, ternyata fondasi tanah sebelah rumah telah roboh.
”Untung tadi bapaknya saya suruh melipat tikar untuk Salat tidak mau. Lha kalau mau, sudah jadi apa. Saya bersyukur masih selamat. Terpaksa malam ini saya numpang tidur di rumah anak saya,” jelas Ny Wiro Tinoyo.
Sementara Kapolsek Cepogo AKP Bambang Rusito beserta anggota langsung meluncur ke lokasi begitu mendapat laporan warga. Petugas kemudian melakukan oleh TKP dan pendataan kerusakan. Dari hasil pengecekan, panjang pondasi yang roboh sekitar 20 meter, ketinggian 1,5 meter.
“Diperkirakan kerugian materiil sekitar Rp 15 juta, beruntung tidak ada korban jiwa,” tandasnya.

DPRD DKI Desak KPK Usut Pengadaan Busway

JAKARTA (Pos Kota) – DPRD DKI mendesak KPK mengusut indikasi korupsi dalam pengadaan ratusan armada busway dan Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB). Utamanya terkait pajak impor yang telah dibebaskan terhadap penyediaan angkutan tersebut.
Ketua Komisi B DPRD DKI, Selamat Nurdin, mengatakan indikasi pengemplangan pajak impor (bea masuk) ini muncul karena telah diajukan pembebasan biaya tersebut ke Kementerian Keuangan.
“Kabarnya permintaan tersebut disetujui. Artinya harga Rp3,7 miliar perunit apakah sudah termasuk biaya pajak impor atau belum inilah yang harus ditelisik. Jangan sampai ada penyelewengan pajak dalam proyek ini,” tandas Selamat, Selasa (18/2).
Hal ini, kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini harus dilakukan mengingat dana yang dikucurkan untuk pembelian bus yang berjumlah sekitar 702 unit Transjakarta tersebut menghabiskan dana kurang lebih Rp3 triliun.
TIDAK LAYAK
Sementara itu untuk mengantisipasi kasus karatan, pengadaan Bus Transjakarta sebanyak 170 unit diawasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Hingga saat ini dari jumlah tersebut baru sekitar 50 persen yang telah sempurna dan siap pakai. Sementara sisanya masih ada yang harus diperbaiki di beberapa komponennya.
indikasiko
Direktur Pusat Teknologi Industri dan Aistem Transportasi BBPT, Prawoto mengatakan, pengadaan bus Transjakarta dan bus sedang terdiri dari 14 paket. Enam paket di antaranya di bawah pengawasan BBPT atau sekitar 170 unit.

Dikatakan Prawoto, untuk diperbolehkan jalan harus melewati dua tahapan, yakni uji fungsi dan uji tipe. Jika keduanya telah lolos baru dinyatakan sempurna dan diperbolehkan untuk beroperasi
TRANSJAKARTA TERBAKAR
Sementara itu di tengah sorotan, pelayanan busway ternyata masih jauh dari harapan warga. Selasa (18/2) bus Transjakarta koridor I (Blok M-Kota) terbakar di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat tepatnya di depan SPBU Gajah Mada arah Harmoni.
Menanggapi kejadian ini, Perum Damri selaku operator Bus Transjakarta koridor tersebut, menegaskan bus itu berasap dan bukan terbakar. Direktur Damri Divisi Transjakarta, Joni Hendri menjelaskan, terjadi kerusakan di turbo. “Tidak ada yang terbakar, yang terjadi adalah turbo mesinnya macet, kemudian ada oli yang keluar karena turbo macet, oli yang menetes terkena panas mesin, ya jadi berasap,” ujar Joni. 

Sampah Pasar Ampel Membeludak


Pengendara melintas jalan keluar Pasar Umum Ampel yang sebagian badan jalan sudah dipenuhi sampah, Kamis (6/2/2014).(JIBI/Solopos/Hijriyah Al Wakhidah)

BOYOLALI–Tumpukan sampah di Pasar Umum Ampel semakin membeludak. Selain memakan sebagian badan jalan keluar pasar, tumpukan sampah tersebut juga mulai menimbulkan polusi.
Dari pantauan solopos.com, di lokasi Kamis (6/2/2014), tumpukan sampah baik sampah basah dan kering juga mulai meluber ke jalan utama Ampel-Boyolali. Sementara, satu bak truk sampah yang berada di lokasi justru tidak dipakai.
Tumpukan sampah di Pasar Umum Ampel itu tidak hanya di satu titik lokasi. Pengelolaan sampah yang kurang baik membuat pedagang membuang sampah sembarangan dan menjadikan setiap sudut pasar sebagai tempat pembuangan sampah.

Salah seorang sopir angkutan kota yang setiap hari mangkal di depan Pasar Umum Ampel, Eko, menyampaikan sampah di depan pasar sudah sangat mengganggu pengunjung. “Tidak hanya bau dan pemandangan yang kurang sedap, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan pengunjung pasar,” kata Eko, Kamis.
Keluhan yang sama juga disampaikan pedagang kaki lima yang juga berjualan di depan pasar, Eko Purwanto. Pihaknya berharap dinas terkait bisa segera mengatasi sampah yang sudah over load itu. “Baunya yang tidak sedap mulai tercium kemana-mana. Bagi saya pedagang makanan minuman, kondisi sampah ini bikin tidak nyaman.”
Kepala UPTD Pasar Umum Ampel, Teguh Siswanto, menyampaikan pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas terkait seperti Dinas Perindustrian, Perdagangan (Disperindag), Dinas Pekerjaan Umum dan ESDM (DPU dan ESDM) terkait pengelolaan sampah di Pasar Umum Ampel.
“Memang dalam koordinasi itu, sampah di Pasar Ampel ini jadi sorotan utama,” kata Teguh, ditemui terpisah.
Dia mengatakan, sebenarnya selama ini sampah di depan pasar itu sudah rutin di ambil oleh truk sampah milik Disperindag. Setiap periode lima hari, sampah itu diambil dua kali untuk dibuang ke TPA Winong. Hanya saja, volume sampah itu memang tidak secara signifikan bisa berkurang. Karena, yang membuang sampah di pasar tersebut tidak hanya pedagang di Pasar Ampel bahkan dari luar daerah, seperti Sruwen dan Tengaran banyak yang membuang sampah di Pasar Ampel.
“Jadi kalau hanya satu truk, dengan tenaga minim, paling sehari buang hanya bisa dua kali bolak balik. Maka dari itu, kami telah berkoordinasi dengan DPU agar nanti ada armada kontainer yang lebih representatif untuk mengangkut sampah sebanyak itu.”
Hanya saja, lanjut Teguh, untuk realisasi armada dam truk sampah ini kemungkinan baru bulan April. Akan tetapi, tumpukan sampah itu harus segera ditangani tanpa harus menunggu April. Sehingga dalam waktu dekat pihak UPTD Pasar Umum bersama DPU ESDM dan pihak kecamatan akan bekerja sama membersihkan depan pasar dari sampah liar itu.
“DPU akan menyediakan armada, kecamatan bantuan dana dan kami akan sediakan tenaga bersih-bersih.”
Camat Ampel, Suharto, membenarkan sampah di Pasar Ampel itu harus segera ditangani. “Kami sudah berkoordinasi dengan DPU ESDM, Disperindag dan UPTD terkait. Dalam waktu dekat akan kami tangani.”

Bandara Adi Soemarmo masih belum Beroperasi

Boyolali: Bandara Adi Soemarmo Solo di Boyolali, Jawa Tengah, belum beroperasi sejak hujan abu vulkanik letusan Gunung Kelud lima hari silam. Sementara calon penumpang telanjur datang dan mengira bandara sudah beroperasi pada Selasa (18/2).

Sebelumnya, otoritas mengatakan Bandara Adi Soemarmo buka mulai pukul 07.00 WIB. Calon penumpang pun datang sesuai dengan jadwal pemberangkatan mereka. Namun ternyata, bandara batal kembali beroperasi. Petugas masih menutup layanan karena masih membersihkan endapan abu vulkanik di area bandara dan landasan pacu.



Para calon penumpang pun akhirnya melakukan refund atau pengembalian uang tiket. Ada juga yang melakukan penjadwalan ulang penerbangan atau reschedule. Tiga maskapai yang melayani refund dan reschedule yaitu Kalstar jurusan Solo-Balikpapan, Lion Air, dan Garuda Indonesia.

Otoritas bandara mengaku area itu sudah tampak relatif bersih. Namun otoritas mengaku belum dapat mengoperasikan bandara. Sebab mereka masih menunggu koordinasi teknis dari Kementerian Perhubungan.

metrotv

Empat Pengedar Sabu Dibekuk Petugas


Ilustrasi | Foto: Ari Kristyono

BOYOLALI – Polres Boyolali berhasil menangkap empat pelaku diduga pengedar narkotika jenis sabu-sabu yang sedang melakukan transaksi di Objek Wisata Umbul Pengging Banyudono dan kawasan komplek kios Teras.
Kepala Polres AKBP Budi Heryanto melalui Kasat Narkoba, AKP Anak Agung Gede Oka, Rabu (22/1/2014) mengatakan, keempat tersangka yang diduga pengedar sabu-sabu tersebut kini sedang menjalani pemeriksaan di Polres Boyolali, untuk proses hukum.
Menurut Anak Agung Gede Oka, keempat tersangka yakni Dj (27) dan AN (43), keduanya warga Jebres Solo itu, ditangkap di depan pintu masuk objek wisata Umbul Pengging Banyudono, pada Sabtu (18/1/2014) sekitar pukul 19.00 WIB. Sementara dua tersangka lainya, kata Gede Oka, yakni AB (28) dan AW (33) semuanya warga Pajang Laweyan Solo, ditangkap di kawasan komplek kios Teras, Sabtu (18/1/2014), sekitar pukul 21.30 WIB, dan bersama barang buktinya.

Gede Oka menjelaskan penangkapan keempat tersangka tersebut berdasarkan informasi masyarakat, bahwa akan ada transaksi sabu-sabu pada kedua lokasi tersebut. Polisi langsung melakukan penyelidikan di lokasi objek wisata Pengging, dan menemukan seseorang yang mencurigakan mencari-cari sesuatu di bawah pohon beringin. DJ kemudian ditangkap setelah mengaku mengambil paket sabu di bawah pohon itu.
Polisi langsung melakukan penggeledahan dan ditemukan satu pekat sabu dibungkus bekas bungkus rokok. DJ mengaku barang itu dari temannya, yakni AN yang sedang menunggu di depan pintu masuk objek wisata itu.
“Kami langsung menangkap keduanya bersama barang bukti, kemudian dibawa ke Polres. Sedangkan, AW dan AB juga ditangkap oleh petugas, saat kedua sedang transaksi di sebuah kios di Teras,” katanya.
Atas perbuatan keempat tersangka tersebut dijerat Pasal 114 ayat (1), Pasal 112, Pasal 127 ayat (1), Undang-Undang RI Nomor 35/2009, tentang Narkotika.

Sabtu, 15 Februari 2014

Pembangunan Jalan Rusak Juwangi Diprioritaskan


dok.timlo.net/nanin

Boyolali – Sepanjang 80 km jalan di Boyolali yang kondisinya rusak berat, termasuk yang paling parah di kawasan utara menuju Kecamatan Juwangi. Prioritas pembangunan Pemkab Boyolali. tahun ini yaitu jalan menuju Juwangi, baik dari Wonosegoro maupun Kemusu.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Energi Sumber Daya Mineral (DPU ESDM) Boyolali , M. Qodri, mengungkapkan anggaran untuk infrastruktur jalan di dinasnya mencapai Rp 72,6 miliar. Diharapkan alokasi tersebut dapat memperbaiki atau membangun sepanjang 80 km jalan yang rusak tersebut. Untuk prioritas pembangunan,di antaranya meliputi pembangunan jalan sekitar Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo, tempat komplek perkantoran terpadu, serta merata di 19 kecamatan.

Qodri juga menekankan, kondisi jalan rusak berat di wilayah utara tahun ini perbaikan akan diteruskan. Hanya saja mengingat kondisi tanah yang labil, sehingga pembangunan dilakukan secara cor beton. Meski biayanya lebih mahal dibanding menggunakan aspal, namun lebih awet untuk struktur tanah labil.
“Hitung-hitungannya kalau diaspal biasa Rp 1 miliar bisa untuk 1 km jalan, tetapi kalau dicor paling banter Rp 1 miliar hanya bisa untuk 600 m saja, memang butuh anggaran yang besar di sana,” ungkap Qodri, Selasa (11/2).
Lebih lanjut menurut Qodri, pembangunan jalan Kemusu-Juwangi tahun ini dilanjutkan, yakni sekitar 1 km jalan rusak. Sedangkan untuk wilayah Wonosegor-Juwangi masih tersisa 5 km jalan rusak, dan akan diperbaiki secara bertahap. Proyek pembangunan jalan akan dilakukan setelah musim penghujan selesai.

Mandi Kembang hingga Wiridan Dilakoni Caleg di Boyolali


Umbul Ngabeyan di Kawasan Wisata Umbul Tirtomarto Pengging, Banyudono, Boyolali, menjadi salah satu tempat yang kerap didatangi pejabat termasuk caleg, untuk melakukan ritual mistis. Foto diambil Kamis (30/1/2014). (Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos)

BOYOLALI — Demi menjadi wakil rakyat, pelbagai upaya ditempuh para calon anggota legislatif (caleg) pada tahun politik, 2014 ini. Tak puas dengan mendekati konstituen, mereka juga mendatangi tempat yang dianggap keramat untuk ngalap berkah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com dari berbagai sumber di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, sejumlah tempat kerap didatangi kalangan pejabat, termasuk caleg untuk ritual tersebut. Sebut saja di antara adalah Umbul Ngabeyan yang berada di Kawasan Wisata Umbul Tirtomarto Pengging di Kecamatan Banyudono, makam Kyai Singoprono di Gunung Tugel di Kecamatan Simo, dan Sumur Pitu di Kecamatan Cepogo.
“Menurut pengalaman pemilu-pemilu yang lalu juga seperti itu. Kalau sudah mendekati, baru jumlahnya banyak.”
Ritual mistis yang kerap mereka lakukan adalah tirakat kungkum atau berendam, mandi kembang, hingga wiridan. Tujuannya tentu saja meminta berkah untuk melancarkan peruntungan, karier, hingga rezeki.

Pengelola Umbul Tirtomarto Pengging, Wardoyo, ketika ditemuiSolopos.com di kawasan wisata air itu, akhir Januari 2014, membenarkan tempat tersebut, khususnya Umbul Ngabeyan, kerap didatangi pejabat, termasuk caleg. Salah satunya, lanjut dia, untuk melakukan ritual tertentu, misalnya kungkum. “Mungkin ya tirakat. Biasanya mereka datang ke Umbul Ngabeyan ya malam hari, sekitar pukul 23.00 WIB hingga dini hari,” ungkap Wardoyo.
Menurut Wardoyo, pejabat atau caleg yang datang ke umbul tersebut untuk ritual tertentu tidak hanya berasal dari wilayah Kabupaten Boyolali, melainkan juga dari luar wilayah tersebut. “Bahkan ada yang juga dari Jakarta, jadi tidak hanya dari sini,” imbuhnya.
Rombongan Ganjil
Untuk saat ini, aku dia, jumlah caleg yang mulai melakukan ritual di Umbul Ngabeyan belum terlalu banyak. “Kalau saat ini baru satu-dua [caleg]. Mungkin nanti kalau pelaksanaannya [Pemilu 2014] sudah dekat, bisa lebih banyak jumlahnya. Sebab menurut pengalaman pemilu-pemilu yang lalu juga seperti itu. Kalau sudah mendekati, baru jumlahnya banyak,” katanya.
Pejabat ataupun caleg tersebut, imbuh Wardoyo, ada yang datang sendirian, bersama keluarga atau rombongan dengan rekan-rekan mereka. Sementara itu, menurut sumber Solopos.com yang enggan disebutkan namanya, beberapa tempat yang dianggap keramat di Kabupaten Boyolali memang kerap menjadi favorit bagi para pejabat dan caleg untuk melakukan berbagai ritual mistis tersebut. Warga Kecamatan Cepogo itu mengaku pernah melihat sejumlah pejabat, termasuk caleg melakukan ritual mistis tersebut.
“Selain kungkum, mandi kembang, ada juga yang wiridan di musala kosong di Sumur Pitu Cepogo,” ungkapnya.
Sumber Solopos.com tersebut menyebutkan untuk mengenal mereka yang melakukan ritual mistis tersebut, ciri-cirinya di antaranya datang rombongan dengan jumlah ganjil, seperti tiga, lima atau tujuh, salah satunya sebagai guru ritual. “Biasanya mengenakan celana hitam atau sarung, pakai kopiah hitam,” tuturnya.

Mandi Kembang hingga Wiridan Dilakoni Caleg di Boyolali


Umbul Ngabeyan di Kawasan Wisata Umbul Tirtomarto Pengging, Banyudono, Boyolali, menjadi salah satu tempat yang kerap didatangi pejabat termasuk caleg, untuk melakukan ritual mistis. Foto diambil Kamis (30/1/2014). (Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos)

BOYOLALI — Demi menjadi wakil rakyat, pelbagai upaya ditempuh para calon anggota legislatif (caleg) pada tahun politik, 2014 ini. Tak puas dengan mendekati konstituen, mereka juga mendatangi tempat yang dianggap keramat untuk ngalap berkah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com dari berbagai sumber di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, sejumlah tempat kerap didatangi kalangan pejabat, termasuk caleg untuk ritual tersebut. Sebut saja di antara adalah Umbul Ngabeyan yang berada di Kawasan Wisata Umbul Tirtomarto Pengging di Kecamatan Banyudono, makam Kyai Singoprono di Gunung Tugel di Kecamatan Simo, dan Sumur Pitu di Kecamatan Cepogo.
“Menurut pengalaman pemilu-pemilu yang lalu juga seperti itu. Kalau sudah mendekati, baru jumlahnya banyak.”
Ritual mistis yang kerap mereka lakukan adalah tirakat kungkum atau berendam, mandi kembang, hingga wiridan. Tujuannya tentu saja meminta berkah untuk melancarkan peruntungan, karier, hingga rezeki.

Pengelola Umbul Tirtomarto Pengging, Wardoyo, ketika ditemuiSolopos.com di kawasan wisata air itu, akhir Januari 2014, membenarkan tempat tersebut, khususnya Umbul Ngabeyan, kerap didatangi pejabat, termasuk caleg. Salah satunya, lanjut dia, untuk melakukan ritual tertentu, misalnya kungkum. “Mungkin ya tirakat. Biasanya mereka datang ke Umbul Ngabeyan ya malam hari, sekitar pukul 23.00 WIB hingga dini hari,” ungkap Wardoyo.
Menurut Wardoyo, pejabat atau caleg yang datang ke umbul tersebut untuk ritual tertentu tidak hanya berasal dari wilayah Kabupaten Boyolali, melainkan juga dari luar wilayah tersebut. “Bahkan ada yang juga dari Jakarta, jadi tidak hanya dari sini,” imbuhnya.
Rombongan Ganjil
Untuk saat ini, aku dia, jumlah caleg yang mulai melakukan ritual di Umbul Ngabeyan belum terlalu banyak. “Kalau saat ini baru satu-dua [caleg]. Mungkin nanti kalau pelaksanaannya [Pemilu 2014] sudah dekat, bisa lebih banyak jumlahnya. Sebab menurut pengalaman pemilu-pemilu yang lalu juga seperti itu. Kalau sudah mendekati, baru jumlahnya banyak,” katanya.
Pejabat ataupun caleg tersebut, imbuh Wardoyo, ada yang datang sendirian, bersama keluarga atau rombongan dengan rekan-rekan mereka. Sementara itu, menurut sumber Solopos.com yang enggan disebutkan namanya, beberapa tempat yang dianggap keramat di Kabupaten Boyolali memang kerap menjadi favorit bagi para pejabat dan caleg untuk melakukan berbagai ritual mistis tersebut. Warga Kecamatan Cepogo itu mengaku pernah melihat sejumlah pejabat, termasuk caleg melakukan ritual mistis tersebut.
“Selain kungkum, mandi kembang, ada juga yang wiridan di musala kosong di Sumur Pitu Cepogo,” ungkapnya.
Sumber Solopos.com tersebut menyebutkan untuk mengenal mereka yang melakukan ritual mistis tersebut, ciri-cirinya di antaranya datang rombongan dengan jumlah ganjil, seperti tiga, lima atau tujuh, salah satunya sebagai guru ritual. “Biasanya mengenakan celana hitam atau sarung, pakai kopiah hitam,” tuturnya.

Kamis, 13 Februari 2014

PKS Boyolali Bagikan Masker di Pusat Kota

Erupsi Gunung Kelud telah terjadi sejak Kamis, 13 Februari 2014, pukul 22.59 WIB. telah berdampak luas. Letusan  yang diwarnai semburan lava pijar serta lontaran abu dan kerikil ini telah menimbulkan separuh pulau jawa tertutup debu.

Letusan gunung (1.776 mdpl) yang berada di Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Jawa Timur ini juga turut menciptakan keprihatinan dan kepedulian diseantero jawa. 



Tak terkecuali Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Boyolali yang dengan sigap melalui kader dan simpatisannya yang membagikan masker bagi warga boyolali yang terkena debu. Para relawan dari PKS ini membagikan maskernya di Perempatan Kridanggo boyolali dan Sekitar Pasar Boyolali.

Menurut salah satu relawan yang juga caleg DPRD dapil I Boyolali Tri Wahyuni, S.Si, Kegiatan ini merupakan respon cepat dari para kader melihat adanya dampak bencana gunung kelud yang menyebabkan debu di daerah boyolali, dengan memberikan masker ini, diharapkan warga masyarakat dapat mencegah dampak buruk debu bagi kesehatan selama beraktivitas diluar rumah terutama dari gangguan ISPA dll.


51,26% Warga Boyolali Tak Punya Akta Kelahiran


Ilustrasi (Dok/JIBI/Solopos)

BOYOLALI — Lebih dari setengah dari jumlah total warga Boyolali ternyata tak memiliki akta kelahiran.
Dari data yang dihimpun Solopos.com di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Boyolali, jumlah warga yang tidak memiliki akta kelahiran mencapai 533.122 orang atau 51,26% dari total jumlah warga Boyolali yang mencapai 1.094.021 jiwa.
Sekretaris Disdukcapil Boyolali, Wuryanti, menyampaikan kebanyakan warga yang tidak memiliki akta kelahiran adalah masyarakat kalangan dewasa hingga tua.

“Ya, kebanyakan orang-orang tua dan dewasa yang tidak punya akta kelahiran. Hal ini terjadi karena dulu akta kelahiran ini belum banyak dipakai. Kalau saat ini akta kelahiran sangat penting, khususnya untuk pendidikan anak,” kata Wuryanti, saat ditemui Solopos.com, di ruang kerjanya, Rabu (5/2/2014).
Dia mengatakan, saat ini orang tua bayi yang baru lahir sudah langsung mengurus administrasi pembuatan akta kelahiran anaknya. “Tetapi kalau untuk orang tua, seringnya berpendapat buat apa bikin akta kelahiran? toh sudah tidak dipakai.”
Kendati demikian, pihaknya akan terus mengupayakan agar jumlah warga yang memiliki akta kelahiran ini bisa meningkat.
Dia juga menyebutkan setiap bulan, warga yang mengajukan permohonan pembuatan akta kelahiran rata-rata mencapai 2.000-an orang. Sehingga selama 2013, Disdukcapil mencetak 22.259 akta kelahiran.
Menurut Wuryanti, untuk membuat akta kelahiran, masyarakat tidak pernah dipungut biaya selama dilakukan sesaat setelah bayi itu lahir. Jika usia anak sudah lebih dari enam bulan dan baru dibuatkan akta kelahiran, pemohon akan terkena denda sesuai Peraturan Daerah (Perda) No. 4/2011 tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk).
“Kalau UU Adminduk yang baru diterapkan, nanti Perda ini akan menyesuaikan sehingga pembuatan akta kelahiran akan dibebaskan dari biaya termasuk denda keterlambatan,” imbuh Wuryanti.
Warga Desa Tempursari, Kecamatan Sambi, Ngadimin, 60, mengakui hingga saat ini pihaknya tidak pernah memiliki akta kelahiran. “Dulu adanya hanya surat kelahiran dari desa. Saat ini pun saya enggan bikin akte. Buat apa toh sudah tidak digunakan lagi,” ujar Ngadimin.

Senin, 10 Februari 2014

Cahyadi Takariawan calon anggota DPD yang menginspirasi

Pak cah, adalah seorang guru yang saya kenal sewaktu aku kuliah di UGM dulu, dulu dia dalah guru dan ustadz yang membimbing dan mengajariku untuk selalu bertakwa kepadanya. Salah satu materi yang selalu aku ingat adalah tentang pusaran kebaikan dan keburukan, dimana jika kita melakukan satu kebaikan maka akan menimbulkan kebaikan lainnya dan demikian juga sebaliknya. 
Dan sekarang guru saya ini ingin maju sebagai anggota DPD RI dari Jawa Tengah, mari dukung dia semoga dapat memberikan kebaikan. Berikut ini penuturannya dalam salah satu blog . desa mempesona

Namaku Cahyadi Takariawan. Teman-teman memanggilku Pak Cah, bahkan ada yang memanggil Ustadz Pak Cah. Aku lahir hari Sabtu Pahing 11 Desember 1965, di desa Salam, kecamatan Karangpandan, kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Bapakku bernama Soebandi –almarhum, seorang PNS di lingkungan pendidikan. Ibuku bernama Wuryastini, pensiunan PNS juga di lingkungan pendidikan. Aku anak ke 5 dari 7 bersaudara. 


Kakekku -dari jalur bapak- bernama (alm) Prawirodikromo, seorang perangkat desa. Kakek -dari jalur ibu- bergelar Raden Rangga Baskara (alm), seorang abdi dalem kraton Solo. 

Aku sekolah serba negeri. Tidak melalui TK, langsung masuk SD Negeri Salam I, lanjut ke SMP Negeri Karanganyar I, lanjut ke SMA Negeri Karanganyar I. Aku menyelesaikan kuliah di Fakultas Farmasi UGM, kemudian meneruskan Pendidikan Profesi Apoteker di UGM. Orang bilang, gelarku S.Si., Apt. 

Aku mengenyam pendidikan agama dengan banyak cara. Pernah menjadi “santri kalong” di Pesantren Mahasiswa Budi Mulia Yogyakarta, pernah menjadi “santri kalong” di Pondok Pesantren Sabilul Khairat, kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dan mengaji “sorogan” langsung kepada para ustadz dan kyai di Yogyakarta dan Jawa Tengah. 

Semasa kuliah, aku berusaha banyak belajar. Makanya saat aktif di HMI, aku mengikuti jenjang pengkaderan dari Basic Training, Intermediate Training sampai Senior Course. Dengan bekal itu aku bisa masuk sebagai Korps Pengkader HMI Cabang Yogyakarta. Di Gelanggang Mahasiswa UGM, aku juga mengikuti beraneka ragam training pengkaderan Jama’ah Shalahuddin UGM, yang dulu dikenal dengan Fosil (Forum Silaturahmi), dan akhirnya ditunjuk menjadi Ketua Korp Pembina Jama’ah Shalahuddin UGM (KPJS). 

Aku pernah mengikuti beberapa Pendidikan Kepemimpinan, di antaranya Pendidikan Kepemimpinan Nasional tahun 2008, dan Program Pendidikan Reguler Angkatan 45 (PPRA – XLV) Lemhannas RI tahun 2010. Berbagai training dan pelatihan singkat sering aku ikuti sejak masih kuliah sampai sekarang. 

Aku dulunya agak aktif di beberapa organisasi, misalnya pernah membantu aktivitas Senat Mahasiswa Fakultas Farmasi UGM, pernah menjadi ketua –bahkan pendiri– Keluarga Mahasiswa Muslim Fakultas Farmasi UGM, aktif di HMI MPO Cabang Yogyakarta, aktif di UKKI Jama’ah Shalahuddin UGM, dan juga Keluarga Alumni Jama’ah Shalahuddin UGM. 

Aku seorang bapak rumah tangga. Selain itu aktivitasku saat ini, antara lain Trainer dan Konselor Senior di Jogja Family Center (JFC), Ketua Dewan Pembina YP2SU, Staf Ahli Pusat Psikologi Terapan Metamorfosa, Penulis, dan Senior Editor PT Era Adicitra Intermedia. Aku juga menjadi anggota IKAL XLV (Ikatan Alumni Lemhannas RI angkatan 45). 


Isteriku bernama Ida Nur Laila. Anakku berjumlah 6, yang tiga lelaki dan tiga perempuan. 

Buku yang aku tulis, dan sudah terbit, mungkin sekitar empat puluh judul, di antaranya : Yang Tegar di Jalan Dakwah, Pernik-pernik Rumah Tangga Islami, Fikih Politik Perempuan, Di Jalan Dakwah Aku Menikah, Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah, Izinkan Aku Meminangmu, Agar Cinta Menghiasi Rumah Tangga Kita, Rekayasa Masa Depan Dakwah, Dialog Peradaban: Islam Menggugat Materialisme, Kitab Tazkiyah, Media Massa Virus Peradaban, Menjadi Pasangan Paling Berbahagia, Panduan Ibadah Ramadhan, Wonderful Family: Merajut Keindahan Keluarga, …dan lain-lain…… 

Aku menghabiskan waktu hidupku di jalan, namanya jalan dakwah. Mungkin orang menyebut, itu namanya hobi traveling. Tapi bukan hanya traveling, karena aku juga suka kuliner lho… Aku berjalan di sepanjang pulau Jawa, pulau Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Bali, NTB, Maluku, Maluku Utara, Papua. Aku berjalan juga ke beberapa negara. Masih banyak tempat ingin aku kunjungi. Di sepanjang perjalanan itulah, aku ketemu banyak teman, ketemu banyak saudara, ketemu banyak wacana, ketemu banyak peristiwa….. 

Profesiku sebagai penulis buku, membuat aku mengenal banyak sisi dunia. Sering diundang bedah buku dan seminar di banyak tempat, dari sabang sampai merauke, sampai ke manca negara. Berbagai negara pernah aku kunjungi, semua dengan agenda seminar dan bedah buku.

Minggu, 09 Februari 2014

Curah Hujan Tinggi, Kualitas Durian Boyolali Turun

Boyolali – Tingginya curah hujan yang menguyur wilayah Boyolali sejak awal tahun berimbas pada menurunnya kualitas rasa pada durian. Kondisi ini mengakibatkan harga durian dengan kualitas bagus naik hingga 100 persen. Sayangnya meski harga sangat tinggi namun stok langka.
dok.timlo.net/nanin
Menurut petani durian di Mojosongo, Boyolali, Nuriati, menurunnya kualitas durian disebabkan banyaknya kadar air sehingga mengakibatkan buah menjadi tidak manis. Selain itu, banyak buah durian yang membusuk di pohon. Kondisi ini hampir sama dengan panen durian tahun lalu.
“Tahun lalu hampir sama, tapi kali ini lebih buruk, hampir 50:50 untuk kualitas rasanya,” ungkap Nuri yang mengaku kesulitan mencari durian dengan kualitas bagus karena tingginya permintaan, Sabtu (1/2).

Selain itu, curah hujan yang tinggi juga berakibat mundurnya panen raya. Biasanya, panen raya durian di sejumlah wilayah di Boyolali terjadi antara bulan Desember hingga Januari. Namun kali ini, panen raya diperkirakan akhir Februari. Terlambatnya panen raya durian disebabkan bunga banyak yang rontok.
“Jepara malah sudah panen duluan, Boyolali masih nanti akhir Februari. Tapi kalau cuacanya begini, tidak tahu bagaimana nanti hasilnya,” imbuh Nuri.
Sementara seorang pedagang durian yang mangkal di depan Pasar Boyolali Kota, Ponijo, mengaku banyak merugi akibat banyaknya durian hasil kulakan yang tidak enak rasanya. Meski dari luar, kulitnya terlihat bagus namun begitu dibuka ternyata tidak ada rasanya.
“Kalau yang seperti itu, pembeli jelas tidak mau,” ungkapnya.
Harga durian sendiri saat ini berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu untuk kualitas bagus. Sedangkan kualitas biasa harga berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 35 ribu.
“Untung-untungan jualan durian di musim seperti ini, banyak ruginya,” keluhnya.

Peserta Diksar Unnisula Meninggal di Merbabu


Ilustrasi peserta diksar mahasiswa pecinta alam | Foto: Ari Kristyono

BOYOLALI – Seorang pendaki yang mengikuti pendidikan dasar (Diksar) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Arga Jaladri dari Universitas Sultan Agung (Unnisula) Semarang, tewas di Gunung Merbabu, Selo, Kabupaten Boyolali, Minggu (9/2/2014).
Seorang mahasiswi Unnisula yang meninggal tersebut yakni Khusna Arifatul (21), anggota Mapala Arga Jaladri Unnisula Semarang, saat mengikuti Diksar di Merbabu, sekitar pukul 00.30 WIB.
Menurut Kepala Polsek Selo AKP Suparma kegiatan Diksar Mapala Arga Jaladri tersebut dimulai sejak Senin (3/2/2014) dengan jumlah anggota sebanyak 26 pendaki. Mereka terdiri dari 18 panitia dan delapan orang peserta Diksar, meminta izin pendakian ke Merbabu selama sepekan yakni 2-9 Februari.
“Korban sebelum meninggal mengikuti kegiatan pendidikan dasar di puncak Gunung Merbabu, Minggu sekitar pukul 00.30 WIB dalam kondisi cuaca gerimis dan kabut tebal,” katanya.
Menurut Kapolsek, korban saat mengikuti Diksar tersebut tiba-tiba tidak sadarkan diri. Pihak panitia Diksar memberikan pertolongan dan pengecekan kesehatan.
Namun, korban yang kondisi kesehatannya cukup menghawatirkan kemudian dibawa turun ke base camp pendakian.
Hasil pemeriksaan korban, kata Kapolsek, pihaknya tidak menemukan adanya luka penganiayaan atau akibat unsur kekerasan. Korban meninggal karena kedinginan dan kelelahan setelah mengikuti kegiatan Diksar selama sepekan.
Menurut Fandi Ahmad salah satu panitia Diksar, korban saat di base camp sempat sadar dari pingsannya. Dia juga sempat berkomunikasi dengan teman-temannya, termasuk makan dan minum.
Namun saat bangun tidur di pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB, kondisi kesehatannya masih terlihat menurun sehingga panitia berinisiatif membawa korban ke Puskesmas Selo, tetapi jiwanya tidak bisa tertolong.
Menurut Dwiyanto Kembar Saputro petugas medis Puskesmas Selo, korban tiba di Puskesmas Selo, sekitar pukul 6.45 WIB dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
Korban meninggal akibat kelelahan dan menderita hipotermia atau kedinginan. Korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Pandanarang Boyolali untuk dilakukan visum.

Ngasapi Jagung, Rumah Kasri Terbakar

Boyolali — Nasib malang menimpa Kasri (35) warga Dukuh Jlobong, Desa Gunungsari, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali. Rumahnya hangus dilalap si jago merah. Beruntung, musibah tersebut segera diantisipasi warga dengan memadamkan api, sehingga tidak sampai melumat seluruh rumah petani ini.
Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 20.00 WIB, mengejutkan warga sekitar. Sumber api dari perapian yang dinyalakan korban untuk mengasapi jagung agar kering. Kejadian bermula ketika korban membuat bedian atau perapian dibawah pogo, tempat menyimpan jagung. Perapian tersebut digunakan untuk mengasapi jagung terutma di musim penghujan.Saat api masih menyala, ditinggal korban pergi. Tiba-tiba, api di tungku itu membesar dan merembet membakar dapur rumah korban.
Begitu mengetahui rumahnya terbakar, korban langsung berteriak minta tolong kepada warga sekitar. Para tetangga kemudian berdatangan, membantu korban menjinakkan amukan si jago merah menggunakan peralatan seadanya. Beruntung, api dapat segera dipadamkam. Sehingga tidak sampai menghanguskan seluruh rumah korban.
Camat Wonosegoro, M Arif Wardianta, dalam laporannya ke Pemkab mengatakan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian kebakaran itu. Kebakaran juga tidak sampai menghanguskan seluruh rumah korban. Selain membakar dapur, api juga membakar pogo tempat menyimpan jagung. Selain itu, jagung sebanyak 30 karung ikut ludes jadi abu.
“Kerugian materiil sekitar Rp 10 juta,” kata Arif Wardianta, Minggu (9/2).

Keprihatinan Tokoh Agama terhadap Kepemimpinan Bupati


Ketua DPRD Boyolali, S Paryanto (JIBI/Dok)

Solopos.com, BOYOLALI–Keprihatinan dari kalangan umat beragama terkait dinamika politik dan birokrasi di Boyolali terus bergulir. Setelah Syuriah PCNU Boyolali, KH Abdul Khamid, kini giliran tokoh agama dari Muhammadiyah dan tokoh Kristiani mulai angkat bicara. Ketua Muhammadiyah Boyolali, Ali Muchson, bahkan tengah menyiapkan gerakan keprihatinan terhadap kepemimpinan Bupati Boyolali, Seno Samodro. Menurutnya, pemerintahan Boyolali saat ini lebih buruk dari order baru.
“Kami ingin sekali menyampaikan ungkapan keprihatinan kami terhadap pemerintahan di Boyolali sekarang. Bahkan ada usul dari beberapa ulama, bahwa perlu digelar mujahadah atau doa bersama untuk Bupati,” kata Muchson, saat ditemui Espos, Selasa (4/3/2014).
Menurut Muchson, keprihatinan ini layak disampaikan karena kondisi birokrasi dan manajemen di Boyolali saat ini dinilai lumpuh. Dia menilai, pegawai negeri sipil (PNS) di Boyolali sudah tidak ada yang mempunyai orientasi kerja dan konsen menyusun program kerja. “Semua berada di bawah tekanan mutasi. Banyak sekali PNS yang menyampaikan kepada saya, mereka bilang minta maaf karena untuk sementara ini harus tunduk dan manut terhadap pemimpin yang ada saat ini.”

Dengan adanya kata ‘sementara ini harus tunduk’, menurut Muchson, ada wujud tekanan dan keterpaksaan dari PNS. “Ini masih lebih baik karena terpaksa, artinya PNS sebenarnya tahu bahwa ada yang tidak benar dalam perjalanan birokrasi ini.”
Tekanan ini begitu dirasakan pihak Muhammadiyah ketika 30 guru Muhammadiyah di Boyolali tiba-tiba dimutasi dengan jarak yang sangat jauh. “Dari beberapa guru yang dimutasi, waktu itu ada beberapa yang bisa dikembalikan dekat tapi dengan kontrak politik tertentu.”
Mengenai bentuk keprihatinan yang akan disampaikan kalangan ulama, Muchson menyebutkan bahwa langkah itu semestinya tidak hanya berhenti pada penyampaian keprihatinan. Menurutnya, perlu ada pendekatan agama atau terapi spiritual kepada pejabat yang sedang mengalami trauma dan kinerja yang lumpuh.
“Tapi kalau hanya dari kalangan ulama saja tidak cukup. Partai politik yang selama ini menjadi oposisi pemerintah juga semestinya memunculkan figur yang benar-benar baik dan bisa dipercaya. Ini yang sedang kami cari.”
Pihaknya juga cukup menyayangkan karena selama ini DPRD yang semestinya diharapkan untuk bisa mengawasi kinerja birokrasi juga tidak berjalan sesuai fungsinya.
Ungkapan keprihatinan juga disampaikan Tokoh Umat Kristiani Boyolali, Sarijo, yang didasarkan pada opini yang berkembang mengenai jalannya pemerintahan saat ini.
Sejak awal kepemimpinan Bupati Seno Samodro, Sarijo tidak melihat adanya pembangunan yang riil dalam rencana pembangunan jangka menengah dan pendek Kabupaten Boyolali.
“Masalah utama Boyolali yang harusnya diselesaikan dalam RPJM sama sekali tidak terlihat. Anggaran Boyolali yang sudah mencapai Rp1 triliun lebih itu untuk menyelesaikan masalah apa? Apakah hanya perkantoran saja yang menjadi prioritas?”
Pihaknya juga cukup menyayangkan, karena dalam kehidupan berdemokrasi seperti sekarang ini, pendapat masyarakat yang berbeda sama sekali tidak diakomodir bahkan cenderung disingkirkan. “Saya berharap semua masyarakat yang merasa punya Boyolali wajib menyelesaikan masalah ini bersama-sama.”
Menyambung persoalan keprihatinan yang disampaikan kalangan ulama, Ketua DPD PKS Boyolali, Syaifudin, menyatakan partai siap duduk bersama dengan kalangan ulama dari berbagai paham termasuk tokoh agama terkait upaya menyelesaikan persoalan di Boyolali. Bahkan pihaknya mengklaim tetap komitmen sebagai partai oposisi.
“Bahkan belum lama ini saya juga bertemu dengan KH Khamid sedikit berdiskusi bahwa ada urusan kemaslahatan umat yang mesti diselesaikan bersama.”
Sementara itu, Ketua DPRD Boyolali, S.Paryanto, saat dimintai tanggapan mengenai keprihatinan para ulama ini menyebutkan bahwa hubungan Bupati dengan DPRD selama ini adalah lembaga formal.
“Apa yang kami lakukan sudah didasari norma yang ada dan apa yang kami putuskan adalah untuk kepentingan masyarat. Kalau ada yang tidak puas itu hak semua orang. Alim ulama silakan berdialog dengan kami.”
Soal tanggapan tentang pemerintahan yang hampir sama dengan Orde Baru, Paryanto membantah itu. “Itu hanya asumsi orang saja.”

Jangan Golput (PKS)