Senin, 13 Januari 2014

Ponpes Islam Terpadu Al Hikmah Menerima santri baru periode 2013/2014



Ponpes IT Al Hikmah menerima santri baru dengan jenjang MTs Terpadu dan SMA IT Al Hikmah yang terbagi menjadi 2 gelombang yaitu gelombangh 1 : 2 Januari 2014 - 30 Januari 2014 dan Gelombang ii 1 Mei - 12 Juli 2014, dan mnerima pendaftaran via on-line di www.ponpes-alhikmah.org Melayani pendaftaran via on-line di www.ponpes-alhikmah.org Telp. 0298-610707; Fax. 0298-610717. One day service (datang, daftar, dan tes)
Materi yang diujikan yaitu : Tes Akademik ( Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, Bahasa Inggris, Baca Tulis Al Qur'an , Wawancara.
1. Mengisi Formulir pendaftaran
2. Menyerahkan fotokopi raport semester terakhir yang sudah dilegalisir

3. Menyerahkan fotokopi ijazah yang dilegalisir bagi yang sudah punya
4. Menyerahkan pas foto ukuran 3x4: 4 lbr; 2x3: 3 lbr 
5. Menyerahkan fotokopi akte kelahiran 1 lembar
6. Menyerahkan Foto Kopy KK ( Kartu Keluarga)
7. Mengikuti tes seleksi
 TEMPAT PENDAFTARAN :
Kampus Pondok Pesantren Alhikmah Karanggede Boyolali Jawatengah
Contac Person Panitia Pendaftaran :
1. Ust. Giri Sayekto, S.Pd (081 215 497 11)
2. Ust. Zaenal Abidin, S.Pd (085 647 487 917)
3. Ust. Abdul Mudhofar, S.PdI (085 293 035 212)

selengkapnya di www.ponpes-alhikmah.org

Banjir Bandang di Boyolali, 3 Jembatan Putus, Juwangi Terisolasi


Ilustrasi banjir Boyolali (Dok/JIBI/Solopos)

 BOYOLALI–Boyolali banjir. Tepatnya di Juwangi, Boolali. Banjir bandang melanda sejumlah desa di Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Senin (6/1/2014) sore. Banjir bandang itu menyebabkan Jerukan Juwangi terisolasi.
Menurut informasi yang dihimpun Solopos.com, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Namun dua rumah warga dan tiga jembatan hanyut diterjang banjir, sementara belasan rumah warga lainnya dan satu bangunan taman kanak-kanak (TK) tergenang. Desa Jerukan sementara ini dilaporkan terisolasi.
Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Boyolali, Suhartini, menginformasikan, setidaknya ada dua desa di wilayah itu yang dilanda banjir, yaitu Desa Jerukan dan Desa Kalimati. Dua rumah yang hanyut adalah rumah milik dua warga di Dukuh Jerukan, Desa Jerukan. Sementara di Dukuh Dampit, Desa Kalimati, sedikitnya ada sembilan rumah warga yang tergenang.

“Dari sembilan rumah warga Desa Kalimati yang tergenang itu, lima di antaranya cukup parah karena genangan airnya cukup tinggi,” ungkap Suhartini ketika dihubungi Solopos.com melalui ponselnya, Senin.
Sementara itu, menurut warga Desa Jerukan, Tarto HP, setidaknya ada 12 rumah warga Dukuh Jerukan dan satu bangunan TK yang tergenang. Banjir melanda wilayah tersebut saat hujan deras sejak sekitar pukul 14.00 WIB hingga 17.00 WIB.
Sedangkan tiga jembatan yang hanyut menyebabkan terputusnya akses jalan dari wilayah Juwangi menuju Sragen dan Solo. Di samping itu, sedikitnya sepuluh hektare tanaman jagung milik warga juga tergenang banjir.
“Kalau sekitar sepuluh hektare [luas tanaman jagung] ya ada, tergenang banjir,” ungkap Tarto saat dihubungi terpisah, Senin.
Sementara itu, Camat Juwangi, Sucipto, saat dihubungi Espos, membenarkan terjadinya banjir tersebut. “Sudah ditindaklanjuti dengan menerjunkan petugas kecamatan untuk mendata jumlah rumah dan kerugian akibat banjir tersebut,” kata Sucipto.

Pria Beristri Cabuli ABG 13 Tahun di Boyolali, bermodal rayuan pulsa


Ilustrasi pencabulan

 BOYOLALI — Bermodal SMS nyasar dan iming-iming pulsa, seorang pria beristri tega mencabuli ABG berusia 13 tahun. Pencabulan itu dilakukan SC, 24, warga Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, Ponorogo, terhadap Melati [bukan nama sebenarnya] dari Kecamatan Sambi, Boyolali.
SC pun dilaporkan ke polisi oleh ayah Melati, BT, 37, yang tidak terima anaknya yang masih ABG dicabuli. Kini, Sugeng ditahan di Mapolres Boyolali dan ditetapkan sebagai tersangka. Kapolres Boyolali, AKBP Budi Haryanto, melalui Kasatreskrim, AKP Parwanto, membenarkan penangkapan Sugeng berdasarkan laporan dari BT, ayah Melati.

Peristiwa itu bermula ketika Sugeng berkenalan dengan Melati melalui SMS yang dikirimkan tersangka kepada Melati. Tersangka mengaku mendapatkan nomor ABG itu dari nomor yang didapatnya secara acak. Tersangka kemudian mulai menghubungi korban melalui telepon dan SMS secara intens. Dengan bujuk rayunya, tersangka yang mengaku sudah memiliki istri itu berhasil mengajak korban berpacaran.
Tersangka membujuk korban dengan cara memberikan iming-iming pulsa telepon untuk korban sebanyak dua kali, yaitu senilai Rp10.000 dan Rp5.000. Tersangka juga berjanji kepada korban untuk setia dan tidak akan meninggalkan korban asalkan mau diajak berhubungan badan.
Hingga Jumat (27/12/2014), sekitar pukul 18.45 WIB, tersangka mengajak korban pergi berjalan-jalan dengan mengendarai sepeda motor milik tersangka. Saat itulah tersangka terus membujuk dan merayu korban agar mau berhubungan badan dengannya. Hingga akhirnya korban mengiyakan.
Korban pun diajak tersangka ke sebuah tegalan singkong di Dukuh Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Di tempat itulah, tersangka berhubungan badan korban. Sekitar pukul 21.30 WIB, korban pun diantar pulang oleh tersangka.
Namun di tengah perjalanan, keduanya dihadang oleh warga setempat. Tersangka pun dibawa ke rumah korban dan diinterogasi tentang perbuatannya. Tak terima dengan perbuatan tersangka, ayah korban pun melaporkan tersangka kepada polisi. “Saat ini tersangka kami tahan untuk proses hukum lebih lanjut,” ujar Kasatreskrim ketika ditemui wartawan di kantornya, Rabu (8/1/2014).
Disebutkan Kasatreskrim, tersangka dijerat Pasal 81 Ayat 2 Undang-undang (UU) No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat tiga tahun, serta denda paling banyak Rp300 juta dan paling sedikit Rp60 juta. Saat diwawancara wartawan, tersangka mengaku melakukan perbuatan tersebut atas dasar suka sama suka dengan korban.

solopos

3 Alasan Mb Tri Maju Sebagai Caleg Anggota DPRD Boyolali Dapil I (Mojosongo, Ampel, Teras dan Boyolali)

  1. Pertama adanya dorongan dari teman-temannya untuk mewakili pemuda dalam kancah pemilihan legislatif tahun 2014; Sahabat adalah orang-orang yang dipercaya. Nah dukungan dan dorongan dari sohib-sohib inilah yang menghendaki adanya wakil dari pemuda untuk menjadi calon anggota legislative panda tahun 2014 ini.
  2. Keinginan untuk berkontribusi di Legislatif untuk meningkatkan peran pemuda di Boyolali; Selama ini Mb TW telah banyak berkontribusi bagi pemuda, akan tetapi dengan menjadi anggota legislatif maka pengalaman akan kontribusi yang lebih banyak lagi dapat dicapai antara lain dalam perumusan peraturan daerah, kebijakan pengaggaran dan pengawasan terhadap kebijakan yang tidak pro panda pemuda dan perempuan.
  3. Adanya keyakinan dirinya mampu bersaing dengan calon-calon lainnya.Posisinya sebagai Pembina di Tunas Wirausaha Muda (TWM) dan aktivitasnya sebagai staff kewirausahaan serta aktivitasnya selama ini ia yakini menjadikannya dapat bersaing dengan caleg-caleg baik dari PKS maupun partai-parta peserta pemilu di DP I Boyolali.

Jadah bakar selo boyolali yang nikmat


Nikmatnya Jadah Bakar, Dibalut Dinginnya Boyolali

Boyolali, atau yang dikenal dengan kota susu. Hal tersebut tidak mengherankan karena Boyolali adalah kota penghasil susu yang cukup banyak dibandingkan dengan kota-kota lain di sekitarnya. Jadi kota Boyolali ini memang cocok untuk dijadikan tempat untuk berburu susu segar. Selain dapat dijadikan tempat untuk berburu susu segar, Boyolali juga dapat dijadikan tempat untuk menghilangkan penat karena rutinitas sehari-hari. Karena Boyolali adalah kota yang relatif masih cukup lengang dan udaranya pun juga masih bersahabat. 


Dan lokasi yang paling cocok untuk menikmati hijaunya dan sejuknya kota Boyolali adalah di Selo.Selo adalah salah satu kecamatan yang berada di Boyolali. Nama Selo sendiri diambil dari istilah jawa yang artinya sela atau celah, karena letaknya berada di tengah-tengah gunung, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Jadi tidak heran apabila Selo memiliki pemandangan alam yang indah dan udara yang sejuk serta hawa yang dingin. Dengan dinginnya udara di Selo sama sekali tidak mengurungkan niat para wisatawan yang ingin berburu keindahan alam.Selo juga dijadikan sebagai jalur pendakian ke Gunung Merapi maupun Gunung Merbabu.

Di Selo terdapat makanan khas yang layak untuk dicoba yaitu jadah. Jadah adalah makanan yang terbuat dari campuran ketan dan kelapa parut. Oleh karena itu, makanan yang satu ini menghasilkan rasa yang gurih. Jadah memang makanan yang sudah tidak asing lagi di Jawa Tengah, namun untuk jadah yang ada di Selo ini berbeda sekali dalam penyajiannya. Karena jadah yang ada di Selo dibakar dahulu di atas arang yang tentu saja akan menghasilkan jadah yang hangat dan aroma yang menggoda. Dan sangat cocok dinikmati ditengah udara dingin yang membalut Selo.

Pada mulanya jadah bakar ini hanya dijadikan makanan pendamping sehari-hari bagi masyarakat Selo. Namun, setelah dibukanya jalur pendakian dan Selo menjadi tempat tujuan wisata di Kota Boyolali, jadah bakar mulai dijajakan kepada para wisatawan yang ingin menikmati pemandangan kota Boyolali dari Selo. Tidak hanya dijajakan kepada para wisatawan tetapi juga kepada para pendaki. Selain dijadikan makanan penghangat, jadah bakar juga mengenyangkan.
Apabila berkunjung ke Selo, jangan lupa untuk mencoba jadah bakar.

Monyet Ekor Panjang Merbabu Turun Gunung, Petani Selo Bingung


Dok.Timlo.net/ Nanin

Boyolali — Serangan kera ekor panjang di areal pertanian warga di wilayah Selo membuat petani was-was. Hanya di sisi lain, sejumlah warga menyambut baik serangan kera ekor panjang tersebut. Pasalnya, kera ekor panjang lebih banyak menyerang di daerah konservasi hutan yang sebetulnya dilarang untuk ditanami. 
Salah satu warga di Lereng Gunung Merbabu, Desa Samiran Kecamatan Selo, Haris Budiarto, beberapa tahun belakangan ini, warga kerap memanfaatkan wilayah konsevasi untuk lahan pertanian. Padahal, sesuai peraturan yang berlaku, wilayah tersebut dilarang untuk lahan pertanian. Sebab, merupakan daerah resapan air. Ironisnya lagi, luasan wilayah hutan konservasi semakin sempit.

“Kita harapkan serangan kera di daerah konservasi hutan membuat petani kapok, sehingga petani meninggalkan lokasi dan bisa mengembalikan ekosistim hutan yang telah rusak,” ungkap Haris ditemui di Selo, Minggu (12/1).
Dijelaskan, paska erupsi Merapi 2010 lalu, hama kera kehabisan bahan makanan. Mereka turun gunung untuk mencari makan. Dan yang menjadi korban adalah lahan pertanian yang berada di wilayah konservasi. Lantaran serangan itu terus menerus, akhirnya petani yang memanfaatkan lahan tersebut kapok. Pasalnya, setiap musim tanam sayur, petani pasti gagal panen. Tanaman sayuran yang ditanam di wilayah tersebut pasti habis diserbu kawanan kera itu. Akhirnya, petani meninggalkan lahan tersebut.
”Warga juga tidak tinggal diam. Warga juga menanam pohon buah-buahan di wilayah lereng Merbabu, agar persediaan makanan kera-kera itu tetap terjaga,” lanjutnya.
Senada diungkapkan warga lainnya, Sarjono, 49, kembalinya ekosistem hutan di daerah konservasi itu dapat mengembalikan debit air di sejumlah mata air. Karena ada beberapa sumber mata air yang debitnya berkurang.
”Berkurangnya debit air karena areal resapan air juga berkurang,salah satunya berubah menjadi lahan pertanian,” paparnya.

Rusak 750 Rumah di Boyolali


Bencana puting beliung (lesus) dan hujan es melanda lereng Gunung Merapi wilayah Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali. Berdasar cacatan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat menyebutkan, sedikitnya 750 rumah rusak akibat bencana alam tersebut.


Kerusakan rumah paling banyak terjadi di lima desa. Kebanyakan mengalami rusak ringan. Dua rumah diantaranya roboh rata dengan tanah, satu rusak berat. Tak ada korban jiwa akibat bencana yang terjadi sejak Jum'at (10/1) sore.



Berdasar data catatan BPBD Boyolali, kerusakan paling terparah terjadi di Desa Genengsari. Disana, tersapat  kerusakan mencapai 363 rumah warga. Dua diantaranya roboh, yakni milik Rebin, warga Dukuh Grogol dan rumah Paliman (almarhum), warga Dukuh Salamsari. Kebetulan pemilik rumah baru meninggal 100-an hari lalu.



Kerusakan parah juga menimpa rumah milik Bambang Harnadi, warga Dukuh Genengsari yang ambruk. Rumah bagian gandok rata setelah disapu angin lesus. Kerusakan rumah juga terjadi di Desa Kemusu 10 rusak, 146 rusak sedang dan ringan, Desa Klewor rusak sedang 12 rumah dan ringan 79 rumah, Desa Kedungmulyo 90 rumah rusak ringan, dan Desa Sarimulyo 16 rusak sedang, serta 35 rusak ringan.  
Rumah yang porak poranda diterjang angin puting beliung.  (ilustrasi)
Selain rumah roboh, kebanyakan rumah mengalami rusak sedang akibat tertimpa pohon tumbang. Sedang ratusan lain mengalami kerusakan, terutama bagian atap yang kabur diterpa angin kencang. Beberapa sekolahan juga mengalami rusak. Kerusakan bangunan sekolah paling parah menimpa MTs Muhammadiyah Genengsari, yang porak-poranda bagian genteng.



Hingga Sabtu (11/1) malam, aliran listrik PLN juga belum menyala di tiga desa, yakni Genengsari, Kemusu, dan Kedungmulyo. Sejak pagi warga bergotong-royong membenahi rumah mereka yang rusak. Sedangkan petugas, baik dari Koramil, Polsek, Tim SAR, BPBD Kabupaten Boyolali, ikut turun tangan memangkas pohon-pohon yang tumbang dengan gergaji mesin.


Saat puting beliung dan hujan es, membuat warga bingung. Ingin keluar rumah takut tertimpa butiran es dan dingin. Sementara, jika bertahan dalam rumah takut roboh. Kondisi saat itu, kata Jumadi, terjadi kepanikan luar biasa. Belum lagi, dalam kondisi malam semakin gelap, karena listrik padam. Yang ada hanya suara gemuruh, suara keras butiran es yang jatuh, dan atas rumah berterbangan.

Rusak 750 Rumah di Boyolali


Bencana puting beliung (lesus) dan hujan es melanda lereng Gunung Merapi wilayah Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali. Berdasar cacatan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat menyebutkan, sedikitnya 750 rumah rusak akibat bencana alam tersebut.

Kerusakan rumah paling banyak terjadi di lima desa. Kebanyakan mengalami rusak ringan. Dua rumah diantaranya roboh rata dengan tanah, satu rusak berat. Tak ada korban jiwa akibat bencana yang terjadi sejak Jum'at (10/1) sore.

Berdasar data catatan BPBD Boyolali, kerusakan paling terparah terjadi di Desa Genengsari. Disana, tersapat  kerusakan mencapai 363 rumah warga. Dua diantaranya roboh, yakni milik Rebin, warga Dukuh Grogol dan rumah Paliman (almarhum), warga Dukuh Salamsari. Kebetulan pemilik rumah baru meninggal 100-an hari lalu.

Kerusakan parah juga menimpa rumah milik Bambang Harnadi, warga Dukuh Genengsari yang ambruk. Rumah bagian gandok rata setelah disapu angin lesus. Kerusakan rumah juga terjadi di Desa Kemusu 10 rusak, 146 rusak sedang dan ringan, Desa Klewor rusak sedang 12 rumah dan ringan 79 rumah, Desa Kedungmulyo 90 rumah rusak ringan, dan Desa Sarimulyo 16 rusak sedang, serta 35 rusak ringan.  
Rumah yang porak poranda diterjang angin puting beliung.  (ilustrasi)
Selain rumah roboh, kebanyakan rumah mengalami rusak sedang akibat tertimpa pohon tumbang. Sedang ratusan lain mengalami kerusakan, terutama bagian atap yang kabur diterpa angin kencang. Beberapa sekolahan juga mengalami rusak. Kerusakan bangunan sekolah paling parah menimpa MTs Muhammadiyah Genengsari, yang porak-poranda bagian genteng.

Hingga Sabtu (11/1) malam, aliran listrik PLN juga belum menyala di tiga desa, yakni Genengsari, Kemusu, dan Kedungmulyo. Sejak pagi warga bergotong-royong membenahi rumah mereka yang rusak. Sedangkan petugas, baik dari Koramil, Polsek, Tim SAR, BPBD Kabupaten Boyolali, ikut turun tangan memangkas pohon-pohon yang tumbang dengan gergaji mesin.


Saat puting beliung dan hujan es, membuat warga bingung. Ingin keluar rumah takut tertimpa butiran es dan dingin. Sementara, jika bertahan dalam rumah takut roboh. Kondisi saat itu, kata Jumadi, terjadi kepanikan luar biasa. Belum lagi, dalam kondisi malam semakin gelap, karena listrik padam. Yang ada hanya suara gemuruh, suara keras butiran es yang jatuh, dan atas rumah berterbangan.

Selasa, 07 Januari 2014

Dua Jalur Pendakian di Boyolali Berbeda nasib, Merbabu Membludak Merapi Turun

Boyolali — Gunung Merapi Merbabu masih menjadi lokasi pilihan bagi masyarakat untuk merayakan pergantian tahun baru. Meski kondisi Merapi sulit diprediksi, namun ratusan pendaki tetap nekat melakukan pendakian. Setidaknya tercatat 250an pendaki yang nekat ke Puncak Merapi. Meski jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun kemarin.
dok.timlo.net/nanin
Kondisi berbeda terjadi di Gunung Merbabu, setidaknya tercatat 700 orang memilih menghabiskan pergantian tahun di Merbabu. Jumlah ini melonjak tajam dibandingkan tahun kemarin. Bahkan, sejumlah pendaki terpaksa kecewa dan turun lantaran jalur pendakian sudah overload. Banyak pendaki yang terpaksa hanya bisa berdiam diri di posko saja.
”Katanya, jalur pendakian ke Merbabu sudah penuh pendaki, sehingga kami tidak boleh naik,” ungkap Agus, 21, seorang pendaki asal Malang yang gagal melanjutkan perjalanan ke Puncak Merbabu, Rabu (1/1).

Penjaga posko pendakian Merbabu, Subari, mengatakan, pembatasan jumlah pendaki memang dibatasi. Yakni maksimal hanya 500 orang saja. Padalah dari dua posko pendakian merbabu, total tercatat 760-an pendaki.
”Ini himbauan dari SAR dan TNGMb. Apalagi saat musim hujan seperti ini,” imbuhnya
SementarakKoordinator Pokso Barameru Pendakian Merapi, Syamsuri mengatakan, para pendaki sudah mulai berdatangan sejak Selasa (31/12) pagi. Tetapi, jumlah pendaki mulai padat mulai sore hari.
”Pendaki terus berdatangan hingga tengah malam,” kata dia saat ditemui di posko yang berada di Dusun Plalangan Desa Lencoh Kecamatan Selo ini, kemarin (1/1).
Pihaknya mencatat, jumlah pendaki yang naik ke Merapi sebanyak 250-an. Padahal tahun sebelumnya jumlah pendaki mencapai 700-an orang. Bahkan selama liburan panjang ini, jumlah pendaki hanya 500-an orang saja. Merosotnya jumlah pendaki ini diduga lantaran cuaca di Merapi yang tidak bersahabat. Intensitas hujan yang tinggi, membuat jalur pendakian licin. Selain itu, dikawasan puncak sering terjadai badai, dan kabut tebal.
“Kami selalu mengimbau kepada pendaki agar waspada dan hati-hati. Kami bahkan juga melarang pendaki agar tidak nekat ke puncak. Hanya cukup sampai pasar bubar saja,” tandasnya.
Salah seorang pendaki asal Semarang, Amin, 20, mengakui, pendakian malam tahun baru kali ini hanya sampai ke pasar bubar saja. Sebab, di kawasan tersebut sering terjadi angin kencang, bahkan badai. Dia bersama tiga orang temannya hanya mendaki sampai Pasar Bubar saja.
“Kita hanya sampai Pasar Bubar, sepanjang jalan gerimis dank abut tebal disertai angin kencang, banyak yang berani naik ke Puncak memilih balik kanan,” tandasnya.

Boyolali Dapat Jatah Bagi Hasil Cukai Tembakau Rp 7,2 Miliar


Ilustrasi Panen Tembakau (Dok/JIBI/Solopos)

Solopos.com, BOYOLALI — Boyolali mendapatkan kucuran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp7,2 Milyar dari Kementrian Keuangan RI, tahun anggaran 2013. Alokasi ini merupakan yang kali keenam diterima Boyolali sejak 2008.
Kepala Bagian (Kabbag) Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Boyolali, Dirham, menegaskan dana DBHCHT  dari Kementerian Keuangan itu diberikan kepada 13 kecamatan di Kabupaten Boyolali. Tiga belas kecamatan penerima  dana  DBHCHT di antaranya Kecamatan Selo, Cepogo, Boyolali, Banyudono, Nogosari, Musuk , Sawit, Kemusu, Juwangi, Mojosongo, Teras, Boyolali dan Kecamatan Ampel.
Dirham juga menegaskan, penerima DBHCHT  harus menerima utuh. Bahkan, tidak ada honor kegiatan yang diambilkan dari dana ini. “Misalnya di Kecamatan Banyudono menerima Rp200 juta ya diterima  utuh Rp200 juta  jadi tidak boleh kurang,“ tegas Dirham, kepadaSolopos.com, Senin (30/12/2013).

Menurut Dirham, besaran dana DBHCHT untuk masing–masing kecamatan besarnya bervariasi tergantung luasan lahan dan produksi tembakau. “Tentu kecamatan yang luasan tanaman tembakaunya lebih luas mendapatkan dana DBHCHT lebih besar, begitu pula sebaliknya wilayah kecamatan yang lahanya tembakau sempit  mendapatkan kucuran dana kecil “ tegas Dirham.
Dia juga menjelaskan, dana  yang diterima masing–masing kecamatan itu dipergunakan untuk  pemberdayaan dan peningkatan sarana petani tembakau di Boyolali. Dana yang diterima setiap kecamatan, lanjut Dirham,  dipergunakan untuk  pembangunan sarana jalan usaha tani, perbaikan sarana irigasi serta pemberdayaan petani dengan dilakukan pelatihan budidaya tambahan  seperti  tata cara penananan sayuran yang baik. Selain untuk  kecamatan penghasil tembakau,  dana DBHCHT disalurkan melalui  Dinas Pertanian , Dinas Kesehatan , dan Dinas Koperasi dan UMKN.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Boyolali, Bambang Purwadi, menegaskan dana yang diterima di Distanhutbun dipergunakan untuk pemberdayaan dan pembelian sarana produksi tembakau. “Dana yang diterima dipergunakan untuk pembelian alat sarana produksi tembakau seperti handspray, pupuk, bibit tanaman, kopi, cengkeh dan lain sebagainya,” tegas Bambang.
Alat–alat dan tanaman tersebut selanjutnya diberikan kepada kelompok tani tembakau  di wilayah kecamatan penghasil tembakau di Kabupaten Boyolali. Dengan dana tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani tembakau di Kota Susu.

4 Kasus Korupsi di Boyolali merugikan negara Rp 664 Juta selama 2013

Solopos.com, SEMARANG — Komite Penyelidilan Pemberantasan Korupsi Kolusi, dan Nepotisme (KP2KKN) Jateng menyebutkan selama 2013 terjadi 222 kasus korupsi. ”Dengan total kerugian keuangan negara senilai Rp110,94 miliar,” kata Sekretaris KP2KKN Jateng, Eko Haryanto dalam jumpa pers di kantornya, Jl. Lempong Sari Timur III/22 Kota Semarang, Senin (6/1/2014).

Kasus korupsi di Jateng pada 2013, lanjut dia, berdasarkan monitoringdari kliping media masa, data dari institusi penegak hukum, laporan masyarakat, dan sumber informasi lain yang dihimpun KP2KKN Jateng, mengalami peningkatkan dibandingkan tahun lalu. Pada 2012 tercatat sebanyak 215 kasus korupsi di Jateng sehingga selama 2013 terjadi peningkatan tujuh kasus. Kondisi ini sangat memprihatinkan.
”Kasus korupsi di Jateng bukannya turun, sebaliknya malah meningkat. Ini sangat memprihatinkan,” tandas Eko didampingi mantan Koordinator KP2KKN, Dwi Saputro.

Dari 222 kasus korupsi itu, kata Eko melibatkan sebanyak 285 orang pelaku atau koruptor mulai dari mahasiswa, rektor, kepala desa, anggota DPRD, pegawai negeri sipil (PNS), polri, hakim, dan kepala daerah. Kasus korupsi paling banyak didominasi PNS sebanyak 121 orang, disusul anggota DPRD (47 orang), kemudian wiraswasta (40 orang), kepala desa (24 orang), Badan Usaha Milik Negera (BUMN)/Badan Usaha Milik Daerah (BMUD) 20 orang.

Selain itu, kasus juga melibatkan direktur dan kepala daerah masing-masing 11 orang, hakim (empat orang), polri dan anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) masing-masing dua, serta perangkat desa, rektor, dan mahasiswa masing-masing satu orang. ”Modus korupsi kebanyakan penyalahgunaan wewenang, kemudian pengadaan barang dan jasa, kegiatan fiktif, serta suap,” ungkapnya.

Berdasarkan data KP2KKN Jateng, peringkat pertama korupsi yakni Kota Semarang sebanyak 16 kasus dengan nilai kerugian Rp21,63 miliar, disusul Kebupaten Demak sebanyak 12 kasus dengan nilai kerugian Rp20,63 miliar. Kota Salatiga sebanyak delapan kasus dengan kerugian Rp15,67 miliar, Kabupaten Semarang sebanyak 10 kasus dengan nilai kerugian Rp15 miliar, Rembang sebanyak sembilan kasus dengan nilai kerugian Rp14 miliar, dan Wonosobo sebanyak sembilan kasus dengan nilai kerugian Rp1,1 miliar.

Sedang untuk wilayah Surakarta, di Solo sebanyak delapan kasus dengan nilai kerugian Rp1,754 miliar, Klaten sebanyak kasus, nilai kerugian Rp1,1 miliar, Boyolali sebanyak empat kasus, nilai kerugian Rp664 juta, Sukoharjo sebanyak empat kasus, nilai kerugian Rp277 juta, Wonogiri sebanyak tiga kasus, nilai kerugian Rp4,259 miliar, Karanganyar sebanyak tiga kasus, nilai kerugian Rp799 juta, dan Sragen sebanyak tiga kasus, nilai kerugian Rp11,3 miliar.

”Kita berharap pada 2014 aparat penegak hukum lebih serius memberantas korupsi, sehingga kasus korupsi di Jateng turun,” harap Eko.

Jadi Caleg PPP, Angel Lelga buat kebun percontohan di Boyolali


Angel Lelga [kompas][SOLO] Penyanyi sekaligus pemain film Angel Lelga (29) Calon Anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan) untuk Dapil Jawa Tengah V (Kabupaten Boyolali, Klaten, Sukoharjo dan Solo) mulai "blusukan", ke pasar-pasar tradisional di daerah pemilihannya tersebut.

"Saya akan lakukan terus blusukan ke pasar tradisional ini untuk memperkenalkan diri dan mendekatkan dengan masyarakat serta sekaligus mempromosikan apa-apa yang dijual di pasar tersebut," kata Angel Lelga di sela-sela kunjungannya ke Pasar Gedhe Solo, Selasa.

Ia mengatakan kunjungannya ke pasar-pasar tradisional ini juga untuk menyerap aspirasi masyarakat, yang selama ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

"Temen-temen semua bisa melihat di pasar ini dipenuhi buah-buhan dari luar negeri, padahal buah-buhan dari dalam negeri sebenarnya juga tidak kalah. Hal seperti ini harus dipikirkan agar saudara-saudara petani kita juga bisa menikmati hasil pertaniannya yang lebih baik," katanya.

Angel mengatakan sebagai pemimpin semestinya tidak hanya pandai berpidato saja, tetapi juga harus merealisasikan turun ke bawah sehingga bisa melihat rakyatnya secara nyata.

Ia mengatakan bahwa dirinya membuat kebun percontohan untuk petani di daerah Boyolali. "Saya ada tanah beberapa hektar di Boyolali dan sekarang saya jadikan kebun percontohan untuk tanaman sayur-sayuran, ya ada tanaman cabe, tomat dan lain-lain," katanya.

"Saya tidak janji apabila nanti rakyat memberikan kepercayaan kepada saya untuk duduk menjadi anggota DPR RI akan rajin menyambangi rakyat di daerah-daerah. Silakan ditagih nanti apa bila saya tidak datang," katanya.

Angel dalam kunjungannya ke Pasar Gedhe Solo sempat mendapat perhatian banyak para ibu-ibu dan bahkan juga berfoto bersama. Penyanyi dan pemain film tersebut juga sempat membeli makanan Renjongan (makanan khas dari tiwul dan ketan).

Angel dalam kunjungannya ke Pasar Gedhe juga memberikan bantuan smbako kepada kuli gendong pasar tersebut Bah Tjitro (70), sebagai tanda kasih.

Bah Tjitro mengatakan bahwa dirinya menjual jasa menjadi kuli gendong sudah puluhan tahun dan sampai sekarang. "Ya saya berterima kasih diberikan bantuan sembako ini".

Anggel bersama dari Hotel Lorin sebelum berkunjung ke Pasar Gedhe terlebih dulu memberikan bantuan peralatan untuk Posyandu di Kampung Soropadan RW 8 Karangasem, Solo.

LSM dikeroyok massa beratribut PDIP usai demo di DPRD Boyolali

Merdeka.com - Sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) Barisan Merah Putih, Boyolali dihajar massa beratribut sebuah partai. Kejadian tersebut terjadi usai menyampaikan aspirasi di gedung dewan setempat.
LSM dikeroyok massa beratribut PDIP usai demo di DPRD BoyolaliInformasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, aktivis LSM yang berjumlah sekitar 5 orang, tiba-tiba mendapatkan pukulan dari puluhan orang yang memakai baju merah dan atribut partai. Pengeroyokan tersebut terjadi di luar ruangan Wakil Ketua DPRD Boyolali, Fuadi.

Kepada wartawan Fuadi menceritakan kronologi kejadian. Menurutnya, sekitar pukul 11.30 WIB, ada 5 orang aktivis Barisan Merah Putih Pengging yang datang ke ruangannya. Mereka bermaksud menitipkan bingkisan dan wayang untuk ketua dewan.


"Mereka titip bingkisan berupa tokoh wayang Sengkuni untuk Ketua DPRD Boyolali. Karena Ketua DPRD, Pak Paryanto tidak ada di tempat, maka dititipkan ke saya, ujarnya.

Fuadi menjelaskan, usai menitipkan bingkisan kelima anggota LSM pamit pulang. Namun saat di luar 5 orang tersebut dicegat puluhan orang yang memakai baju merah. Mereka kata Fuadi, langsung dikeroyok.

Dihubungi terpisah, aktivis Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) Boyolali, Alif Basuki membenarkan adanya pengeroyokan tersebut. Menurutnya, puluhan massa berpakaian merah tersebut memakai atribut PDIP .

"Saya menduga para pengeroyok sudah disiapkan. Biasanya tidak ada kader PDIP di gedung Dewan. Mereka sudah tahu kami mau datang, puluhan kader PDIP itu juga sudah menunggu," paparnya.

Lebih lanjut Alif mengatakan, pengeroyokan yang dilakukan tersebut lantaran para aktivis akan menanyakan tindakan dewan, sehubungan kasus rekaman pidato Bupati Boyolali Seno Samudro beberapa waktu lalu. Saat berbicara di peringatan hari ulang tahun Korpri pada 4 Desember lalu, bupati mengajak para pegawai negeri sipil (PNS) untuk memanfaatkan APBD untuk kepentingan pribadi.

Menurut Alif DPRD Boyolali hingga saat ini tidak bereaksi atas munculnya rekaman tersebut.

"Kami ke DPRD akan menghadiahkan daster kepada pimpinan Dewan. Kami menganggap mereka mandul dan seperti perempuan," tegasnya.

Sementara itu Ketua DPRD Boyolali yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDIP Boyolali Paryanto belum bisa dikonfirmasi terkait pengeroyokan tersebut.

merdeka

Profil Tri Wahyuni, S.Si Caleg Dapil I (Mojosongo, Ampel, Teras dan Boyolali) DPRD Kabupaten Boyolali

Awal bulan September masyarakat di Kecamatan Teras, Kecamatan Boyolali, kecamatan mojosongo dan Kecamatan Ampel dikejutkan dengan adanya banner yang terpasang merata di ke-4 Kecamatan Tersebut.

Dalam banner tersebut tersemat kata mohon Do’a restu Wakile Cah Enom Beserta Logo Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nomor 3 dan Foto pemudi berbaju ungu fanta sambil menempelkan kedua tangannya seraya minta restu. No urut 3 Tri Wahyuni namanya dan tertulis caleg DPRD Kabupaten Boyolali Dapil I (Boyolali, Mojosongo, Teras dan Ampel).
Dibanner  yang lain yang berbeda tertulis pilih no 3 !!! Mba Tri Wae dengan foto cewek yang sama dengan tangan kanan seraya menunjukkan angka 3.
Mau Tau Siapa sih Mba Tri atau yang dikenal teman-temannya sebagai TWMba TW ini terlahir pada tanggal 8 Oktober 1986 ini, Sewaktu kecil belajar di SD Negeri 8 Boyolali (1992-1998) dan SMP Negeri 2 Boyolali (1998-2001), Setelah Lulusan SMA Negeri 1 boyolali (2001-2004) kemudian melanjutkan studinya di Univesitas Negeri Surakarta (UNS) Fakultas MIPA Jurusan Kimia (2004-2009)

Sekarang selain mengajar di SMP IT Al Hikmah Karanggede, Mb TW juga menjadi Tentor (Pengajar) dibimbingan Belajar Ganesha Operation (GO) yang berada dijalan Kates. Aktivitas beliau selain bekerja adalah sebagai salah satu pengurus dan penggerak di Lembaga Peduli Remaja (LPR) Sohib Center, staf dibidang Kerwirausahaan. Mb TW juga aktif dalam membina TWM (Tunas Wirausaha Muda)  yang baru berdiri pada tahun 2012 dan telah membina pelajar di TWM ini hampir mencapai 40 orang.
Mb TW berani Maju menjadi caleg lewat PKS dikarenakan adanya dorongan dari teman-temannya untuk mewakili pemuda dalam kancah pemilihan legislatif tahun 2014 nanti. Selain itu mb TW juga punya keyakinan dirinya mampu bersaing dengan calon-calon lainnya mengingat kontribusi yang telah dikerjakan. Kontribusinya memang masih sedikit dibandingkan dengan orang-orang yang lebih tua, akan tetapi dibandingkan dengan orang-orang yang seumuran kontribusinya tidak kalah jauh. Melalui arena pemilihan anggota legislatif tahun ini diharapkan jika kelak terpilih maka akan meningkatkan kontribusi serta mengajak peran serta para pemuda dan pemudi agar lebih berkontribus lagi baik dibidang pendidikan, kewirausahaan maupun keperempuanan.

Jangan Lupa Pilih partai No 3 PKS No caleg 3 Tri Wahyuni di Pemilihan Legislatif tanggal 9 April 2014. !!!!.
Pers Release Timses Mba Tri

Profil Tri Wahyuni, S.Si Caleg Dapil I (Mojosongo, Ampel, Teras dan Boyolali) DPRD Kabupaten Boyolali

Awal bulan September masyarakat di Kecamatan Teras, Kecamatan Boyolali, kecamatan mojosongo dan Kecamatan Ampel dikejutkan dengan adanya banner yang terpasang merata di ke-4 Kecamatan Tersebut.

Dalam banner tersebut tersemat kata mohon Do’a restu Wakile Cah Enom Beserta Logo Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nomor 3 dan Foto pemudi berbaju ungu fanta sambil menempelkan kedua tangannya seraya minta restu. No urut 3 Tri Wahyuni namanya dan tertulis caleg DPRD Kabupaten Boyolali Dapil I (Boyolali, Mojosongo, Teras dan Ampel).
Dibanner  yang lain yang berbeda tertulis pilih no 3 !!! Mba Tri Wae dengan foto cewek yang sama dengan tangan kanan seraya menunjukkan angka 3.
Mau Tau Siapa sih Mba Tri atau yang dikenal teman-temannya sebagai TWMba TW ini terlahir pada tanggal 8 Oktober 1986 ini, Sewaktu kecil belajar di SD Negeri 8 Boyolali (1992-1998) dan SMP Negeri 2 Boyolali (1998-2001), Setelah Lulusan SMA Negeri 1 boyolali (2001-2004) kemudian melanjutkan studinya di Univesitas Negeri Surakarta (UNS) Fakultas MIPA Jurusan Kimia (2004-2009)

Sekarang selain mengajar di SMP IT Al Hikmah Karanggede, Mb TW juga menjadi Tentor (Pengajar) dibimbingan Belajar Ganesha Operation (GO) yang berada dijalan Kates. Aktivitas beliau selain bekerja adalah sebagai salah satu pengurus dan penggerak di Lembaga Peduli Remaja (LPR) Sohib Center, staf dibidang Kerwirausahaan. Mb TW juga aktif dalam membina TWM (Tunas Wirausaha Muda)  yang baru berdiri pada tahun 2012 dan telah membina pelajar di TWM ini hampir mencapai 40 orang.
Mb TW berani Maju menjadi caleg lewat PKS dikarenakan adanya dorongan dari teman-temannya untuk mewakili pemuda dalam kancah pemilihan legislatif tahun 2014 nanti. Selain itu mb TW juga punya keyakinan dirinya mampu bersaing dengan calon-calon lainnya mengingat kontribusi yang telah dikerjakan. Kontribusinya memang masih sedikit dibandingkan dengan orang-orang yang lebih tua, akan tetapi dibandingkan dengan orang-orang yang seumuran kontribusinya tidak kalah jauh. Melalui arena pemilihan anggota legislatif tahun ini diharapkan jika kelak terpilih maka akan meningkatkan kontribusi serta mengajak peran serta para pemuda dan pemudi agar lebih berkontribus lagi baik dibidang pendidikan, kewirausahaan maupun keperempuanan.

Jangan Lupa Pilih partai No 3 PKS No caleg 3 Tri Wahyuni di Pemilihan Legislatif tanggal 9 April 2014. !!!!.
Pers Release Timses Mba Tri

Di Boyolali Limbah Tahu dan Kotoran Sapi Jadi Elpiji


 Mengaduk kotoran sapi untuk dijadikan biogas

VIVAnews - Kenaikan harga elpiji 12 kilogram ditambah kelangkaan gas subsidi ukuran 3 kilogram, sudah membuat warga resah. Tapi kondisi tidak dirasakan warga di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, yang sejak setahun terakhir memanfaatkan biogas dari kotoran sapi untuk keperluan memaksa sehari-hari.

Dengan memanfaatkan kotoran ternak, lebih dari 10 kepala keluarga di dusun Karangbangi Kulon, Desa Ngeposari, Samanu, Gunungkidul, tidak lagi dipusingkan dengan kenikan harga elpiji. 
Warga juga tidak terpengaruh dengan kekosongan stok elpiji ukuran 3 kilogram yang juga langka di pasaran. Kotoran sapi yang setiap hari tersedi di kandang tinggal dimasukan ke bak penampungan untuk dapat menghasilkan biogas. 

Menggunakan pipa, biogas yang dihasilkan dari kotoran ternak itu disalurkan ke dapur yang akan digunakan untuk berbagai keperluan memasak. Menurut Agus Sutikno, sejak menggunakan biogas, warga sudah tidak lagi dipusingkan dengan kelangkaan elipiji. 


"Pasokan kotoran ternak melimpah dan mencukupi untuk kebutuhan memasak warga. Api cukup besar dan tidak mempengaruhi hasil masakan," katanya. 

Berbeda dengan warga Gunungkidul yang memanfatkan kotoran sapi sebagai biogas. Warga di Kecamatan Ngemplak Boyolali, Jawa Tengah, justru memanfaatkan limbah ampas tahu sebagai bahan bakar alternatif pengganti elpiji.

Sudah lebih dari lima tahun, warga yang kebanyakan berprofesi sebagai perajin tahu sudah menggunakan energi alternatif dengan memanfaatkan limbah tahu. Limbah asam cuka dari tahu yang biasanya dianggap menimbulkan polusi, mereka olah menjadi sumber energi berbentuk biogas.

Proses produksinya tidaklah sulit. Limbah asam cuka dialirkan ke bak penampungan di bawah tanah. Asam cuka kumudian dialirkan lagi ke bak kedua untuk memanfaatkan uap yang muncul dan menyemburkan bakteri yang menjadi unsur utama biogas. 

Limbah itu kemudian dialirkan ke penyaring sebelum dibuang ke sungai. Sementara biogas yang dihasilan dialirkan melalui pipa paralon ke dapur rumah warga.

"Biogas dari ampas tahu menghasilkan api yang lebih biru," kata ibu rumah tangga bernama Trilia Puspita Sari.

Puspita merasa sangat terbantu dengan biogas dari ampas tahu. Masakah yang diolah tidak mengalami perubahan dan tentu tanpa harus mengeluarkan biaya.

"Setiap hari ada 1.000 liter limbah asam cuka. Dari jumlah itu kita dapat 90 kilogram biogas. Ini cukup untuk memasak lebih dari satu bulan," katanya.

vivanews

6 ABG Diduga Pesta Seks dan Mabuk-mabukan, Satu Orang Ditahan


ilustrasi (istimewa)

Solopos.com, BOYOLALI–Enam anak baru gede (ABG) digerebek warga bersama aparat berwajib di sebuah gubuk di area persawahan Desa Dlingo, Kecamatan Mojosongo, Sabtu (28/12/2013) lalu, lantaran diduga tengah melakukan pesta seks dan minuman keras (miras).
Satu orang di antaranya, AD, 15, warga Desa Kradenan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, akhirnya ditahan polisi, karena saat penggerebekan tersebut telah melakukan perbuatan mesum terhadap korban, Bunga (bukan nama sebenarnya), 13. Sedangkan Bunga dan empat ABG lainnya akhirnya tidak ditahan karena dinyatakan tidak memenuhi unsur pidana.
Kapolres Boyolali, AKBP Budi Haryanto, melalui Kasatreskrim, AKP Parwanto, mengemukakan penggerebekan terhadap sejumlah remaja tanggung itu bermula dari laporan warga yang resah dengan aksi mabuk-mabukan yang dilakukan mereka di rumah RP, di Dukuh Gunungsari, Desa Dlingo. Mereka juga diduga kuat melakukan perbuatan mesum.

Berdasarkan pengakuan tersangka, lanjut dia, aksi mabuk-mabukan yang dilanjutkan dengan perbuatan mesum itu bermula saat korban, Bunga yang juga warga Kaliwungu, Semarang, bersama dua teman perempuannya, SL, 14, dan AS, 14, berjalan-jalan di sekitar persawahan Dukuh Bekuning, Desa Dlingo. Mereka kemudian nongkrong di sebuah gubuk di tengah sawah tersebut hingga malam.
Kemudian sekitar pukul 20.00 WIB, datanglah tersangka yang juga merupakan pacar korban bersama dua temannya, RP, 15, dan JK, 15, ke gubuk tersebut. Sekitar pukul 21.00 WIB, mereka kemudian berpindah tempat ke rumah RP.
Di rumah RP tersebut, tersangka dan dua temannya kemudian melakukan pesta minuman keras (miras) jenis ciu. Dalam kondisi setengah mabuk tersebut, tersangka lantas mengajak korban berhubungan intim hingga dua kali.
“Para ABG tersebut digerebek karena warga curiga mereka berbuat mesum. Tetapi hanya satu orang yang kami tetapkan sebagai tersangka, lainnya tidak memenuhi unsur pidana,” terang Kasatreskrim ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (6/1/2014).
Selain itu, penetapan status tersangka terhadap AD juga berdasarkan laporan keluarga korban yang tidak terima dengan perbuatan tersangka.
Terhadap tersangka, polisi menjerat dengan Pasal 81 Undang-undang (UU) No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun dan denda minimal Rp60 juta.